Cari Blog Ini

Kamis, 20 Desember 2012

“Cermin” God Bless, Album Rock Indonesia Terbaik



"Cermin" God Bless (1980) / dok. Alex Palit
Cermin God Bless, Album Rock Indonesia Terbaik

Di antara keenam album God Bless, banyak penikmat rock menempatkan album Cermin (1980) yang saat itu digawangi Achmad Albar (vocal), Ian Antono (gitar), Donny Fattah (bas), Teddy Sujaya (dram) dan Abadi Soesman (kibor), produksi Jakarta Center (JC) Record,  sebagai mahakarya grup rock legendaris ini, baik secara musikalitas baik dari sisi aransemen musik, komposisi maupun lirik. Sekaligus menempatkan sebagai salah satu rekaman album rock Indonesia terbaik. Tak heran bila album ini kini menjadi salah satu target buruan kolektor kaset. Tapi sayang, master album Cermin yang kini ada ditangan Log Zhelebour (Logiss Records). Dan album ini sempat edar di bawah bendera Billboard. Menurut Log, bahwa pita masternya sudah rusak, sehingga kesulitan untuk di-remastering lagi. Padahal masih banyak yang mencari dan memburu album ini.
Kembali ke soal musiknya. Dari sisi tematik, salah satu kekuatan album ini yaitu memiliki kedalaman dalam mengangkat lirik bermuatan religius. Kiranya tidak berlebihan menempatkan Cermin sebagai album rock religius yang digarap dalam sentuhan progressive rock. Bahkan kalau kita dengarkan lagi album yang dirilis 32 tahun silam, tema lirik lagunya masih kontekstual dengan kondisi sosial persoalan kehidupan berbangsa yang sedang kita hadapi.Musik adalah sebuah media pewartaan. Jadi, apapun jenis musiknya adalah sah. Memainkan lagu religius tidak harus dengan patron jenis musik tertentu. Di-rock-kan pun tidak jadi soal, dan tidak tidak perlu dipersoalkan. Tinggal tergantung selera masing-masing yang memainkan dan yang mendengarkan.
Karena musik itu sendiri adalah bahasa universal yang memiliki nilai personal.  Justru yang lebih penting bagaimana kandungan lirik lagu religius tersebut membangkitkan kesadaran berbuat lebih baik sesuai ajaran nilai agama keyakinannya. Tidak perlu direpotkan mempersoalkan atau memperdebatkan apa jenis musik yang mainkan. Kebetulan God Bless adalah grup musik beraliran rock, jadi yang mereka mainkan dalam ungkapan bahasa rock.
Pemahaman musik religius di sini tidak harus diartikan secara artifisial dikaitkan dengan lagu-lagu dalam konteks seremoni atau ritual keagamaan, tapi lebih bagaimana kita memberi pemaknaan religiositas lewat ungkapan bahasa musik. Dalam konteks ini bagaimana pengungkapan dan pemaknaan tekstual lirik lagu tersebut mampu membangunkan kesadaran kritis dalam menjaga harmoni kehidupan baik secara vertikal dengan Sang Pencipta maupun hubungan horisontal antarsesama.
Kata religiositas itu sendiri lebih sering dipakai dalam konteks berkaitan ketaatan formalitas seseorang menjalankan ibadah agamanya. Religiositas, ditafsirkan oleh almarhum Romo Mangunwijaya, penuntunan manusia ke arah segala makna yang baik. Karena religiositas tidak bekerja dalam pengertian-pengertian (otak) tetapi dalam pengalaman, penghayatan (totalitas diri). Artinya, bahwa manusia tidak perlu ragu-ragu untuk aktif dan berinisiatif membuat dunia ini lebih baik.[Sastra dan Religiositas,1982].
Sementara dalam kehidupan sehari-hari sikap religiositas dicontohkan bukan saja dalam bentuk ketaqwaan kepada Sang Pencipta, juga bagaimana menjaga harmonisasi hubungan sosial. Bagaimana menjaga kerukunan, saling mengasihi, saling menghormati dan menghargai, membina kesadaran bertoleransi ditengah dinamika perbedaan keyakinan sebagai sebuah fitrah. Garin Nugroho dalam artikelnya, Menuju Satu Abad Kebangkitan Indonesia di Kompas, bahwa daya hidup religiositas tidak sekadar dipenuhi simbol dan dogma yang hanya hidup di masjid, gereja hingga kuil, tapi realitasnya dipenuhi kecurigaan dan kekerasan fisik maupun simbolik dalam kehidupan sehari-hari.[Kompas, 19 Mei 2007] Sehingga melahirkan konflik-konflik yang tidak bisa terhindarkan.Sebagai penganut agama wahyu, kita mempercayai bahwa Nabi Adam adalah manusia pertama ciptaan Tuhan. Lalu diciptakan Hawa sebagai pasangan hidup yang kemudian beranak-cucu hingga generasi kita. Kita adalah satu dari keturunan anak Adam.
Jangan sampai agama sebagai sumber pembawa pesan damai dan cinta kasih dipelintir dan dimanupulasi untuk tujuan kepentingan politik. Justru bagaimana mengedepankan agama pada pendekatan religiositas humanistik, ketimbang formalitas dogmatis.Di sini peran musisi tak lebih dari sekadar pewarta yang mencoba mengekspresikan tanda-tanda zaman dalam ungkapan bahasa lagu. Seperti terungkap pada lagu rock religius bertajuk Anak Adam, ciptaan Donny Fattah, berkisah tentang konflik kemanusiaan dilatarbelakangi oleh kepentingan ideologis, musiknya digarap dalam nuansa progressive rock:
Sejauhmana sebuah karya lagu mampu menandai tanda zaman yang bergerak dalam ruang dan waktu. Semua dikembalikan lagi pada konteks sosial perjalanan waktu itu sendiri. Seperti album yang dirilis tahun 1980 menemukan kembali momentum, dan masih kontekstual dengan realitas sosial persoalan kehidupan berbangsa yang sedang kita hadapi. Album dirilis 30 tahun silam yang memajang sembilan nomor lagu ini masih mewakili potret sosial kita hari ini. Beragam peristiwa yang terjadi hari ini tercermin di album Cermin.
Kemiskinan, pengangguran, penggusuran, ketidakadilan akibat kepincangan sosial adalah potret buram wajah ketidakberdayaan golongan masyarakat yang teralienasi secara struktural adalah potret nyanyian Balada Sejuta Wajah (Ian Antono & Theodore KS);
Di tengah gemerlap kehidupan, ketahanan moralitas dan keteguhan keimanan dipertaruhkan menghadapi godaan yang merangsang hasrat kenikmatan duniawi. Dekadensi moral, hedonisme menjadi candu gaya kehidupan metropolis, itu diungkapkan lewat pesan lagu Ingat, Insan Sesat dan Cermin. Mencuatnya kembali kasus sengketa tanah, seperti terjadi di Alas Tlogo – Pasuruan, Meruya Selatan – Jakarta Barat, dan lainnya, adalah contoh arogansi tangan-tangan kekuasaan atau pemilik modal kuat menjadi potret getir lagu Tuan Tanah.
Berbagai bencana alam seperti tsunami, gempa bumi, banjir, tanah longsor, letusan gunung berapi, yang terjadi belakangan ini, termasuk bencana semburan lumpur Lapindo – Sidoarjo, akankah menyadarkan dan mengingatkan bahwa semua ini adalah isyarat alam, semiotika alam. Alam mulai enggan dengan ulah manusia. Kita pun tidak berharap semoga cerita Sodom Gomora seperti dikisahkan baik di Al Quran maupun Injil, tidak akan terjadi.
Untuk itu, kita pun perlu merenungkan kembali, apakah bencana yang terjadi sebagai isyarat alam bagian dari drama tanda-tanda zaman Sodom Gomora di bumi yang semakin tua, atau kita sudah lupa diri akan kuasa alam semesta, kuasa Sang Khalik? (alex palit) 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar