![]() |
| Gus Dur |
Meski kini telah tiada, tapi setidaknya banyak
pemikiran-pemikiran KH Abdurrahman Wahid yang akrab dipanggil Gus Dur, masih
relevan dan kontekstual dengan kondisi saat ini. Termasuk ketika amatannya
menyoal musik. Sebagai budayawan, Gus Dur bukan saja memiliki wawasan musik
yang sangat luas, tapi juga punya amatan kritis terhadap perkembangan musik pop
Indonesia.
Sebagaimana pernah ia lontarkan saat jadi pembicara
pada peluncuran album “Perahu Retak” (1996), hasil kolaborasi penyanyi balada
Franky Sahilatua dan budayawan Emha Ainun Nadjib sebagai penulis lirik lagu.
Meski pernyataan ini dilontarkan 15 tahun lalu, tapi setidaknya masih
kontekstual dengan realitas kondisi perkembangan musik pop Indonesia yang
terjadi saat ini.
Sebagaimana dikatakan Gus Dur bahwa musik
pop Indonesia saat ini terlalu asyik sendiri sehingga banyak terlepas dari
realitas-realitas sosial lainnya
di sekelilingnya. Kesyaduhan dan ketulusann yang seharusnya terpancar dari
estetika musik, saat ini telah
menghilang.
Dalam
berkarya banyak di antara para musisi atau pencipta lagu tidak lagi memikirkan bagaimana
membuat sebuah lagu yang bisa menyentuh
pendengarnya dengan muatan lirik-lirik yang
edukatif. Melainkan yang ada kini lebih didasari pada
pertimbangan motif kepentingan komersialisasi.
Motif
kepentingan-kepentingan komersial inilah yang oleh Gus Dur telah menghilangkan makna berkesenian.
Dalam hal ini, mantan Presiden RI ke 4 juga
membandingkan dengan lagu-lagu masa perjuangan kemerdekaan yang mampu
membangkitan spirit heroisme dan patriotisme di mana karya-karya itu dibuat
dengan ketulusan dan keikhlasan yang mendalam dari para komponisnya.
Sisi-sisi
itulah yang kini sulit lagi ditemui pada musik sekarang. Karena saat ini
orientasi pencipta lagu mencipta lebih didasarkan untuk pemenuhan kebutuhan
komersial. Semuanya sudah direduksi demi
keberlangsungan kepentingan industri musik budaya popular.
Keberlangsungan
kondisi seperti ini harus diperbaiki dan disikapi secara kritis. Karena itu musik pop
Indonesia perlu menggali yang namanya estetika musik dan sisi-sisi
edukatifnya,
sehingga memberi pengaruh pendengarnya lebih mendalam.
*) Alex Palit, citizen jurnalis “Jaringan Pewarta
Independen”, admin fb “Forum Apresiasi Musik Indonesia” (Formasi)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar