Cari Blog Ini

Senin, 27 Juni 2016

Dari “Cermin”, “Perahu Retak” dan “Manusia ½ Dewa” (2)

Sebagaimana dikatakan komponis Richard Wagner, guna mendapatkan pemahaman tentang apa itu musik (lagu) tidak cukup hanya dinikmati sebagai sekadar hiburan semata, sebab musik itu sendiri adalah bahasa ekspresi yang memang harus diterjemahkan.
Adalah wajar bila kemudian musik protes ini memiliki spesifikasi tersendiri bukan saja di tengah pergumulan industri musik, tapi juga menjadi bagian tak terpisahkan dari dinamika kehidupan politik yang ada, atau yang sedang berlangsung.
Bahkan tak jarang pula kehadiran musik protes apa itu dalam bentuk album atau single terlahir sebagai bentuk keprihatinan atau reaksi atas apa yang terjadi saat itu. 
Di mana ketidakpuasan ini kemudian  mereka tuangkan dalam bahasa musik sebagai ekspresi kritik sosialnya. Gerak perlawanan ini disimbolisasikan dalam bungkus musik, rock. Di mana mereka tampil dengan membawa spirit rock dengan karakter dan cirinya sendiri. 
Seperti halnya pada ketiga album; Cermin (God Bless, 1980), Perahu Retak (Franky Sahilatua, 1996), dan Manusia ½ Dewa (Iwan Fals, 2004), yang saya anggap di mana secara keseluruhan yang ada di album ini memiliki nafas dan spirit rock yang cukup kental. 
Begitu halnya dengan ketiga album ini, sejauhmana lagu-lagu yang ada di album tersebut mampu menandai tanda-tanda zaman dan menemukan kembali nilai kontekstualnya, semua itu dikembalikan pada realitas sosial perjalanan zaman itu sendiri. 
Karena setiap lagu punya jiwa, nafas dan jalan hidupnya sendiri yang mampu menembus ruang dan waktu untuk menemukan kembali nilai kontekstuanya baik di hari kemarin, hari ini dan hari esok pada sebuah zaman.

Termasuk adakah lagu-lagu yang ada di ketiga album ini menemukan kembali relevansinya dengan realita sosial yang terjadi saat ini?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar