Dunia
politik memang asyik nggak asyik,
kadang asyik kadang nggak, di situ yang asyik. Meski
didalamnya dipenuhi intrik dan kecurangan. Seperti kata Iwan; Colong sana colong sini atau colong-colongan
/ Seperti orang nyolong mangga kalau gak nyolong gak asyik.
Mencuri start kampanye, memanipulasi data pemilih dan main sulap pat-gulipat dilakukan tangan-tangan setan saat penghitungan suara adalah praktek colong-colongan yang harus tetap diwaspadai.
Mencuri start kampanye, memanipulasi data pemilih dan main sulap pat-gulipat dilakukan tangan-tangan setan saat penghitungan suara adalah praktek colong-colongan yang harus tetap diwaspadai.
Kalau
dibilang politik kotor atau kejam, karena politik itu sendiri adalah seni, seni
permainan. Sebagaimana adagium; Politics
is the art of the possible (Otto von Bismarck). Segala kemungkinan
bisa terjadi. Dalam politik tidak ada kawan atau lawan sejati, yang ada adalah
pertarungan kepentingan meraih dan melanggengkan kekuasaan. Dan, itulah politik!
Iwan
Fals memang bukan politikus, bukan pula anggota legislatif, anggota parpol atau
jurkam yang kerjanya berkoar-koar mengumbar gelembung busa
janji atas nama rakyat. Ia hanyalah seorang penyanyi balada yang lagu-lagunya
banyak mengangkat tema sosial. Lewat media komunikasi bahasa musik dan nyanyian
Iwan tak segan bersuara lantang melontarkan kritikan atas
kepincangan-kepincangan sosial yang terjadi di tengah masyarakat.
Dengan cara bernyanyi pula Iwan menjalin komunikasi soal kepincangan politik
dengan publik penggemarnya. Lewat metafora politik Asik Nggak Asik, Iwan bukan bermaksud
menggurui atau mengkritik bahwa itulah potret dunia perpolitikan kita.
Justru
bagaimana menempatkan lagu ini bagian dari proses pembelajaran politik, bahwa
dunia politik memang asyik nggak asyik.
Dikatakan asyik kalau semua itu dilakukan dengan pertimbangan moral,
bermartabat dan memihak kepentingan rakyat. Nggak asyiknya, kalau semua itu
dilakukan menghalalkan segala cara demi kepentingan diri sendiri atau
kelompoknya, mengabaikan amanat rakyat.
Mari
kita sikapi kembalinya Iwan Fals bersuara lantang di atas panggung ini sebagai
kepedulian dan sikap kritis seniman menyikapi kondisi sosial politik di negeri
ini yang kian carut-marut. Seperti kata Iwan dalam nyanyian lagu Kesaksian: Orang-orang harus dibangunkan,
kesaksian itu harus dikabarkan, aku bernyanyi menjadi saksi! (alex palit)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar