Cari Blog Ini

Senin, 27 Juni 2016

Bercermin Pada “Cermin” God Bless (2)

Adalah “Cermin”. Di antara enam album God Bless, banyak penikmat rock menempatkan album Cermin (1980) yang saat itu digawangi Achmad Albar (vocal), Ian Antono (gitar), Donny Fattah (bas), Teddy Sujaya (dram) dan Abadi Soesman (kibor), produksi Jakarta Center (JC) Record,  sebagai mahakarya grup rock legendaris ini, baik secara musikalitas baik dari sisi aransemen musik, komposisi maupun lirik. Sekaligus menempatkan sebagai salah satu rekaman album rock Indonesia terbaik.
Tak heran bila album yang kini masternya ada ditangan Log Zhelebour ini kini menjadi salah satu target buruan kolektor kaset.
Kembali ke soal musiknya. Dari sisi tematik, salah satu kekuatan album ini yaitu memiliki kedalaman dalam mengangkat lirik bermuatan religius. Kiranya tidak berlebihan menempatkan Cermin sebagai album rock religius yang digarap dalam sentuhan progressive rock. Bahkan kalau kita dengarkan lagi album yang dirilis 35 tahun silam, tema lirik lagunya masih kontekstual dengan kondisi sosial persoalan kehidupan berbangsa yang sedang kita hadapi.
Musik adalah sebuah media pewartaan. Jadi, apapun jenis musiknya adalah sah. Memainkan lagu religius tidak harus dengan patron jenis musik tertentu. Di-rock-kan pun tidak jadi soal, dan tidak tidak perlu dipersoalkan. Tinggal tergantung selera masing-masing yang memainkan dan yang mendengarkan.
Karena musik itu sendiri adalah bahasa universal yang memiliki nilai personal.  Justru yang lebih penting bagaimana kandungan lirik lagu religius tersebut membangkitkan kesadaran berbuat lebih baik sesuai ajaran nilai agama keyakinannya. Tidak perlu direpotkan mempersoalkan atau memperdebatkan apa jenis musik yang mainkan. Kebetulan God Bless adalah grup musik beraliran rock, jadi yang mereka mainkan dalam ungkapan bahasa rock.
Pemahaman musik religius di sini tidak harus diartikan secara artifisial dikaitkan dengan lagu-lagu dalam konteks seremoni atau ritual keagamaan, tapi lebih bagaimana kita memberi pemaknaan religiositas lewat ungkapan bahasa musik. Dalam konteks ini bagaimana pengungkapan dan pemaknaan tekstual lirik lagu tersebut mampu membangunkan kesadaran kritis dalam menjaga harmoni kehidupan baik secara vertikal dengan Sang Pencipta maupun hubungan horisontal antarsesama.

Di mana kata religiositas itu sendiri lebih sering dipakai dalam konteks berkaitan ketaatan formalitas seseorang menjalankan ibadah agamanya. Tapi bagaimana pengertian religiositas itu membaur dalam kehidupan yang dicontohkan bukan saja dalam bentuk ketaqwaan kepada Sang Pencipta, juga bagaimana menjaga harmonisasi hubungan sosial. Bagaimana menjaga kerukunan, saling mengasihi, saling menghormati dan menghargai, membina kesadaran bertoleransi di tengah dinamika perbedaan keyakinan sebagai sebuah fitrah. (alex palit)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar