![]() |
| WR Supratman (Foto Ist.) |
Pada hakikatnya musik tidak terpisahkan dari kehidupan
manusia. Adalah hal yang sangat keliru bila keberadaan musik hendak dipisahkan
dari bidang-bidang kehidupan manusia lainnya. Bahkan diyakini bahwa musik
memiliki kekuatan yang dapat berpengaruh terhadap sendi-sendi kehidupan
manusia. Begitu pula musik sebagai bagian dari kebudayaan keberadaannya tidak
bisa dilepaskan dari nilai-nilai yang hidup di masyarakat bersangkutan.
Sebagaimana dikemukakan oleh
banyak tokoh pemikir kebudayaan, bahwa seni – temasuk seni musik di dalamnya –
merupakan bagian dari kebudayaan yang tak terpisahkan dari peradaban manusia,
masyarakat atau suatu bangsa. Bahkan indikasi tinggi-rendahnya peradaban suatu
masyarakat atau sebuah bangsa dapat ditelusuri dari nilai-nilai terkandung
didalamnya, termasuk dari watak-watak karya keseniannya.
Karena pada dasarnya
karya seni (musik) merupakan refleksi perasaan, pikiran, atau cerminan realitas
sosial dari nilai-nilai kehidupan yang ada dalam masyarakat tersebut. Melalui
musik ini pula kita dapat belajar tata nilai baik sosial-budaya, moralitas,
spiritual, religius, maupun interaksi antarmanusia dalam kehidupan suatu
masyarakat atau bangsa.
Selanjutnya bagaimana
mengintegrasikan peran dan fungsi musik dalam kehidupan di dalam kegiatan besar
manusia bernama kebudayaan dan bidang-bidang kehidupan lainnya, seperti sikap dan
nilai hidup, moralitas, intelektualitas, edukasi, bahkan dalam kehidupan
politik.
Jadi, sebegitu pentingkah musik
dalam kehidupan, dan sejauhmana pula pengaruh
musik dalam kehidupan? Masih
relevankah pertanyaan ini dilontarkan untuk mempertegas kembali komitmen
tanggungjawab para seniman musik di tengah pengaruh kekuatan ideologis global?
Sebagaimana dikatakan oleh Plato bahwa musik mempunyai peran cukup kuat
dalam kehidupan, termasuk dalam kehidupan negara. Dalam bukunya yang sangat terkenal
yakni Republik, filsuf
yang banyak memberi sumbangan pemikiran di bidang filsafat, etika, estetika dan
kenegaraan ini juga menyinggung tentang pentingnya peran musik dalam kehidupan.
Termasuk didalamnya bahwa musik memiliki pengaruh cukup kuat di bidang politik.
Musik bisa untuk kekuatan, kebaikan maupun kejahatan. Bahkan disebutkan
kejayaan atau keruntuhan suatu negara dapat disebabkan musik.1
Benarkah kejayaan atau keruntuhan
suatu negara dapat disebabkan karena musik, seperti dinyatakan Plato? Meski
pendapatnya ini terbilang ekstrem, tapi setidaknya terminologi ini didasarkan
bahwa keberadaan musik dalam suatu masyarakat merupakan pencerminan dari watak,
karakter, moralitas dari masyarakat atau bangsa tersebut. Tinggal bagaimana
kita memaknai dan menempatkan keberadaan musik itu sendiri di tengah kehidupan
masyarakat.
Bahkan menurut Plato, dikatakan
bahwa masyarakat yang memandang musik hanya sebagai hiburan melulu, musik hanya
sebagai alat bersenang-senang, serta musik hanya sebagai media umtuk
mabuk-mabukan, masyarakat tersebut pastilah masyarakat bermoral rendah. Dalam
hal ini Plato menempatkan musik tidak semata-mata sebagai hiburan, tapi
bagaimana musik yang mampu menyentuh perasaan ini mengandung pedoman-pedoman
atau arahan-arahan yang tertuang di syair ataupun puisi-puisi yang diungkapkan
dalam musik tersebut.
Kerenanya Plato juga menekankan
perlunya pendidikan musik bukan saja diajarkan sejak dini mulai usia anak-anak,
juga diperkenalkan bagi calon penguasa atau para taruna sehingga mereka menjadi
orang-orang yang tahu mencintai keindahan (estetik). Karena menurutnya, musik
memiliki daya magis bagi warganegara yang dapat membangkitkan semangat juang
dan mendorong keberanian, serta mengilhami perbuatan gagah berani dan kebaikan.
Sifat hiburan dari musik merupakan pelengkap akal sehat yang berguna untuk
menempatkan manusia di jalan benar. Plato sangat menentang terhadap orang-orang
memainkan musik yang dapat merusak moral. Bukan cuma itu, musik juga menanamkan
jiwa manusia perasaan halus, budi yang halus sebagai landasan yang sangat baik
untuk menghidupkan rasa keadilan. Tetapi sebagai media pendidikan musik harus
dijauhkan lagu-lagu yang melemahkan jiwa serta mudah menimbulkan hasrat nafsu
buruk.
Pentingnya musik bagi nilai
kehidupan ini juga tak luput dari perhatian Muhammad Iqbal, filsuf dan
sastrawan asal Pakistan, yang banyak memberi sumbangan pemikiran kebudayaan
dalam dunia Islam. Munurut Iqbal, musik bagian dari karya seni tidak mempunyai
arti tanpa pertaliannya dengan hidup, manusia dan masyarakat. Tujuan seni
adalah hidup itu sendiri. Oleh karena itu seni harus menciptakan kerinduan
kepada hidup yang sublim. Bait-bait yang ada di lagu harus membawakan pesan
tentang kehidupan abadi meneruskan tujuan Tuhan, seperti kata-kata Malaikat
Jibril dan suaranya yang mengumumkan Hari Pembalasan.
Seperti setiapkali memanjatkan
doa tahlil selalu disebutkan bahwa seniman tak bedanya ulama adalah orang-orang
yang diridhoi dan mendapat anugerah nikmat untuk mengamalkan, mewartakan
ilmunya ke jalan yang benar, demi kebaikan dan kebajikan umat manusia, bukan
kesesatan. Jadi di sini menunjukkan bahwa peran dan tanggungjawab seniman tak
bedanya dengan ulama, pewarta kabar bagi kebajikan umat manusia.
Menurut Iqbal, musik tak bedanya
dengan puisi. Musik memelihara ladang kehidupan agar tetap menghijau dan
memberi petunjuk kehidupan abadi kepada kemanusiaan. Seni adalah sarana yang
berharga bagi prestasi kehidupan dan pembinaan martabat manusia. Bahkan
keberadaan seni ditempatkan sebagai nurani terdalam bangsa. Di sini posisi
seniman memiliki kekuatan sangatlah besar yang dapat mengangkat derajat
bangsanya, dan mengantarkan ke arah kebesaran demi kebesaran yang lebih tinggi.
Untuk itu, seorang seniman seharusnya menjadi pelopor suatu fajar kebangkitan,
dan menjadi rahmat bagi kemanusiaan.2
Dari yang diurai kedua filsuf
tersebut setidaknya menunjukkan pada kita bahwa kehadiran musik memberi peran
dan pengaruh cukup kuat dalam kehidupan manusia, masyarakat dan bangsa. Musik
yang didalamnya mengandung bait-bait keindahan dan keselarasan harmoni haruslah
mengutamakan pesan kebajikan dan mengajarkan kearifan-kearifan pada hidup
manusia.
Jadi dalam berkarya, seorang
seniman sudah seyogjanya tidak hanya menuangkan kebebasannya dalam berekspresi
semata, tapi juga bagaimana mampu membangkitkan kesadaran akan nilai humanisme
(kemanusiaan) dengan cara memahami realitas sosialnya, sekaligus bagaimana
memberi makna pada kehidupan. Tahapan pendewasaan dalam menyerap dan memahami
karya seni yang berpijak pada realitas sosial inilah yang akan membawa manusia
pada transformasi kesadaran, yang pada akhirnya berkembang sebagai sebuah gerak
dialektika. (alex palit)
1 Sukatmi
Susantina, Nada-Nada Radikal –
Perbincangan Para Filsuf Tentang Musik, Pantha Rhei Books, Yogyakarta, 2004,
hal 24.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar