![]() |
| Aristoteles (Foto Ist.) |
Menurut Aristoteles
(384 – 322 SM) yang juga murid Plato, melihat bahwa fungsi musik bagi kehidupan
manusia mempunyai peran ganda. Selain dapat mempengaruhi kejiwaan (psikologis)
seseorang misalnya membangkitkan semangat atau emosi, musik juga berfungsi
sebagai alat pendidikan yang berguna bagi pengembangan karakter manusia.
Aristoteles
juga menyebut bahwa tujuan dari manusia menikmati musik adalah untuk memperoleh
kebahagiaan. Di sini filsuf yang banyak memberikan sumbangan pemikiran tentang
logika, etika dan estetika, membagi tingkatan tujuan manusia menikmati musik
dalam tiga fase kepuasan;
Pertama, tingkatan kepuasan
yang paling rendah disebut sebagai kesenangan yang dipengaruhi oleh oleh
kecenderungan nafsu manusia; seksual, keserakahan, pemilikan dan pengusaaan.
Apabila sebuah karya musik hanya memiliki muatan untuk kebahagiaan dan kepuasan
pada tingkat kesenangan, maka karya tersebut berkualitas rendah.
Kedua, tingkatan kepuasan
untuk memperoleh kebahagiaan yang lebih tinggi adalah kemuliaan. Dalam
tingkatan ini muatan karya menyangkut hal-hal yang berhubungan dengan apa yang
kita sebut sebagai nilai, seperti; perhatian, pengabdian, persahabatan,
pengorbanan, atau kesetiaan.
Ketiga, tingkatan kepuasan
untuk memperoleh kebahagiaan paling tinggi adalah kebajikan. Dalam tingkatan
ini suatu karya musik mengandung manifestasi nilai paling luhur, hakiki dan
universal. Bagaimana tingkat kepuasan itu dimanifestasikan atau
direpresentasikan seperti dalam hubungan manusia dengan lingkungannya, persoalan
kemanusiaan, permasalahan kehidupan dalam berbangsa, tentang kepahlawanan,
integritas, atau penyelamatan bumi.
Pada tingkatan
kebajikan, kepuasan tidak hanya dirasakan oleh lingkungan tertentu atau bangsa
tertentu, tetapi dapat dirasakan oleh setiap orang yang mendengarkan lagu
tersebut. Misalnya dengan mengangkat tema-tema penindasan satu bangsa terhadap
bangsa lain, diskriminasi ras adalah tema-tema universal yang mengandung nilai
kebajikan, seperti humanisme (kemanusiaan).
Aristoteles juga
menyebutkan bahwa musik menggambarkan emosi serta keadaan jiwa manusia. Jadi,
kalau seseorang mendengarkan musik, emosinya sendiri akan dipengaruhi menjadi
serupa dengan sifat musik tersebut. Dengan demikian ada jenis-jenis musik yang
dapat membangkitkan emosi bagi pendengarnya sesuai karakteristik musik
tersebut. Jika sesorang mendengar jenis musik yang kurang baik ia akan menjadi
manusia yang kurang baik. Sebaliknya, jika ia mendengar jenis musik yang baik,
ia akan menjadi orang yang baik. Plato dan Aristoteles berpendapat
senada menyetujui bahwa beberapa jenis musik tertentu harus dikontrol demi
kebaikan masyarakat. (lex)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar