Cari Blog Ini

Rabu, 22 Juni 2016

Leo Kristi: Di Mana Diri Seorang Pemimpin? (1)

Leo Kristi

Dari tulisan “Gus Dur dan Budaya Musik Protes”, tiba-tiba saya diingatkan kembali dengan lagu “Nyanyian Tambur Jalan Komedi Badut Pasar”, ciptaan Leo Kristi; Jerat menjerat dalam lingkaran komedi badut badut / Di mana diri seorang pemimpin?/ Di mana diri seorang pemimpin?/ Todong menodong dalam lingkaran komedi badut-badut / Di mana diri seorang kesatria? / Di mana diri seorang kesatria?

Setidaknya lewat ungkapan yang tersirat di syair lagu ini kita diajak untuk menimbang sejauhmana kadar personality kepemimpinan para pemimpin, pejabat publik, atau elit politik kita saat ini, sudah sesuai amanahkah?
Sehingga di sini kita diajak untuk menimbang dan merenungkan kembali pada sebuah pertanyaan; benarkah saat ini kita sedang mengalami krisis kepemimpinan, di mana diri seorang pemimpin?
Ketika kita bicara makna pemimpin secara filosofis selalu mengkaitkan dengan bahwa seorang pemimpin yang dipegang ucapannya, tidak mencla-mencle, satunya kata dengan perbuatan, di mana dalam diri seorang pemimpin atau pejabat selalu melekat dengan apa yang namanya sebagai sabda pandhita ratu.
Tapi lihat saja bagaimana saat ini banyak pejabat negara, pejabat publik atau termasuk juga elit politik parpol yang omongannya asbun (asal bunyi) dalam berstatemen. Bahkan ucapannya itu tak jarang malah tidak peduli dan bertolak belakang dengan suasana kebathinan rakyat. Ucapannya bukan menghibur, menyejukan atau menenteramkan, justru justru menyakiti hati rakyat.

Bahkan banyak di antara statemenya itu lebih pada pencak silat lidah untuk menjustifikasi pembenaran atas apa sebenarnya yang ia sendiri tak paham lantaran bukan orang yang tepat untuk disebut the right man in the right place. Sehingga apa yang diucapkan itu hanya melahirkan kontroversi di publik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar