Cari Blog Ini

Senin, 20 Juni 2016

Musik dan Jati Diri Bangsa

WR Supratman (Foto Ist)
Sejarah mencatat bahwa sejarah perjuangan bangsa Indonesia tidak lepas dari peran seniman. Seniman dengan sentuhan kekuatan karya-karyanya telah ikut serta berjuang mengukir lahirnya Indonesia sebagai suatu negara-bangsa. Adalah seniman besar WR Supratman pencipta lagu Indonesia Raya telah mewujudkan semangat arti kemerdekaan, jauh sebelum Indonesia dapat kita wujudkan sebagai suatu negara-bangsa yang merdeka dan berdaulat.
Ini menunjukkan bahwa peran kesenian, termasuk seni musik didalamnya, tak dapat dianggap remeh-temeh dalam kehidupan. Seperti dikatakan filsuf Plato, kejayaan atau keruntuhan suatu negara dapat disebabkan musik. Dari musik pula watak, karakter, moralitas identitas dan jati diri keberadaan suatu masyarakat atau bangsa dapat dipelajari. Untuk itu bagaimana menjadikan musik sebagai kekuatan dalam pembentukan identitas dan pengukuh jati diri bangsa.

Dalam perkembangannya musik sebagai gerak kebudayaan didalamnya juga tidak bisa lepas pergumulan daya saing dan kompetitif. Di sini kita juga harus memiliki kemampuan memilah-milah mana musik yang baik dan selaras dengan kepribadian bangsa. Dan tidak serta-merta langsung main telan tanpa dikunyah terlebih dulu masuknya infiltrasi budaya popular hanya karena takut dibilang tidak gaul dan trendy. Ketika kedaulatan politik dan ekonomi sudah terkoyak-koyak oleh kekuatan asing, kini perhatian mereka mulai berpaling ke seni (musik). Lewat infiltrasi budaya, kekuatan ideologi asing mulai melakukan pencucian otak.
Untuk itu, musik sebagai gerak kebudayaan harus ditempatkan menjadi pilar kekuatan dalam mempertahankan dan diperkuatnya kepribadian serta integritas kita sebagai bangsa. Kehidupan musik sebagai proses gerak kebudayaan yang berada dalam situasi seperti saat ini tidak bisa kita lalui tanpa upaya yang sadar. Bukan oleh siapa-siapa, namun oleh kesadaran seniman itu sendiri serta institusi musik atau institusi budaya yang ikut berperan di dalamnya.
Sebagai musisi yang sudah malang-melntang di jagad musik Indonesia, Erwin Gutawa mengakui bahwa dunia musik pop Indonesia saat ini masih berisi “tiruan” pop Barat. Belum memberikan karakter dan kepribadian keindonesiaannya. Padahal dengan personality musik yang kuat adalah modal yang sangat berharga. Kesadaran ini harus tumbuh dari dalam diri senimannya.
Memainkan musik Indonesia tidak harus didalamnya ada unsur musik tradisionilnya. Justru yang lebih penting adalah bagaimana menampilkan sebuah musik yang memiliki karakter dan kepribadian khas Indonesia. itulah tantangan terbesar seniman musik indonesia saat ini. Bagaimana menemukan karakter dan kepribadian musik yang bisa disebut “musik Indonesia”. Bagaimana mewujudkannya, semua itu berpulang kembali pada tingkat kesadaran dan rasa tanggungjawab yang dimiliki para seniman dalam memaknai musik dalam kehidupan.
Kalau menurut amatan KH Abdurrahman Wahid, yang biasa disapa Gus Dur, musik pop Indonesia saat ini terlalu asyik sendiri sehingga banyak terlepas dari realitas-realitas lain di sekelilingnya. Dalam berkarya para pencipta tidak lagi memikirkan bagaimana membuat sebuah lagu agar menyentuh pendengarnya, tetapi lebih didasari pada pertimbangan motif kepentingan komersialisasi komoditas. Motif kepentingan-kepentingan komersial telah menghilangkan kesyaduhan dan ketulusan dalam memaknai berkesenian.
Gus Dur juga membandingkan musik saat ini dengan lagu-lagu masa perjuangan kemerdekaan yang mampu membangkitan spirit heroisme dan patriotisme di mana karya-karya itu dibuat dengan ketulusan dan keikhlasan yang mendalam dari para komponisnya. Sisi-sisi itulah yang kini sulit lagi ditemui pada musik sekarang. Karena saat ini orientasi pencipta lagu mencipta lebih didasarkan untuk pemenuhan kebutuhan komersial. Keberlangsungan kondisi seperti ini harus diperbaiki. Musik Indonesia perlu menggali sisi-sisi edukatifnya sehingga memberi pengaruh pendengarnya lebih mendalam.
Meski dimensi estetika musik dalam kehidupan sifatnya universal tapi tetap memiliki spesifikasi karakter yang menunjukkan kekhasan tertentu yang tercermin dari kepribadian dan budayanya. Sehingga di sini fungsi utama musik akan menjadi potret pencerminan karakter atau kepribadian suatu masyarakat atau bangsa. Dengan perkataan lain, gaya di dalam kesenian pada hakikatnya menjadi pelambang identitas kelompok atau bangsa yang memilikinya.
Kreativitas berkesenian memang tidak bisa dibunuh sekalipun oleh todongan senjata. Namun ketika teknologi mulai mempesona manusia dengan berbagai kemudahan, kesenangan, dan kenikmatan, seni mulai dipinggirkan dari seluruh proses kebudayaan. Apalagi ketika hukum-hukum ekonomi mulai menciptakan kooptasi bisnisnya yang dikendalikan oleh perusahaan transnasional, kesenian sepertinya tidak berdaya menghadapi kecenderungan ini.
Proses industrialisasi yang awalnya dimaksudkan untuk semakin mempermudahkan kehidupan manusia, kemudian ternyata justru menempatkan manusia menjadi bagian yang ditentukan oleh situasi tersebut. Ini yang kemudian disebut oleh Herbert Marcuse, masyarakat industri modern menjadi masyarakat satu dimensi, di mana segala segi kehidupan diarahkan untuk satu tujuan yaitu mengembangkan dan memperkokoh sistem kapitalisme. Oleh karenanya masyarakat menjadi teralienasi dalam ilusi kesadaran semu. Masyarakat dibuat menjadi pasif tak berdaya dan menerima saja apa adanya.
Dalam musik pun kita tidak menginginkan menjadi manusia satu dimensi yang watak-wataknya distandarsasi oleh kekuatan kepentingan semata industri, melainkan tetap menjadi manusia yang utuh, yakni manusia berbudaya, berwatak, berkarakter, mengenal dan menghargai karya seni bangsanya sendiri, mempunyai identitas sendiri dalam pergaulan masyarakat bangsa-bangsa di dunia, dan mempunyai persepsi historis tentang perjalanan bangsanya dalam sejarah peradaban manusia.
Dalam perspektif kebudayaan bahwa tangguh atau rapuhnya ketahanan budaya biasanya dilatari oleh tingkat kesadaran masyarakat yang bersangkutan dalam mengapresiasi kebudayaannya sebagai pengukuh jatidirinya. Makin rendah derajat ketahanan budaya masyarakat pendukungnya, makin kuat pula dominasi budaya asing memainkan pengaruhnya terhadap masyarakat bersangkutan. Begitupun dampak dari globalisasi akan berpengaruh pula terhadap cara pandang sikap dan gaya hidup. Dan ini adalah awal dari suatu proses yang akhirnya bisa membawa pada perubahan sikap mental dan kultural. Kalau kita tidak siap mengantisipasinya, dengan makin derasnya arus globalisme yang kian meningkat pada suatu saat niscaya bisa memudarkan nilai-nilai budaya bangsa.
Hegemoni budaya global yang membonceng kemajuan teknologi informasi dan komunikasi secara perlahan tapi pasti mematikan eksistensi maupun potensi budaya lokal. Akibat dari hegemoni ini bangsa yang bersangkutan akan kehilangan identitas dan jati dirinya. Dan tanpa tersadari akan jatuh kembali menjadi bangsa terjajah secara kultural. Bukan hanya akan terjajah dalam budaya, bahkan juga dalam ekonomi dan politik. Ketidaksiapan menghadapi tantangan global harus ditebus dengan harga mahal, seperti hilangnya semangat kebangsaan, moralitas yang rusak, hingga lemahnya daya saing bangsa. Lemahnya budaya saing ini membuat bangsa Indonesia tidak siap bersaing di tingkat global. Karenanya perlu diciptakan budaya saing, budaya unggul, untuk membangun peradaban baru Indonesia di tengah persaingan era globalisasi. Termasuk dalam bidang musik.
Untuk itu, diperlukan peneguhan kembali sikap kita dalam mengapresiasi nilai-nilai budaya sebagai kekuatan pembentuk jati diri bangsa. Termasuk peneguhan kembali spirit seniman seperti yang pernah dikumandangkan dalam ikrar ‘Sumpah Pemuda dan Indonesia Raya’, atau sebagaimana pesan yang disampaikan almarhum Gombloh lewat cuplikan lagu ciptaanya, yakni Kami Anak Negeri Ini; Lazuardi gilang gemilang matahari pagi / Membuka hari menyongsong janji / Bagimu Ibu Pertiwi / Kami anak negeri ini / Disemilir angin / Kami dendangkan padamu negeri / Sayang.. di jarimu, di nadimu / Terletak budaya bangsa.. / Kami anak negeri ini / Dan di dada kami / Tengah tersenyum Merah Putih / Sayang.. di nafasmu, di pundakmu / Terletak martabat bangsa..!


*) Alex Palit, citizen jurnalis “Jaringan Pewarta Independen”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar