Adalah “Cermin”. Di
antara enam album God Bless, banyak penikmat rock menempatkan album Cermin (1980) yang saat
itu digawangi Achmad Albar (vocal), Ian Antono (gitar), Donny Fattah (bas),
Teddy Sujaya (dram) dan Abadi Soesman (kibor), produksi Jakarta Center (JC) Record,
sebagai mahakarya grup rock legendaris ini, baik secara musikalitas baik dari
sisi aransemen musik, komposisi maupun lirik. Sekaligus menempatkan sebagai
salah satu rekaman album rock Indonesia terbaik.
Tak heran bila album yang kini
masternya ada ditangan Log Zhelebour ini kini menjadi salah satu target buruan
kolektor kaset.
Kembali ke soal
musiknya. Dari sisi tematik, salah satu kekuatan album ini yaitu memiliki
kedalaman dalam mengangkat lirik bermuatan religius. Kiranya tidak berlebihan
menempatkan Cermin
sebagai album rock religius yang digarap dalam sentuhan progressive rock. Bahkan
kalau kita dengarkan lagi album yang dirilis 35 tahun silam, tema lirik lagunya
masih kontekstual dengan kondisi sosial persoalan kehidupan berbangsa yang
sedang kita hadapi.
Musik adalah sebuah
media pewartaan. Jadi, apapun jenis musiknya adalah sah. Memainkan lagu
religius tidak harus dengan patron jenis musik tertentu. Di-rock-kan pun tidak
jadi soal, dan tidak tidak perlu dipersoalkan. Tinggal tergantung selera
masing-masing yang memainkan dan yang mendengarkan.
Karena musik itu
sendiri adalah bahasa universal yang memiliki nilai personal. Justru
yang lebih penting bagaimana kandungan lirik lagu religius tersebut
membangkitkan kesadaran berbuat lebih baik sesuai ajaran nilai agama
keyakinannya. Tidak perlu direpotkan mempersoalkan atau memperdebatkan
apa jenis musik yang mainkan. Kebetulan God Bless adalah grup musik beraliran rock,
jadi yang mereka mainkan dalam ungkapan bahasa rock.
Pemahaman musik
religius di sini tidak harus diartikan secara artifisial dikaitkan dengan
lagu-lagu dalam konteks seremoni atau ritual keagamaan, tapi lebih bagaimana
kita memberi pemaknaan religiositas lewat ungkapan bahasa musik. Dalam konteks
ini bagaimana pengungkapan dan pemaknaan tekstual lirik lagu tersebut mampu
membangunkan kesadaran kritis dalam menjaga harmoni kehidupan baik secara
vertikal dengan Sang Pencipta maupun hubungan horisontal antarsesama.
Di mana kata
religiositas itu sendiri lebih sering dipakai dalam konteks berkaitan ketaatan
formalitas seseorang menjalankan ibadah agamanya. Tapi bagaimana pengertian
religiositas itu membaur dalam kehidupan yang dicontohkan bukan saja dalam
bentuk ketaqwaan kepada Sang Pencipta, juga bagaimana menjaga harmonisasi
hubungan sosial. Bagaimana menjaga kerukunan, saling mengasihi, saling
menghormati dan menghargai, membina kesadaran bertoleransi di tengah dinamika
perbedaan keyakinan sebagai sebuah fitrah. (alex palit)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar