![]() |
| WR Supratman (Foto Ist) |
Sejarah
mencatat bahwa sejarah perjuangan bangsa Indonesia tidak lepas dari peran seniman.
Seniman dengan sentuhan kekuatan karya-karyanya telah
ikut serta berjuang mengukir lahirnya Indonesia sebagai suatu negara-bangsa.
Adalah seniman besar WR Supratman pencipta lagu Indonesia Raya telah mewujudkan
semangat arti kemerdekaan, jauh sebelum Indonesia dapat kita wujudkan sebagai
suatu negara-bangsa yang merdeka dan berdaulat.
Ini menunjukkan bahwa peran kesenian, termasuk seni musik
didalamnya, tak dapat dianggap remeh-temeh dalam kehidupan. Seperti dikatakan
filsuf Plato, kejayaan atau keruntuhan suatu negara dapat disebabkan musik.
Dari musik pula watak, karakter, moralitas identitas dan jati diri keberadaan
suatu masyarakat atau bangsa dapat dipelajari. Untuk itu bagaimana menjadikan
musik sebagai kekuatan dalam pembentukan identitas dan pengukuh jati diri
bangsa.
Dalam perkembangannya musik sebagai gerak kebudayaan
didalamnya juga tidak bisa lepas pergumulan daya saing dan kompetitif. Di sini
kita juga harus memiliki kemampuan memilah-milah mana musik yang baik dan
selaras dengan kepribadian bangsa. Dan tidak serta-merta langsung main telan
tanpa dikunyah terlebih dulu masuknya infiltrasi budaya popular hanya karena
takut dibilang tidak gaul dan trendy. Ketika kedaulatan politik dan ekonomi
sudah terkoyak-koyak oleh kekuatan asing, kini perhatian mereka mulai berpaling
ke seni (musik). Lewat infiltrasi budaya, kekuatan ideologi asing mulai
melakukan pencucian otak.
Untuk itu, musik sebagai gerak kebudayaan harus
ditempatkan menjadi pilar kekuatan dalam mempertahankan dan diperkuatnya
kepribadian serta integritas kita sebagai bangsa. Kehidupan musik sebagai
proses gerak kebudayaan yang berada dalam situasi seperti saat ini tidak bisa
kita lalui tanpa upaya yang sadar. Bukan oleh siapa-siapa, namun oleh kesadaran
seniman itu sendiri serta institusi musik atau institusi budaya yang ikut
berperan di dalamnya.
Sebagai musisi yang sudah malang-melntang di jagad musik
Indonesia, Erwin Gutawa mengakui bahwa dunia musik pop Indonesia saat ini masih
berisi “tiruan” pop Barat. Belum memberikan karakter dan kepribadian
keindonesiaannya. Padahal dengan personality musik yang kuat adalah modal yang
sangat berharga. Kesadaran ini harus tumbuh dari dalam diri senimannya.
Memainkan
musik Indonesia tidak harus didalamnya ada unsur musik tradisionilnya. Justru
yang lebih penting adalah bagaimana menampilkan sebuah musik yang memiliki
karakter dan kepribadian khas Indonesia. itulah tantangan terbesar seniman
musik indonesia saat ini. Bagaimana menemukan karakter dan kepribadian musik
yang bisa disebut “musik Indonesia”. Bagaimana mewujudkannya, semua itu
berpulang kembali pada tingkat kesadaran dan rasa tanggungjawab yang dimiliki
para seniman dalam memaknai musik dalam kehidupan.
Kalau
menurut amatan KH Abdurrahman Wahid, yang biasa disapa Gus Dur, musik pop
Indonesia saat ini terlalu asyik sendiri sehingga banyak terlepas dari
realitas-realitas lain di sekelilingnya. Dalam berkarya para pencipta tidak
lagi memikirkan bagaimana membuat sebuah lagu agar menyentuh pendengarnya,
tetapi lebih didasari pada pertimbangan motif kepentingan komersialisasi
komoditas. Motif kepentingan-kepentingan komersial telah
menghilangkan kesyaduhan dan ketulusan dalam memaknai berkesenian.
Gus Dur juga membandingkan musik saat ini dengan
lagu-lagu masa perjuangan kemerdekaan yang mampu membangkitan spirit heroisme
dan patriotisme di mana karya-karya itu dibuat dengan ketulusan dan keikhlasan
yang mendalam dari para komponisnya. Sisi-sisi itulah yang kini sulit lagi
ditemui pada musik sekarang. Karena saat ini orientasi pencipta lagu mencipta
lebih didasarkan untuk pemenuhan kebutuhan komersial. Keberlangsungan kondisi
seperti ini harus diperbaiki. Musik Indonesia perlu menggali sisi-sisi
edukatifnya sehingga memberi pengaruh pendengarnya lebih mendalam.
Meski dimensi estetika musik dalam kehidupan sifatnya
universal tapi tetap memiliki spesifikasi karakter yang menunjukkan kekhasan
tertentu yang tercermin dari kepribadian dan budayanya. Sehingga di sini fungsi
utama musik akan menjadi potret pencerminan karakter atau kepribadian suatu masyarakat
atau bangsa. Dengan perkataan lain, gaya di dalam kesenian pada hakikatnya
menjadi pelambang identitas kelompok atau bangsa yang memilikinya.
Kreativitas berkesenian memang tidak bisa dibunuh
sekalipun oleh todongan senjata. Namun ketika teknologi mulai mempesona manusia
dengan berbagai kemudahan, kesenangan, dan kenikmatan, seni mulai dipinggirkan
dari seluruh proses kebudayaan. Apalagi ketika hukum-hukum ekonomi mulai
menciptakan kooptasi bisnisnya yang dikendalikan oleh perusahaan transnasional,
kesenian sepertinya tidak berdaya menghadapi kecenderungan ini.
Proses industrialisasi yang awalnya dimaksudkan untuk
semakin mempermudahkan kehidupan manusia, kemudian ternyata justru menempatkan
manusia menjadi bagian yang ditentukan oleh situasi tersebut. Ini yang kemudian
disebut oleh Herbert Marcuse, masyarakat industri modern menjadi masyarakat
satu dimensi, di mana segala segi kehidupan diarahkan untuk satu tujuan yaitu
mengembangkan dan memperkokoh sistem kapitalisme. Oleh karenanya masyarakat
menjadi teralienasi dalam ilusi kesadaran semu. Masyarakat dibuat menjadi pasif
tak berdaya dan menerima saja apa adanya.
Dalam musik pun kita tidak menginginkan menjadi manusia
satu dimensi yang watak-wataknya distandarsasi oleh kekuatan kepentingan semata
industri, melainkan tetap menjadi manusia yang utuh, yakni manusia berbudaya,
berwatak, berkarakter, mengenal dan menghargai karya seni bangsanya sendiri,
mempunyai identitas sendiri dalam pergaulan masyarakat bangsa-bangsa di dunia,
dan mempunyai persepsi historis tentang perjalanan bangsanya dalam sejarah
peradaban manusia.
Dalam perspektif kebudayaan bahwa tangguh atau rapuhnya
ketahanan budaya biasanya dilatari oleh tingkat kesadaran masyarakat yang
bersangkutan dalam mengapresiasi kebudayaannya sebagai pengukuh jatidirinya.
Makin rendah derajat ketahanan budaya masyarakat pendukungnya, makin kuat pula
dominasi budaya asing memainkan pengaruhnya terhadap masyarakat bersangkutan.
Begitupun dampak dari globalisasi akan berpengaruh pula terhadap cara pandang sikap
dan gaya hidup. Dan ini adalah awal dari suatu proses yang akhirnya bisa
membawa pada perubahan sikap mental dan kultural. Kalau kita tidak siap
mengantisipasinya, dengan makin derasnya arus globalisme yang kian meningkat
pada suatu saat niscaya bisa memudarkan nilai-nilai budaya bangsa.
Hegemoni budaya global yang membonceng kemajuan teknologi
informasi dan komunikasi secara perlahan tapi pasti mematikan eksistensi maupun
potensi budaya lokal. Akibat dari hegemoni ini bangsa yang bersangkutan akan
kehilangan identitas dan jati dirinya. Dan tanpa tersadari akan jatuh kembali
menjadi bangsa terjajah secara kultural. Bukan hanya akan terjajah dalam
budaya, bahkan juga dalam ekonomi dan politik. Ketidaksiapan menghadapi
tantangan global harus ditebus dengan harga mahal, seperti hilangnya semangat
kebangsaan, moralitas yang rusak, hingga lemahnya daya saing bangsa. Lemahnya
budaya saing ini membuat bangsa Indonesia tidak siap bersaing di tingkat
global. Karenanya perlu diciptakan budaya saing, budaya unggul, untuk membangun
peradaban baru Indonesia di tengah persaingan era globalisasi. Termasuk dalam
bidang musik.
Untuk
itu, diperlukan peneguhan kembali sikap kita dalam mengapresiasi nilai-nilai
budaya sebagai kekuatan pembentuk jati diri bangsa. Termasuk peneguhan kembali
spirit seniman seperti yang pernah dikumandangkan dalam ikrar ‘Sumpah Pemuda
dan Indonesia Raya’, atau sebagaimana pesan yang disampaikan almarhum Gombloh
lewat cuplikan lagu ciptaanya, yakni Kami
Anak Negeri Ini; Lazuardi gilang gemilang matahari pagi / Membuka hari
menyongsong janji / Bagimu Ibu Pertiwi / Kami anak negeri ini / Disemilir angin
/ Kami dendangkan padamu negeri / Sayang.. di jarimu, di nadimu / Terletak
budaya bangsa.. / Kami anak negeri ini / Dan di dada kami / Tengah tersenyum
Merah Putih / Sayang.. di nafasmu, di pundakmu
/ Terletak martabat bangsa..!
*) Alex
Palit, citizen jurnalis “Jaringan Pewarta Independen”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar