Cari Blog Ini

Selasa, 21 Juni 2016

Gus Dur dan Budaya Musik Protes (3)

Gus Dur
Dari apa yang dikemukakan Gus Dur, keberadaan musik protes ini menunjukkan pada kita bahwa juga bisa berfungsi memainkan fungsi kontrol sosial. Bahkan musik bisa ditempatkan lebih terhormat tak sekadar hiburan yaitu sebagai pilar kelima demokrasi yang juga ikut andil berfungsi kontrol sosial. Tak hanya peran pers yang bisa berfungsi sebagai kontrol sosial.
Di sini lewat peran kritisnya musik juga bisa berfungsi memainkan kontrol sosial. Tinggal bagaimana mengintegrasikan musik sebagai karya kesenian dalam kegiatan besar manusia yang bernama kebudayaan, atau bidang kehidupan lainnya, seperti moral, kepribadian, edukasi, ketauladanan, juga dalam kehidupan politik.

Karena dalam hal ini kedudukan, status, maupun peran seniman sendiri pada hakekatnya tak bedanya seperti seperti ulama,wartawan atau intelektual.
Di mana lewat perannya yang cukup strategis dalam kehidupan sosial, seniman haruslah berani mewartakan kaidah-kaidah kebenaran dan mengungkap segala bentuk kepalsuan-kepalsuan yang terjadi di masyarakat. Termasuk melawan segala bentuk dehumanisasi.
Fungsi kontrol ini sekaligus menjadi kritik seni yang akan menempatkan dirinya sebagai kritik sosial dalam mengungkap beragam persoalan yang terjadi di masyarakat, seperti pelanggaran hak asasi, kepincangan sosial, ketidakadilan, kesewenang-wenangan atau penyalahgunaan kekuasaan.
Semua ini bisa diangkat menjadi narasi, tema lagu atau nyanyian sebagai bentuk kepekaan, kepedulian dan tanggungjawab sosial seniman.
Bahkan bisa disebutan bahwa bahasa lagu jauh lebih bisa berbicara, karena keberadaaan sebuah lagu memlikki relevansi sosial mengatasi batasan ruang dan waktu. Seperti pada lagu Merah Putih dan Reruntuhan di album Perahu Retak - Franky Sahilatua, yang berkisah tentang bencana kemanusiaan Waduk Kedungombo.
Di sini menunjukkan bahwa kemampuan melihat persoalan bangsa bukan hanya dimiliki kaum politisi. Kaum seniman juga mempunyai kemampuan yang sama dengan bahasa yang berbeda.
Jika para politisi bisa memprediksi persoalan kebangsaan dari analisa politik, sebagai seniman juga bisa bicara bangsa dari analisa-analisa kultural, atau kesenian.
Musik sebagai hiburan juga harus memberi pencerahan dengan lirik atau lagu yang berjiwa dan bermakna bagi kehidupan.
Dalam berkesenian seorang seniman tidak boleh memalingkan diri dari realitas sosial. Bahkan lewat peran kritisnya musik bisa berfungsi sebagai kontrol sosial.


Alex Palit, citizen jurnalis “Jaringan Pewarta Independen”, admin fb “Forum Apresiasi Musik Indonesia” (Formasi)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar