Cari Blog Ini

Selasa, 21 Juni 2016

Gus Dur dan Budaya Musik Protes (1)

Gus Dur
Meski kini telah tiada, tapi setidaknya banyak pemikiran-pemikiran KH Abdurrahman Wahid yang akrab dipanggil Gus Dur, masih relevan dan kontekstual dengan kondisi saat ini. Termasuk ketika amatannya menyoal musik. Sebagai budayawan, Gus Dur bukan saja memiliki wawasan musik yang sangat luas, tapi juga punya amatan kritis terhadap perkembangan musik pop Indonesia.
Sebagaimana pernah ia lontarkan saat jadi pembicara pada peluncuran album “Perahu Retak” (1996), hasil kolaborasi penyanyi balada Franky Sahilatua dan budayawan Emha Ainun Nadjib sebagai penulis lirik lagu. Meski pernyataan ini dilontarkan 15 tahun lalu, tapi setidaknya masih kontekstual dengan realitas kondisi perkembangan musik pop Indonesia yang terjadi saat ini.
Sebagaimana dikatakan Gus Dur bahwa musik pop Indonesia saat ini terlalu asyik sendiri sehingga banyak terlepas dari realitas-realitas sosial lainnya di sekelilingnya. Kesyaduhan dan ketulusann yang seharusnya terpancar dari estetika musik, saat ini telah menghilang.

Dalam berkarya banyak di antara para musisi atau pencipta lagu tidak lagi memikirkan bagaimana membuat sebuah lagu yang bisa menyentuh pendengarnya dengan muatan lirik-lirik yang edukatif. Melainkan yang ada kini lebih didasari pada pertimbangan motif kepentingan komersialisasi.
Motif kepentingan-kepentingan komersial inilah yang oleh Gus Dur telah menghilangkan  makna berkesenian.
Dalam hal ini, mantan Presiden RI ke 4 juga membandingkan dengan lagu-lagu masa perjuangan kemerdekaan yang mampu membangkitan spirit heroisme dan patriotisme di mana karya-karya itu dibuat dengan ketulusan dan keikhlasan yang mendalam dari para komponisnya.
Sisi-sisi itulah yang kini sulit lagi ditemui pada musik sekarang. Karena saat ini orientasi pencipta lagu mencipta lebih didasarkan untuk pemenuhan kebutuhan komersial. Semuanya sudah direduksi demi keberlangsungan kepentingan industri musik budaya popular.
Keberlangsungan kondisi seperti ini harus diperbaiki dan disikapi secara kritis. Karena itu musik pop Indonesia perlu menggali yang namanya estetika musik dan sisi-sisi edukatifnya, sehingga memberi pengaruh pendengarnya lebih mendalam.


*) Alex Palit, citizen jurnalis “Jaringan Pewarta Independen”, admin fb “Forum Apresiasi Musik Indonesia” (Formasi)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar