Cari Blog Ini

Senin, 20 Juni 2016

Ode buat God Bless


44 tahun bukanlah pula perkara gampang  bagi God Bless untuk tetap tegak dan bisa tetap eksis dengan 20 kali gonta-ganti bongkar-pasang personil pemain.
Bahkan beberapa kali sempat mengalami kevakuman dalam rentang waktu cukup panjang sampai tahunan.
44 tahun bukanlah perkara gampang bagi God Bless untuk tetap menjaga idealisme, komitmen, konsistensi, spirit visi bermusiknya dalam mengangkat tema humanisme dalam lirik lagunya.
Bahkan boleh dibilang bahwa God Bless adalah satu-satunya grup band rock Indonesia dalam visi bermusiknya yang memiliki komitmen dan konsistensi dalam mengangkat tema humanisme yang menghias di setiap albumnya.

Bahkan banyak di antara lagu-lagu bertemakan humanisme atau kritik sosial yang disuarakan God Bless masih konstektual dengan realitas sosial persoalan yang melanda dan yang sedang kita hadapi di hari ini.
Semoga, atau setidaknya dari grup band rock bernama God Bless kita diperkenalkan pada sebuah penghayatan makna musik. Tinggal bagaimana masing-masing dari kita memaknainya.
Karena bukan tidak mungkin daripadanya mengajarkan banyak hal kepada kita. Termasuk bagaimana terus menghidupkan spirit rock di tengah dinamika kehidupan dalam menandai perkembangan zaman. Karena sejatinya hidup dan kehidupan itu adalah realita, bukan “Panggung Sandiwara.” 
Dan, semua pencapaian itu dilalui God Bless dengan segala suka-dukanya yang kemudian menjadikannya bukan saja sebagai grup band rock legendaris berumur panjang, juga menjadikannya sebagai ikon rock Indonesia. 
Sebagai apresiasi atas pencapaian semua itu, saya mengakhiri catatan pendek dengan “Ode buat God Bless”;     
       

Tapak demi tapak telah kau lalui
Nada demi nada telah kau mainkan
Arungi gelombang kehidupan
Biarlah jemari-jemari itu terdengar
terus menari
Mengalunkan nada-nada gelora jiwa
Biarlah bait-bait itu terus merontah
suarakan gelisah jiwa
Untuk menghibur hati di kala rindu
dalam suka duka
Biarlah jiwa-jiwa terus berlari menembus cakrawala
Menggapai mimpi
Biarlah jiwa-jiwa terus berlari
Meraih segala kerinduan dan harapan terpendam
Biarlah,
Biarkanlah entah sampai kapan
Batas perjalanan ini berakhir menuju keabadian

Tidak ada komentar:

Posting Komentar