Cari Blog Ini

Senin, 27 Juni 2016

Bercermin Pada “Cermin” God Bless (3)

Sebagai penganut agama wahyu, kita mempercayai bahwa Nabi Adam adalah manusia pertama ciptaan Tuhan. Lalu diciptakan Hawa sebagai pasangan hidup yang kemudian beranak-cucu hingga generasi kita. Kita adalah satu dari keturunan anak Adam.
Jangan sampai agama sebagai sumber pembawa pesan damai dan cinta kasih dipelintir dan dimanupulasi untuk tujuan kepentingan politik. Justru bagaimana mengedepankan agama pada pendekatan religiositas humanistik, ketimbang formalitas dogmatis. Di sini peran musisi tak lebih dari sekadar pewarta yang mencoba mengekspresikan tanda-tanda zaman dalam ungkapan bahasa lagu. Seperti terungkap pada lagu rock religius bertajuk Anak Adam, ciptaan Donny Fattah, berkisah tentang konflik kemanusiaan dilatarbelakangi oleh kepentingan ideologis,
musiknya digarap dalam nuansa progressive rock.
Sorotan tentang kemiskinan, pengangguran, penggusuran, ketidakadilan akibat kepincangan sosial adalah potret buram wajah ketidakberdayaan golongan masyarakat yang teralienasi secara struktural adalah potret nyanyian Balada Sejuta Wajah (Ian Antono & Theodore KS).
Di tengah gemerlap kehidupan, ketahanan moralitas dan keteguhan keimanan dipertaruhkan menghadapi godaan yang merangsang hasrat kenikmatan duniawi. Dekadensi moral, hedonisme menjadi candu gaya kehidupan metropolis, itu diungkapkan lewat pesan lagu Ingat, Insan Sesat dan Cermin.
Berbagai bencana alam seperti tsunami, gempa bumi, banjir, tanah longsor, letusan gunung berapi, yang terjadi belakangan ini, akankah menyadarkan dan mengingatkan bahwa semua ini adalah isyarat alam. Alam mulai enggan dengan ulah manusia. Kita pun tidak berharap semoga cerita Sodom Gomora seperti dikisahkan baik di Al Quran maupun Injil, tidak akan terjadi.
                Untuk itu, kita pun perlu merenungkan kembali, apakah bencana yang terjadi sebagai isyarat alam bagian dari drama tanda-tanda zaman Sodom Gomora di bumi yang semakin tua, atau kita sudah lupa diri akan kuasa alam semesta, kuasa Sanghyang Khalik?

Sejauhmana sebuah karya lagu mampu menandai tanda zaman yang bergerak dalam ruang dan waktu. Semua dikembalikan lagi pada konteks sosial perjalanan waktu itu sendiri. Seperti album yang dirilis tahun 1980 menemukan kembali momentum, dan masih kontekstual dengan realitas sosial persoalan kehidupan berbangsa yang sedang kita hadapi. Album dirilis 30 tahun silam yang memajang sembilan nomor lagu ini masih mewakili potret sosial kita hari ini. Beragam peristiwa yang terjadi hari ini tercermin di album Cermin. (alex palit)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar