Menurut Gus Dur, meski
dimensi estetika kesenian dalam
kehidupan manusia sifatnya universal, tapi tetap memiliki spesifikasi corak dan
gaya tersendiri dan khusus, yang menunjukkan watak tertentu dari kebudayaan dan
kepribadiannya.
Fungsi
utama kesenian ialah kemampuannya secara konkret menampilkan karakter atau
kepribadian suatu masyarakat atau bangsa. Dengan perkataan lain, gaya di dalam
kesenian pada hakikatnya menjadi lambang identitas kelompok atau bangsa yang
memilikinya.
Dari apa yang dilontarkan oleh Gus Dur, setidaknya menjadi catatan tersendiri bagi para pemusik itu sendiri,
serta demi keberlangsungan perkembangan kemajuan musik itu sendiri sebagai
bagian dari karya kebudayaan sebagai
cermin peradaban budaya.
Bagaimana
mewujudkannya,
semua itu berpulang kembali pada tingkat kesadaran dan rasa
tanggungjawab yang dimiliki pemusik
pencipta lagu maupun sikap kritis masyarakat penikmat musik
dalam memaknai musik sebagai bagian dari martabat
nilai-nilai peradaban dan kehidupan.
Hal lain yang tak kalah menariknya dari pemikiran Gus Dur di musik yaitu
menyoal keberadaan budaya musik protes. Gus Dur melihat bahwa protesnya musik
adalah protes budaya, yaitu protes yang mengacu pada suatu keadaan atau
kasus-kasus yang ada tanpa harus menuding secara eksplisit kepada siapa pun.
Ini pelajaran dari musik protes, tidak menuding siapa pun.
Dikatakan oleh Gus Dur, sebagai bentuk kreativitas seni kehadiran musik
protes ini harus menyajikan perspektif jangka panjang. Karena itu apa yang
diproteskan dalam musik protes adalah prinsip-prinsip umum dalam yang terjadi
dalam realitas kehidupan, misalnya mengkritisi masalah ketidakadilan atau ketimpangan
sosial lainnya.
Di mana budaya musik protes ini menunjukkan sesuatu yang berjangka panjang,
maka musik protes tidak tidak diikat oleh sebuah kasus yang hendak diceritakan
di dalam musik itu sendiri. Ini yang membuat musik protes lepas dari ruang dan waktu, serta hal-hal
yang terkait dengan kepentingan kekuasaan.
Menurut Gus Dur bahwa keberadaan musik protes ini sendiri tidak selalu lahir
karena adanya tekanan, tetapi juga bisa disebabkan keprihatinan sang seniman atas kondisi
realitas sosial. Lagu protes yang berasal dari
keprihatinan justru lebih baik karena lahir dari dalam, tidak seperti karena
adanya tekanan yang berasal dari luar.
*) Alex Palit, citizen jurnalis “Jaringan Pewarta
Independen”, admin fb “Forum Apresiasi Musik Indonesia” (Formasi)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar