![]() |
| Sawung Jabo (Foto Alex Palit) |
Seperti biasa setiapkali Sawung Jabo manggung di Taman Ismail
Marzuki (TIM) – Jakarta, saya tidak pernah absen nonton. Insyah Allah di
pagelaran “Perjalanan Waktu – Sawung Jabo” pada 23 Mei 2015, nanti juga harus
hadir, sekalian saya manfaatkan reunian dengan teman lama.
Karena acaranya beberapa hari lagi, dalam kesempatan ini saya
hanya sedikit mereview sosok apa dan siapa Sawung Jabo yang saya kenal dalam
amatan sedikit filosofis.
Bagi saya, seniman atau musisi itu tak bedanya dengan ulama,
cendikiawan atau wartawan yaitu mewartakan kebenaran dan kebajikan.
Fungsi ini juga melekat dalam diri musisi seniman. Sepengetahuan
saya, bagi Jabo bahwa musik bukan sekadar luapan ekspresi jiwa, tapi sudah
terlekatan menjadi bagian tak terpisahan dari kesadaran spiritualnya yang
dielaborasikan dengan nilai-nilai kehidupan dan realitas sosial yang ada. Dan
spirit itu ada dalam diri Jabo.
Dalam berbagai kesempatan baik saat ngobrol musik atau saat ada
di atas panggung, Jabo sering mengafirmasi diri bermusik dengan kejujuran.
Dalam artian bahwa ia bukan saja ingin jujur dalam berkarya,
juga jujur dengan karyanya, jujur pada hati nuraninya, dan jujur pada publik
penggemar penikmat musiknya.
Sebagaimana ia ungkapkan di lagu “Hio”; aku mau jujur-jujur
saja, aku tak mau mengingakari hati nurani, bahwa orang hidup jangan
mengingkari hati nurani.
Bagi penyanyi balada yang banyak melantunkan lagu bertema
sosial, bahkan mengarah kritik sosial, lagu bukan sekadar ekspresi jiwa personal,
tapi bagaimana ia mencoba merepresentasikan ekspresi sosial masyarakat dalam
bentuk lagu.
Untuk itu seorang seniman punya beban dan tanggungjawab moral
atas apa ia suarakan. Karena hal ini menyangkut tanggungjawab moral terhadap
publik penggemar penikmat musiknya.
Komitmen ini yang juga harus dipegang teguh yaitu setia janji
pada pesan lirik yang ia suarakan.
Bukan lantas mengingkarinya, lalu yang tejadi adalah tiada
satunya nyanyian dengan sikap perbuatan. Ironisnya, itu yang kini banyak kita
temui di musisi kita yaitu lupa pada nyanyian yang ia suarakan sendiri.
Ia sudah tidak jujur lagi pada karyanya dan pada publik
penggemar penikmat musiknya.
Sebagaimana judul tulisan “Sawung Jabo Bermusik Dengan
Kejujuran”, saya yakin seyakin-yakinnya bahwa Sawung Jabo tetap jujur, tetap
pegang komitmen, setia janji, dan tidak berkhianat lupa pada nyanyian yang
suarakan sendiri.
Selamat dan sukses selalu buat Sawung Jabo dan
Sirkus Barock-nya, tetap semangat, tetap setia janji, terus berkarya dan
bermusik dengan kejujuran. Salam ACP!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar