Sebagai penganut agama
wahyu, kita mempercayai bahwa Nabi Adam adalah manusia pertama ciptaan Tuhan.
Lalu diciptakan Hawa sebagai pasangan hidup yang kemudian beranak-cucu hingga
generasi kita. Kita adalah satu dari keturunan anak Adam.
Jangan sampai agama
sebagai sumber pembawa pesan damai dan cinta kasih dipelintir dan dimanupulasi
untuk tujuan kepentingan politik. Justru bagaimana mengedepankan agama pada pendekatan
religiositas humanistik, ketimbang formalitas dogmatis. Di sini peran musisi
tak lebih dari sekadar pewarta yang mencoba mengekspresikan tanda-tanda zaman
dalam ungkapan bahasa lagu. Seperti terungkap pada lagu rock religius bertajuk Anak Adam, ciptaan Donny
Fattah, berkisah tentang konflik kemanusiaan dilatarbelakangi oleh kepentingan
ideologis,
musiknya digarap dalam nuansa progressive
rock.
Sorotan tentang
kemiskinan, pengangguran, penggusuran, ketidakadilan akibat kepincangan sosial
adalah potret buram wajah ketidakberdayaan golongan masyarakat yang teralienasi
secara struktural adalah potret nyanyian Balada
Sejuta Wajah (Ian Antono & Theodore KS).
Di tengah gemerlap
kehidupan, ketahanan moralitas dan keteguhan keimanan dipertaruhkan menghadapi godaan
yang merangsang hasrat kenikmatan duniawi. Dekadensi moral, hedonisme menjadi
candu gaya kehidupan metropolis, itu diungkapkan lewat pesan lagu Ingat, Insan Sesat dan Cermin.
Berbagai bencana alam seperti tsunami, gempa
bumi, banjir, tanah longsor, letusan gunung berapi, yang terjadi belakangan
ini, akankah menyadarkan dan mengingatkan bahwa semua ini adalah isyarat alam.
Alam mulai enggan dengan ulah manusia. Kita pun tidak berharap semoga cerita Sodom Gomora seperti
dikisahkan baik di Al Quran maupun Injil, tidak akan terjadi.
Untuk
itu, kita pun perlu merenungkan kembali, apakah bencana yang terjadi sebagai
isyarat alam bagian dari drama tanda-tanda zaman Sodom Gomora di bumi yang semakin tua, atau
kita sudah lupa diri akan kuasa alam semesta, kuasa Sanghyang Khalik?
Sejauhmana sebuah karya lagu mampu menandai tanda zaman yang bergerak dalam
ruang dan waktu. Semua dikembalikan lagi pada konteks sosial perjalanan waktu
itu sendiri. Seperti album yang dirilis tahun 1980 menemukan kembali momentum,
dan masih kontekstual dengan realitas sosial persoalan kehidupan berbangsa yang
sedang kita hadapi. Album dirilis 30 tahun silam yang memajang sembilan nomor
lagu ini masih mewakili potret sosial kita hari ini. Beragam peristiwa yang
terjadi hari ini tercermin di album Cermin. (alex palit)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar