Sebagaimana dikatakan komponis Richard Wagner, guna mendapatkan pemahaman tentang apa
itu musik (lagu) tidak cukup hanya dinikmati sebagai sekadar hiburan semata,
sebab musik itu sendiri adalah bahasa ekspresi yang memang harus diterjemahkan.
Adalah wajar bila kemudian musik protes ini memiliki
spesifikasi tersendiri bukan saja di tengah pergumulan industri musik, tapi
juga menjadi bagian tak terpisahkan dari dinamika kehidupan politik yang ada,
atau yang sedang berlangsung.
Bahkan tak jarang pula kehadiran musik protes apa itu
dalam bentuk album atau single terlahir sebagai bentuk keprihatinan atau reaksi
atas apa yang terjadi saat itu.
Di mana ketidakpuasan ini kemudian mereka tuangkan dalam bahasa musik sebagai
ekspresi kritik sosialnya. Gerak perlawanan ini disimbolisasikan dalam bungkus
musik, rock. Di mana mereka tampil dengan membawa spirit rock dengan karakter
dan cirinya sendiri.
Seperti halnya pada ketiga album; Cermin (God Bless, 1980), Perahu
Retak (Franky Sahilatua, 1996), dan Manusia ½ Dewa (Iwan Fals, 2004),
yang saya anggap di mana secara keseluruhan yang ada di album ini memiliki
nafas dan spirit rock yang cukup kental.
Begitu halnya
dengan ketiga album ini, sejauhmana lagu-lagu yang ada di album tersebut mampu
menandai tanda-tanda zaman
dan menemukan kembali nilai kontekstualnya, semua itu dikembalikan pada
realitas sosial perjalanan zaman itu sendiri.
Karena setiap lagu punya jiwa,
nafas dan jalan hidupnya sendiri yang mampu menembus ruang dan waktu untuk
menemukan kembali nilai kontekstuanya baik di hari kemarin, hari ini dan hari
esok pada sebuah zaman.
Termasuk adakah lagu-lagu yang ada di ketiga
album ini menemukan kembali relevansinya dengan realita sosial yang terjadi
saat ini?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar