Cari Blog Ini

Selasa, 21 Juni 2016

Musik dan Strategi Kebudayaan (3)

WR Supratman (Foto Ist.)
Di tengah globalisasi penempatan konsep strategi kebudayaan tidak semata-mata bagaimana kita membuka diri dan bersikap menerima terhadap masuknya unsur-unsur budaya luar, tapi juga harus kuat membentengi diri masuknya elemen-elemen budaya yang bersifat destruktif. Termasuk di dalamnya menangkal nilai-nilai dari luar yang seringkali tidak sesuai dengan norma-norma dan nilai-nilai luhur budaya bangsa. Oleh karena itu dibutuhkan adanya strategi kebudayaan yang jelas arahnya sesuai kepribadian bangsa.

Dengan keberadaan musik sebagai bagian dari strategi kebudayaan haruslah ditempatkan sebagai gerakan kebudayaan. Musik sebagai gerak kebudayaan yang awal-awal senantiasa dikaitkan dengan nilai-nilai estetika kini mengalami distorsi fungsional direduksi sebegitu rupa menjadi kepentingan komoditas. Komersialisasi telah menggantikan estetika. kesenian sebagai ruang kebebasan berekspresi yang otonom kini beralih menjadi kebebasan semu karena semua sudah direduksi untuk kepentingan komersialisasi. Kini bagamana mengembalikan determinasi bangunan menjadikan musik sebagai gerak kebudayaan untuk mengantspasi pengaruh masuknya budaya asing bersifat destruktif yang tidak sesuai dengan kepribadian bangsa.


Alex Palit, citizen jurnalis “Jaringan Pewarta Independen”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar