![]() |
| Leo Kristi |
Dari tulisan “Gus Dur
dan Budaya Musik Protes”, tiba-tiba saya diingatkan kembali dengan lagu “Nyanyian Tambur Jalan Komedi Badut Pasar”, ciptaan
Leo Kristi; Jerat menjerat dalam lingkaran
komedi badut badut / Di mana diri seorang pemimpin?/ Di mana diri seorang
pemimpin?/ Todong menodong dalam lingkaran komedi badut-badut / Di mana diri
seorang kesatria? / Di mana diri seorang kesatria?
Setidaknya
lewat ungkapan yang tersirat di syair lagu ini kita diajak untuk menimbang
sejauhmana kadar personality kepemimpinan para pemimpin, pejabat publik, atau
elit politik kita saat ini, sudah sesuai amanahkah?
Sehingga
di sini kita diajak untuk menimbang dan merenungkan kembali pada sebuah
pertanyaan; benarkah saat ini kita sedang mengalami krisis kepemimpinan, di
mana diri seorang pemimpin?
Ketika kita bicara makna pemimpin
secara filosofis selalu mengkaitkan dengan bahwa seorang pemimpin yang dipegang
ucapannya, tidak mencla-mencle, satunya kata dengan perbuatan, di mana dalam
diri seorang pemimpin atau pejabat selalu melekat dengan apa yang namanya
sebagai sabda pandhita ratu.
Tapi lihat saja bagaimana saat ini
banyak pejabat negara, pejabat publik atau termasuk juga elit politik parpol
yang omongannya asbun (asal bunyi) dalam berstatemen. Bahkan ucapannya itu tak
jarang malah tidak peduli dan bertolak belakang dengan suasana kebathinan
rakyat. Ucapannya bukan menghibur, menyejukan atau menenteramkan, justru justru
menyakiti hati rakyat.
Bahkan banyak di antara statemenya itu
lebih pada pencak silat lidah untuk menjustifikasi pembenaran atas apa
sebenarnya yang ia sendiri tak paham lantaran bukan orang yang tepat untuk
disebut the right man in the right place. Sehingga apa yang diucapkan itu hanya
melahirkan kontroversi di publik.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar