Cari Blog Ini

Kamis, 23 Juni 2016

WR Supratman, Sumpah Pemuda, dan Indonesia Raya (2)

WR Supratman

Siapa sangka Indonesia Raya yang saat itu dimainkan hanya dengan instrumentalis gesekan biola tanpa disertai lirik dan vokal, resonansi nada-nada lagu tersebut mampu menggetar jiwa dan membangkitkan semangat rasa kebangsaan. Bahkan bisa jadi saat itu sang komponis tidak membayangkan bahwa lagu ciptaannya, Indonesia Raya di kemudian hari menjadi lagu kebangsaan, lagu pemersatu bangsa Indonesia.

Di sini mencatat bahwa sejarah perjuangan bangsa ini juga tidak bisa dilepaskan dari peran seniman musik yang telah ikut andil menyumbangkan karya-karyanya yang dipersembahkan sebagai ungkapan rasa kebangsaan, kecintaan kepada tanah air. Spirit ini yang harus kita jaga hingga kini, dan kapanpun.
Kehadiran musik memberi peran dan pengaruh cukup kuat dalam kehidupan manusia, masyarakat dan bangsa. Bahkan musik berfungsi sebagai medium yang bisa menjadi media perjuangan. Musik sebagai ekspresi jiwa, menjadi bagian tak terpisahkan dari ruang kesadaran penciptanya akan nilai-nilai kehidupan dan realitas sosial kondisi masyarakatnya. Sebagaimana dicontohkan lagu Indonesia Raya yang mampu membangkitkan semangat dan membangun kesadaran rakyat Indonesia bahwa di depan kita ada bangsa, ada negara, dan ada kedaulatan yang harus direbut, digenggam dan dipertahankan.
Lagu, pada dasarnya tak ubahnya seperti bahasa, suatu artikulasi bunyi yang bermakna lebih dari sekadar instrumentasi bunyi yang didalamnya bisa mengungkapkan pesan-pesan, gagasan-gagasan, harapan-harapan, atau penyataan sikap, sebagaimana terartikulasikan dalam lirik lagu tersebut. Disini menunjukkan kepada kita bahwa musik memiliki peran cukup penting di tengah kehidupan, termasuk dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Justru disini yang kini jadi pertanyaan, masih relevankah spirit ‘Indonesia Raya’ yang terlahir dari peristiwa kebudayaan Sumpah Pemuda untuk saat ini? Lalu, sebegitu pentingkah peran musik terutama dalam memainkan fungsi dan perannya di tengah kehidupan sebagai bagian dari gerak kebudayaan? (Alex Palit) 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar