![]() |
| "Cermin" God Bless (1980) / dok. Alex Palit |
“Cermin” God Bless, Album Rock
Indonesia Terbaik
Di antara keenam
album God Bless, banyak penikmat rock menempatkan album Cermin (1980)
yang saat itu digawangi Achmad Albar (vocal), Ian Antono (gitar), Donny Fattah
(bas), Teddy Sujaya (dram) dan Abadi Soesman (kibor), produksi Jakarta
Center (JC) Record, sebagai mahakarya grup rock legendaris ini, baik
secara musikalitas baik dari sisi aransemen musik, komposisi maupun lirik. Sekaligus
menempatkan sebagai salah satu rekaman album rock Indonesia terbaik. Tak heran
bila album ini kini menjadi salah satu target buruan kolektor kaset. Tapi sayang,
master album Cermin yang kini ada ditangan Log Zhelebour (Logiss
Records). Dan album ini sempat edar di bawah bendera Billboard. Menurut
Log, bahwa pita masternya sudah rusak, sehingga kesulitan untuk di-remastering
lagi. Padahal masih banyak yang mencari dan memburu album ini.
Kembali ke soal musiknya. Dari sisi tematik, salah
satu kekuatan album ini yaitu memiliki kedalaman dalam mengangkat lirik
bermuatan religius. Kiranya tidak berlebihan menempatkan Cermin
sebagai album rock religius yang digarap dalam sentuhan progressive rock.
Bahkan kalau kita dengarkan lagi album yang dirilis 32
tahun silam, tema lirik lagunya masih kontekstual dengan kondisi sosial
persoalan kehidupan berbangsa yang sedang kita hadapi.Musik adalah sebuah media
pewartaan. Jadi, apapun jenis musiknya adalah sah. Memainkan lagu religius tidak harus dengan patron jenis musik tertentu.
Di-rock-kan pun tidak jadi soal, dan tidak tidak perlu dipersoalkan. Tinggal
tergantung selera masing-masing yang memainkan dan yang mendengarkan.
Karena musik itu sendiri adalah bahasa universal
yang memiliki nilai personal. Justru yang
lebih penting bagaimana kandungan lirik lagu religius tersebut membangkitkan
kesadaran berbuat lebih baik sesuai ajaran nilai agama keyakinannya. Tidak
perlu direpotkan mempersoalkan atau memperdebatkan apa jenis musik yang
mainkan. Kebetulan God Bless adalah grup musik beraliran rock, jadi yang mereka
mainkan dalam ungkapan bahasa rock.
Pemahaman musik
religius di sini tidak harus diartikan secara artifisial dikaitkan dengan
lagu-lagu dalam konteks seremoni atau ritual keagamaan, tapi lebih bagaimana
kita memberi pemaknaan religiositas lewat ungkapan bahasa musik. Dalam konteks ini bagaimana pengungkapan dan pemaknaan
tekstual lirik lagu tersebut mampu membangunkan kesadaran kritis dalam menjaga
harmoni kehidupan baik secara vertikal dengan Sang Pencipta maupun hubungan
horisontal antarsesama.
Kata religiositas
itu sendiri lebih sering dipakai dalam konteks berkaitan ketaatan formalitas
seseorang menjalankan ibadah agamanya. Religiositas, ditafsirkan oleh almarhum
Romo Mangunwijaya, penuntunan manusia ke arah segala makna yang baik. Karena
religiositas tidak bekerja dalam pengertian-pengertian (otak) tetapi dalam
pengalaman, penghayatan (totalitas diri). Artinya, bahwa manusia tidak perlu
ragu-ragu untuk aktif dan berinisiatif membuat dunia ini lebih baik.[Sastra dan
Religiositas,1982].
Sementara dalam
kehidupan sehari-hari sikap religiositas dicontohkan bukan saja dalam bentuk
ketaqwaan kepada Sang Pencipta, juga bagaimana menjaga harmonisasi hubungan
sosial. Bagaimana
menjaga kerukunan, saling mengasihi, saling menghormati dan menghargai, membina
kesadaran bertoleransi ditengah dinamika perbedaan keyakinan sebagai sebuah
fitrah. Garin Nugroho dalam artikelnya, Menuju Satu Abad Kebangkitan
Indonesia di Kompas, bahwa daya hidup religiositas tidak sekadar
dipenuhi simbol dan dogma yang hanya hidup di masjid, gereja hingga kuil, tapi
realitasnya dipenuhi kecurigaan dan kekerasan fisik maupun simbolik dalam
kehidupan sehari-hari.[Kompas, 19 Mei 2007] Sehingga melahirkan
konflik-konflik yang tidak bisa terhindarkan.Sebagai penganut agama wahyu, kita
mempercayai bahwa Nabi Adam adalah manusia pertama ciptaan Tuhan. Lalu
diciptakan Hawa sebagai pasangan hidup yang kemudian beranak-cucu hingga
generasi kita. Kita adalah satu dari keturunan anak Adam.
Jangan sampai agama
sebagai sumber pembawa pesan damai dan cinta kasih dipelintir dan dimanupulasi
untuk tujuan kepentingan politik. Justru bagaimana mengedepankan agama
pada pendekatan religiositas humanistik, ketimbang formalitas dogmatis.Di sini
peran musisi tak lebih dari sekadar pewarta yang mencoba mengekspresikan
tanda-tanda zaman dalam ungkapan bahasa lagu. Seperti terungkap pada lagu rock
religius bertajuk Anak Adam, ciptaan Donny Fattah, berkisah tentang
konflik kemanusiaan dilatarbelakangi oleh kepentingan ideologis, musiknya
digarap dalam nuansa progressive rock:
Sejauhmana sebuah
karya lagu mampu menandai tanda zaman yang bergerak dalam ruang dan waktu. Semua
dikembalikan lagi pada konteks sosial perjalanan waktu itu sendiri. Seperti
album yang dirilis tahun 1980 menemukan kembali momentum, dan masih kontekstual
dengan realitas sosial persoalan kehidupan berbangsa yang sedang kita hadapi.
Album dirilis 30 tahun silam yang memajang sembilan nomor lagu ini masih
mewakili potret sosial kita hari ini. Beragam peristiwa yang terjadi hari ini
tercermin di album Cermin.
Kemiskinan,
pengangguran, penggusuran, ketidakadilan akibat kepincangan sosial adalah
potret buram wajah ketidakberdayaan golongan masyarakat yang teralienasi secara
struktural adalah potret nyanyian Balada Sejuta Wajah (Ian Antono
& Theodore KS);
Di tengah gemerlap
kehidupan, ketahanan moralitas dan keteguhan keimanan dipertaruhkan menghadapi
godaan yang merangsang hasrat kenikmatan duniawi. Dekadensi moral, hedonisme menjadi candu gaya kehidupan metropolis, itu
diungkapkan lewat pesan lagu Ingat, Insan Sesat dan Cermin.
Mencuatnya kembali kasus sengketa tanah, seperti terjadi di Alas Tlogo –
Pasuruan, Meruya Selatan – Jakarta Barat, dan lainnya, adalah contoh arogansi
tangan-tangan kekuasaan atau pemilik modal kuat menjadi potret getir lagu Tuan
Tanah.
Berbagai bencana
alam seperti tsunami, gempa bumi, banjir, tanah longsor, letusan gunung berapi,
yang terjadi belakangan ini, termasuk bencana semburan lumpur Lapindo –
Sidoarjo, akankah menyadarkan dan mengingatkan bahwa semua ini adalah isyarat
alam, semiotika alam. Alam mulai enggan dengan ulah
manusia. Kita pun tidak berharap semoga cerita Sodom Gomora seperti
dikisahkan baik di Al Quran maupun Injil, tidak akan terjadi.
Untuk itu, kita pun
perlu merenungkan kembali, apakah bencana yang terjadi sebagai isyarat alam
bagian dari drama tanda-tanda zaman Sodom Gomora di bumi yang semakin
tua, atau kita sudah lupa diri akan kuasa alam semesta, kuasa Sang Khalik? (alex
palit)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar