Cari Blog Ini

Minggu, 26 Juni 2016

Aristoteles dan Musik

Aristoteles (Foto Ist.)
Menurut Aristoteles (384 – 322 SM) yang juga murid Plato, melihat bahwa fungsi musik bagi kehidupan manusia mempunyai peran ganda. Selain dapat mempengaruhi kejiwaan (psikologis) seseorang misalnya membangkitkan semangat atau emosi, musik juga berfungsi sebagai alat pendidikan yang berguna bagi pengembangan karakter manusia.
                Aristoteles juga menyebut bahwa tujuan dari manusia menikmati musik adalah untuk memperoleh kebahagiaan. Di sini filsuf yang banyak memberikan sumbangan pemikiran tentang logika, etika dan estetika, membagi tingkatan tujuan manusia menikmati musik dalam tiga fase kepuasan;

Pertama, tingkatan kepuasan yang paling rendah disebut sebagai kesenangan yang dipengaruhi oleh oleh kecenderungan nafsu manusia; seksual, keserakahan, pemilikan dan pengusaaan. Apabila sebuah karya musik hanya memiliki muatan untuk kebahagiaan dan kepuasan pada tingkat kesenangan, maka karya tersebut berkualitas rendah. 
Kedua, tingkatan kepuasan untuk memperoleh kebahagiaan yang lebih tinggi adalah kemuliaan. Dalam tingkatan ini muatan karya menyangkut hal-hal yang berhubungan dengan apa yang kita sebut sebagai nilai, seperti; perhatian, pengabdian, persahabatan, pengorbanan, atau  kesetiaan.
Ketiga, tingkatan kepuasan untuk memperoleh kebahagiaan paling tinggi adalah kebajikan. Dalam tingkatan ini suatu karya musik mengandung manifestasi nilai paling luhur, hakiki dan universal. Bagaimana tingkat kepuasan itu dimanifestasikan atau direpresentasikan seperti dalam hubungan manusia dengan lingkungannya, persoalan kemanusiaan, permasalahan kehidupan dalam berbangsa, tentang kepahlawanan, integritas, atau penyelamatan bumi.
Pada tingkatan kebajikan, kepuasan tidak hanya dirasakan oleh lingkungan tertentu atau bangsa tertentu, tetapi dapat dirasakan oleh setiap orang yang mendengarkan lagu tersebut. Misalnya dengan mengangkat tema-tema penindasan satu bangsa terhadap bangsa lain, diskriminasi ras adalah tema-tema universal yang mengandung nilai kebajikan, seperti humanisme (kemanusiaan).

Aristoteles juga menyebutkan bahwa musik menggambarkan emosi serta keadaan jiwa manusia. Jadi, kalau seseorang mendengarkan musik, emosinya sendiri akan dipengaruhi menjadi serupa dengan sifat musik tersebut. Dengan demikian ada jenis-jenis musik yang dapat membangkitkan emosi bagi pendengarnya sesuai karakteristik musik tersebut. Jika sesorang mendengar jenis musik yang kurang baik ia akan menjadi manusia yang kurang baik. Sebaliknya, jika ia mendengar jenis musik yang baik, ia akan menjadi orang yang baik. Plato dan Aristoteles berpendapat senada menyetujui bahwa beberapa jenis musik tertentu harus dikontrol demi kebaikan masyarakat. (lex)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar