Pertemuan Franky Sahilatua dengan budayawan
Emha Ainun Nadjib yang akrab dipanggil Cak Nun, bukanlah perjumpaan biasa, di
mana keduanya dipertemukan sebagai anak bangsa dalam suasana kebathinan yang
sama, sama-sama dalam suasana keprihatinan yang sama menyikapi kondisi
bangsanya saat itu.
Pertemuan yang oleh Cak Nun disebut
‘pertemuan kemesraan ‘ini kemudian melahirkan sebuah kolaborasi musik, di mana
Franky sebagai penyanyi dan pencipta lagunya, sedang Cak Nun sebagai penulis
lirik lagunya. Lahirlah album “Perahu Retak” yang aransemen musiknya
digarap oleh Toto Tewel.
Pastinya album ini bukan album biasa, beda
dengan album Franky sebelumnya. Di sini Franky menyanyikan lagu-lagu-lagu yang
kesemua liriknya sarat dengan muatan kritik sosial. Album ini sekaligus
menandai babak baru perjalanan bermusik Franky memasuki wilayah lebih jauh lagi
yaitu politik.
Album “Perahu
Retak”, atau di lagu ciptaannya seperti “Orang
Pinggiran”, “Menangis” dan “Di Bawah Tiang Bendera” (liriknya ditulis Iwan
Fals), “Pancasila Rumah Kita”, serta “Aku Mau Presiden Baru” adalah bagian
dari refleksi kegelisahan sosok penyanyi balada Franky Sahilatua dalam
menyikapi kondisi negeri ini.
Seperti di album “Perahu Retak” yang liriknya
sarat dengan muatan kritik sosial, di sini Franky tidak sekadar menggubah
syair-syair dari naskah drama Perahu
Retak karya Cak Nun sekadar dijadikan nyanyian untuk dinyanyikan, tapi
bagaimana Franky juga mencoba mengapresisiasi lagu tersebut sebagai sebuah
realitas sosial.
Seperti saat pembikinan video klip lagu “Merah Putih dan Reruntuhan”, ia
berinteraksi terjun langsung ke Kedungombo - Boyolali, Jawa Tengah. Bahkan lagu
“Perahu Retak” ikut menjadi lagu
penyemangat demo mahasiswa 1998.
Perahu
negeriku
Perahu
bangsaku menyusuri gelombang
Semangat rakyatku
Semangat rakyatku
Kibar
benderaku menyeruak lautan
Langit
membentang cakrawala di depan
Melambaikan tantangan
Melambaikan tantangan
Di
atas tanahku, dari dalam airku
Tumbuh
kebahagiaan
Di sawah kampungku, di jalan kotaku
Terbit kesejahteraan
Di sawah kampungku, di jalan kotaku
Terbit kesejahteraan
Tapi
ku heran di tengah perjalanan
Muncullah ketimpangan
Muncullah ketimpangan
Aku heran, aku heran
Yang salah dipertahankan
Aku heran, aku heran
Yang benar disingkirkan
Perahu
negeriku, perahu bangsaku
Jangan retak dindingmu
Semangat rakyatku, derap kaki tekadmu
Jangan terantuk batu
Jangan retak dindingmu
Semangat rakyatku, derap kaki tekadmu
Jangan terantuk batu
Tanah
pertiwi anugerah Ilahi
Jangan ambil sendiri
Tanah pertiwi anugerah Ilahi
Jangan makan sendiri
Jangan ambil sendiri
Tanah pertiwi anugerah Ilahi
Jangan makan sendiri
Aku heran, aku heran
Satu kenyang, seribu kelaparan
Aku heran, aku heran
Keserakahan diagungkan

Tidak ada komentar:
Posting Komentar