![]() |
| Sawung Jabo (Foto Alex Palit) |
Dari tulisan “Gus Dur
dan Budaya Musik Protes”, saya
kembali teringat saat nonton Sawung Jabo & Sirkus Barock saat gelar “Anak Wayang – Belajar Memaknai Hidup”
di Graha Bhakti Budaya – Taman Imail Marzuki (TIM ) - Jakarta, beberapa waktu
lalu, tetap sarat pesan, perenungan dan kritik sosial. Sebagaimana Jabo
katakan, kami punya cara dan bahasa sendiri untuk menyampaikan pendapat yang
terlahir dari hasil perenungan kami bersama.
“Kami menyadari hidup semakin kering, asing
dan bising, dan kami menolak jadi sinting,” ujarnya.
Dalam pertunjukkan itu, penampilan Jabo tak
seperti biasa yang suka petakilan di atas panggung, kali ini ia lebih khusuk,
sepanjang pertunjukkan lebih banyak duduk di bangku, lebih mengajak penonton
pada suasana berhening diri dan berkontempaltif.
Musik (lagu) itu sendiri tidak sekadar
pengharmonisasian instrumentasi bunyi atau asal genjrang-genjreng, musik adalah
ekpresi batin didalamnya juga mengandung ekspresi luapan emosional, gagasan,
pesan, perenungan, bahkan kritik sosial.
Termasuk pada pilihan lagu kala Jabo
menggelar “Anak Wayang”, bagaimana ia memadukan lagu bertemakan perenungan
hidup dan kritik sosialnya yang tentunya memiliki nilai kontekstual dengan
realita hari ini.
Bahasa musik adalah bahasa yang mengatasi
ruang dan waktu. Bahkan dalam waktu tertentu, bahasa musik menemukan nilai
realitas kontekstualnya pada saat ini.
Di mana secara kontekstual pesan yang
terkandung dalam bahasa musik yang ingin disampaikan langsung terhubung situasi
saat ini, termasuk kritik sosial yang ingin disampaikan.
Selain lagu-lagu bertemakan perenungan hidup,
salah salah lagu di pagelaran “Anak Wayang” sarat muatan kritik sosial adalah
“Sudah Merenungkah Kau Tuan?”.
Yang pasti muatan kritik sosial lagu ini
begitu mengena dan sangat kontekstual dengan realita politik di hari ini, “Sudah Merenungkah Kau Tuan?”;
Sudah merenungkah kau
tuan?
Sebelum kau tidurkan
diri dirimu, jernihkan pikiranmu tuan
Sebelum kau buka
mulutmu
Tuan tanyalah pada
Tuhan, sebelum kau jatuhkan putusan
Jangan tutup mata,
jangan tutup telinga
Jangan pura-pura tidak tahu
Ada yang terluka, ada yang binasa
Jangan pura-pura tidak tahu
Ada yang terluka, ada yang binasa
Oh ya lihatlah
Apa yang sudah terjadi, apa yang sedang terjadi
Apa yang akan terjadi di tanah airku
Matikah nuranimu tuan, tak mampu merasakan cinta
Butakah jiwamu tuan, tak bisa memahami kenyataan...!!!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar