Cari Blog Ini

Minggu, 26 Juni 2016

Seniman Itu Saksi Kebenaran (1)

Semua bisa menulis lagu. Tapi bagaimana menghasilkan karya cipta sebuah lagu yang secara musikalitas maupun estetik, mengandung keindahan, menyentuh perasaan, menambah pengkayaan batin, memberi pencerahan budi, mengandung pesan moralitas, memiliki keberpihakan terhadap nilai kemanusiaan, bukanlah perkara gampang. Di sini perlu adanya totalitas, kesadaran dan komitmen yang merujuk pada kepribadian, tanggungjawab nilai moral, nilai sosial, dan sikap hidup yang harus dipertaruhkan sebagai saksi kebenaran.
Sebagai saksi kebenaran, seniman haruslah jujur dalam menyatakan kebenaran yang dilihatnya.
Karena sebuah karya seni begitu dipublikasikan bukan lagi hanya miliknya, melainkan juga menjadi milik masyarakatnya, milik umat manusia, bahkan menjadi milik dunia.
Setiap karya seni yang besar akan membuka mata kita terhadap secercah cahaya kebenaran yang dirasakan sebagai pengalaman langsung tetapi tak berwujud, sebagai kesadaran kejadian batin, yang oleh si pencipta seni ditangkap dan dipantulkan lewat karya musik (lagu).
Kejeniusan si pencipta seni ialah bahwa dengan karyanya ia dapat mengantar ke dalam jiwa si pembaca atau si pendengar, dapat menggetarkan irama kebenaran pribadinya sendiri yang bagi masing-masing berlainan, bergantung pada sudut penglihatan masing-masing, bergantung pula pada daya dan sifat pemantulan si pencipta tadi.
Seperti banyak disebutkan para filsuf, keindahan musik bukan hanya sekadar terletak pada permainan harmonisasi nada, melodi dan lirik, melainkan pada dialektika bunyi.

dialektika bunyi inilah artikulasi sebuah lagu memancarkan makna dan auranya. Dalam wacana seni realisme, keindahan bunyi pada bahasa musik tidak sekadar ungkapan simbolis, tapi juga sebuah narasi dari realitas sosial yang selalu dikaitkan dengan pokok persoalan humanisme (kemanusiaan). (lex)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar