![]() |
| Sawung Jabo (Foto Alex Palit) |
Jabo memang bukanlah
seorang pengamat atau ahli politik. Ia hanyalah seorang seniman musik. Sebagai
seniman musik, tak bedanya pewarta yang mencoba mewartakan kesaksiannya.
Sebagai seniman musik jalanan, Jabo mencoba mewartakan kesaksian apa yang ia
lihat, hirup dan rasakan dari sepanjang jalanan lewat simbolisasi bahasa musik
berupa nyanyian, sebagaimana yang ia pentaskan bersama kelompok musiknya,
Sirkus Barock, di pagelaran “Cerita dari Jalanan” di TIM – Jakarta, beberap
waktu lalu.
Dan seperti
disebutkan Gus Dur, protesnya musik adalah protes budaya, yaitu protes
yang mengacu pada suatu keadaan atau kasus-kasus yang ada tanpa harus menuding
secara eksplisit kepada siapa pun.
Tapi setidaknya, musik (lagu) sebagai
media komunikasi tak bedanya seperti bahasa, suatu artikulasi bunyi yang
bermakna lebih dari sekadar instrumentasi bunyi yang didalamnya bisa
mengungkapkan cerita-cerita, pesan-pesan, gagasan-gagasan, kritik, atau
bahkan berupa pernyataan sikap, seperti di lagu “Jula-Juli Anak Negeri”; Kami
sudah capek / Hidup kami bengek / Kami bukan bebek / Bukan pula kambing congek.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar