Cari Blog Ini

Senin, 27 Juni 2016

"Perahu Retak" Franky Sahilatua (1)


Pertemuan Franky Sahilatua dengan budayawan Emha Ainun Nadjib yang akrab dipanggil Cak Nun, bukanlah perjumpaan biasa, di mana keduanya dipertemukan sebagai anak bangsa dalam suasana kebathinan yang sama, sama-sama dalam suasana keprihatinan yang sama menyikapi kondisi bangsanya saat itu.

Pertemuan yang oleh Cak Nun disebut ‘pertemuan kemesraan ‘ini kemudian melahirkan sebuah kolaborasi musik, di mana Franky sebagai penyanyi dan pencipta lagunya, sedang Cak Nun sebagai penulis lirik lagunya. Lahirlah album  “Perahu Retak” yang aransemen musiknya digarap oleh Toto Tewel.
Pastinya album ini bukan album biasa, beda dengan album Franky sebelumnya. Di sini Franky menyanyikan lagu-lagu-lagu yang kesemua liriknya sarat dengan muatan kritik sosial. Album ini sekaligus menandai babak baru perjalanan bermusik Franky memasuki wilayah lebih jauh lagi yaitu politik.
Album “Perahu Retak”, atau di lagu ciptaannya seperti “Orang Pinggiran”, “Menangis” dan “Di Bawah Tiang Bendera” (liriknya ditulis Iwan Fals), “Pancasila Rumah Kita”, serta “Aku Mau Presiden Baru” adalah bagian dari refleksi kegelisahan sosok penyanyi balada Franky Sahilatua dalam menyikapi kondisi negeri ini.
Seperti di album “Perahu Retak” yang liriknya sarat dengan muatan kritik sosial, di sini Franky tidak sekadar menggubah syair-syair dari naskah drama Perahu Retak karya Cak Nun sekadar dijadikan nyanyian untuk dinyanyikan, tapi bagaimana Franky juga mencoba mengapresisiasi lagu tersebut sebagai sebuah realitas sosial.
Seperti saat pembikinan video klip lagu “Merah Putih dan Reruntuhan”, ia berinteraksi terjun langsung ke Kedungombo - Boyolali, Jawa Tengah. Bahkan lagu “Perahu Retak” ikut menjadi lagu penyemangat demo mahasiswa 1998.
Perahu negeriku
Perahu bangsaku menyusuri gelombang
Semangat rakyatku
Kibar benderaku menyeruak lautan
Langit membentang cakrawala di depan
Melambaikan tantangan
Di atas tanahku, dari dalam airku
Tumbuh kebahagiaan
Di sawah kampungku, di jalan kotaku
Terbit kesejahteraan
Tapi ku heran di tengah perjalanan
Muncullah ketimpangan

Aku heran, aku heran
Yang salah dipertahankan
Aku heran, aku heran
Yang benar disingkirkan

Perahu negeriku, perahu bangsaku
Jangan retak dindingmu
Semangat rakyatku, derap kaki tekadmu
Jangan terantuk batu
Tanah pertiwi anugerah Ilahi
Jangan ambil sendiri
Tanah pertiwi anugerah Ilahi
Jangan makan sendiri


Aku heran, aku heran
Satu kenyang, seribu kelaparan
Aku heran, aku heran
Keserakahan diagungkan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar