Mari kita semangati bahwa kita adalah satu, kita adalah
satu saudara yang terlahir dari rahim Ibu Pertiwi. Sehingga tidak alasan bagi
kita untuk meretakkan dan mempolarisasikan
bangunan persaudaraan kita hanya lantaran dipicu oleh beda pendapat dan
beda pilihan. Tak ada alasan pembenar bagi kita untuk saling mencemooh,
menghujat dan memfitnah lantaran beda pendapat pilihan, karena kita adalah
satu, satu saudara yang terlahir dari rahim Ibu Pertiwi.
Di tengah keragaman
suku, budaya, bahasa dan identitas lainnya bahwa kita adalah bangsa yang
diper-satu-kan oleh simbol burung garuda bersemboyankan Bhinneka Tunggal Ika.
Sementara dalam kehidupan keberagamaan, kita meyakini adanya satu Tuhan Yang
Maha Esa sebagai Sanghyang Khalik. Begitu halnya dalam ajaran agama wahyu, kita
adalah satu, keturunan anak cucu Adam dan Hawa.
Sebagai warga negara
atau sebagai warga bangsa, kita adalah satu yang diper-satu-kan oleh NKRI
bersemboyankan Bhinneka Tunggal Ika.
Dan kita pun dipersatukan oleh lagu
kebangsaan yang tak pernah berubah dan masih sama yaitu Indonesia Raya. Semua
ini telah mempersatukan dan menyatukan kita bahwa di tengah keberagaman
kehidupan berbangsa dan bernegara dengan satu semangat bahwa kita adalah satu.
Begitu halnya dalam
hal kebebasan berpendapat menentukan pilihan, mari kita gunakan kejernihan
pikiran kita dengan tetap mengedepankan etika, logika akal sehat, dengan tetap
berpegang pada tradisi luhur kearifan budaya lokal yang mengajarkan kita untuk
tidak secara serta merta saling
mencemooh, menghujat, menfitnah, dan saling meniadakan satu sama lain. (Alex Palit)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar