Cari Blog Ini

Senin, 20 Juni 2016

Sawung Jabo: Jujur dalam Berkarya

Sawung Jabo (Foto Alex Palit)
Seperti biasa setiapkali Sawung Jabo manggung di Taman Ismail Marzuki (TIM) – Jakarta, saya tidak pernah absen nonton. Insyah Allah di pagelaran “Perjalanan Waktu – Sawung Jabo” pada 23 Mei 2015, nanti juga harus hadir, sekalian saya manfaatkan reunian dengan teman lama.
Karena acaranya beberapa hari lagi, dalam kesempatan ini saya hanya sedikit mereview sosok apa dan siapa Sawung Jabo yang saya kenal dalam amatan sedikit filosofis.
Bagi saya, seniman atau musisi itu tak bedanya dengan ulama, cendikiawan atau wartawan yaitu mewartakan kebenaran dan kebajikan.
Fungsi ini juga melekat dalam diri musisi seniman. Sepengetahuan saya, bagi Jabo bahwa musik bukan sekadar luapan ekspresi jiwa, tapi sudah terlekatan menjadi bagian tak terpisahan dari kesadaran spiritualnya yang dielaborasikan dengan nilai-nilai kehidupan dan realitas sosial yang ada. Dan spirit itu ada dalam diri Jabo.
Dalam berbagai kesempatan baik saat ngobrol musik atau saat ada di atas panggung, Jabo sering mengafirmasi diri bermusik dengan kejujuran.
Dalam artian bahwa ia bukan saja ingin jujur dalam berkarya, juga jujur dengan karyanya, jujur pada hati nuraninya, dan jujur pada publik penggemar penikmat musiknya.
Sebagaimana ia ungkapkan di lagu “Hio”; aku mau jujur-jujur saja, aku tak mau mengingakari hati nurani, bahwa orang hidup jangan mengingkari hati nurani.
Bagi penyanyi balada yang banyak melantunkan lagu bertema sosial, bahkan mengarah kritik sosial, lagu bukan sekadar ekspresi jiwa personal, tapi bagaimana ia mencoba merepresentasikan ekspresi sosial masyarakat dalam bentuk lagu.
Untuk itu seorang seniman punya beban dan tanggungjawab moral atas apa ia suarakan. Karena hal ini menyangkut tanggungjawab moral terhadap publik penggemar penikmat musiknya.
Komitmen ini yang juga harus dipegang teguh yaitu setia janji pada pesan lirik yang ia suarakan.
Bukan lantas mengingkarinya, lalu yang tejadi adalah tiada satunya nyanyian dengan sikap perbuatan. Ironisnya, itu yang kini banyak kita temui di musisi kita yaitu lupa pada nyanyian yang ia suarakan sendiri.
Ia sudah tidak jujur lagi pada karyanya dan pada publik penggemar penikmat musiknya.
Sebagaimana judul tulisan “Sawung Jabo Bermusik Dengan Kejujuran”, saya yakin seyakin-yakinnya bahwa Sawung Jabo tetap jujur, tetap pegang komitmen, setia janji, dan tidak berkhianat lupa pada nyanyian yang suarakan sendiri.

Selamat dan sukses selalu buat Sawung Jabo dan Sirkus Barock-nya, tetap semangat, tetap setia janji, terus berkarya dan bermusik dengan kejujuran. Salam ACP!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar