Cari Blog Ini

Selasa, 21 Juni 2016

Gus Dur dan Budaya Musik Protes (2)

Menurut Gus Dur, meski dimensi estetika kesenian dalam kehidupan manusia sifatnya universal, tapi tetap memiliki spesifikasi corak dan gaya tersendiri dan khusus, yang menunjukkan watak tertentu dari kebudayaan dan kepribadiannya.
Fungsi utama kesenian ialah kemampuannya secara konkret menampilkan karakter atau kepribadian suatu masyarakat atau bangsa. Dengan perkataan lain, gaya di dalam kesenian pada hakikatnya menjadi lambang identitas kelompok atau bangsa yang memilikinya.
Dari apa yang dilontarkan oleh Gus Dur, setidaknya menjadi catatan tersendiri bagi para pemusik itu sendiri, serta demi keberlangsungan perkembangan kemajuan musik itu sendiri sebagai bagian dari  karya kebudayaan sebagai cermin peradaban budaya.
Bagaimana mewujudkannya,
semua itu berpulang kembali pada tingkat kesadaran dan rasa tanggungjawab yang dimiliki pemusik pencipta lagu maupun sikap kritis masyarakat penikmat musik dalam memaknai musik sebagai bagian dari martabat nilai-nilai peradaban dan kehidupan.
Hal lain yang tak kalah menariknya dari pemikiran Gus Dur di musik yaitu menyoal keberadaan budaya musik protes. Gus Dur melihat bahwa protesnya musik adalah protes budaya, yaitu protes yang mengacu pada suatu keadaan atau kasus-kasus yang ada tanpa harus menuding secara eksplisit kepada siapa pun. Ini pelajaran dari musik protes, tidak menuding siapa pun.
Dikatakan oleh Gus Dur, sebagai bentuk kreativitas seni kehadiran musik protes ini harus menyajikan perspektif jangka panjang. Karena itu apa yang diproteskan dalam musik protes adalah prinsip-prinsip umum dalam yang terjadi dalam realitas kehidupan, misalnya mengkritisi masalah ketidakadilan atau ketimpangan sosial lainnya.
Di mana budaya musik protes ini menunjukkan sesuatu yang berjangka panjang, maka musik protes tidak tidak diikat oleh sebuah kasus yang hendak diceritakan di dalam musik itu sendiri. Ini yang membuat musik protes lepas dari ruang dan waktu, serta hal-hal yang terkait dengan kepentingan kekuasaan.
Menurut Gus Dur bahwa keberadaan musik protes ini sendiri tidak selalu lahir karena adanya tekanan, tetapi juga bisa disebabkan keprihatinan sang seniman atas kondisi realitas sosial. Lagu protes yang berasal dari keprihatinan justru lebih baik karena lahir dari dalam, tidak seperti karena adanya tekanan yang berasal dari luar.


*) Alex Palit, citizen jurnalis “Jaringan Pewarta Independen”, admin fb “Forum Apresiasi Musik Indonesia” (Formasi)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar