Semua bisa menulis
lagu. Tapi bagaimana menghasilkan karya cipta sebuah lagu yang secara
musikalitas maupun estetik, mengandung keindahan, menyentuh perasaan, menambah
pengkayaan batin, memberi pencerahan budi, mengandung pesan moralitas, memiliki
keberpihakan terhadap nilai kemanusiaan, bukanlah perkara gampang. Di sini perlu
adanya totalitas, kesadaran dan komitmen yang merujuk pada kepribadian,
tanggungjawab nilai moral, nilai sosial, dan sikap hidup yang harus
dipertaruhkan sebagai saksi kebenaran.
Sebagai saksi
kebenaran, seniman haruslah jujur dalam menyatakan kebenaran yang dilihatnya.
Karena sebuah karya seni begitu dipublikasikan bukan lagi hanya miliknya,
melainkan juga menjadi milik masyarakatnya, milik umat manusia, bahkan menjadi
milik dunia.
Setiap karya seni yang
besar akan membuka mata kita terhadap secercah cahaya kebenaran yang dirasakan
sebagai pengalaman langsung tetapi tak berwujud, sebagai kesadaran kejadian
batin, yang oleh si pencipta seni ditangkap dan dipantulkan lewat karya musik
(lagu).
Kejeniusan si pencipta
seni ialah bahwa dengan karyanya ia dapat mengantar ke dalam jiwa si pembaca
atau si pendengar, dapat menggetarkan irama kebenaran pribadinya sendiri yang
bagi masing-masing berlainan, bergantung pada sudut penglihatan masing-masing,
bergantung pula pada daya dan sifat pemantulan si pencipta tadi.
Seperti banyak
disebutkan para filsuf, keindahan musik bukan hanya sekadar terletak pada
permainan harmonisasi nada, melodi dan lirik, melainkan pada dialektika bunyi.
dialektika bunyi inilah artikulasi sebuah lagu memancarkan makna dan
auranya. Dalam wacana seni realisme, keindahan bunyi pada bahasa musik tidak
sekadar ungkapan simbolis, tapi juga sebuah narasi dari realitas sosial yang
selalu dikaitkan dengan pokok persoalan humanisme (kemanusiaan). (lex)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar