Adalah God Bless.
Sebagai grup band
beraliran rock, God Bless adalah satu-satunya grup musik yang punya komitmen
dan konsistensi dalam mengangkat tema kemausiaan yang menghias di setiap
albumnya.
Spirit ini yang kemudian
menjadi bagian tak terpisahkan dalam komitmen bermusik God Bless, yaitu
keberpihakannya terhadap persoalan humanisme (kemanusiaan) sebagaimana banyak
diangkat dalam tema sentral lirik lagu-lagunya.
Komitmen dan konsistensi mengangkat topik
humanisme, mulai dari isu kemanusiaan pada umum sampai ke ragam kritik
sosialnya menjadi tema sentral lagu-lagu God Bless. Bahkan kalau kita
simak dan dicermati
banyak di antara tema humanisme lirik lagu-lagu yang disuarakan God Bless masih faktual dan kontekstual merepresentasikan realitas sosial yang sedang
kita hadapi saat ini.
Sebagaimana dikatakan
Gus Dur, protesnya musik adalah protes budaya, yaitu protes
yang mengacu pada suatu keadaan atau kasus-kasus yang ada tanpa harus menuding
secara eksplisit kepada siapa pun. Ini pelajaran dari musik protes, tidak
menuding siapa pun.
Sebagai bentuk kreativitas seni kehadiran musik protes ini harus
menyajikan perspektif jangka panjang. Karena itu apa yang diproteskan dalam
musik protes adalah prinsip-prinsip umum dalam yang terjadi dalam realitas
kehidupan, misalnya mengkritisi masalah ketidakadilan atau ketimpangan sosial
lainnya. Di mana budaya musik protes ini menunjukkan sesuatu yang berjangka
panjang, maka musik protes tidak diikat oleh sebuah kasus yang hendak
diceritakan di dalam musik itu sendiri. Ini yang membuat musik protes lepas dari ruang dan waktu. Oleh karenanya musik protes ini bisa ditempatkan jauh lebih spesifik
lagi tak sekadar hiburan semata. Tinggal bagaimana kita menterjemahkan musik
protes sebagai karya kesenian dalam konstelasi politik yang sedang berlangsung.
(alex palit)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar