Cari Blog Ini

Senin, 20 Juni 2016

In Memoriam Franky Sahilatua

Franky Sahilatua
(Foto Alex Palit)
Dalam kiprahnya di jagad hiburan blantika musik Indonesia sosok penyanyi balada Franky Sahilatua ini memang punya daya tarik tersendiri untuk diikuti. Pria bernama lengkap Franklin Hubert ini memang sudah terbilang melegenda di panggung musik pop lewat sejumlah karya berirama balada country yang sudah tidak asing lagi, seperti Bis Kota, Musim Bunga, Perjalanan, Lelaki dan Rembulan, dan Kemesraan.
Justru yang tak kalah menariknya untuk disimak dari sosok Franky adalah pengembaraannya yang memasuki segala sisi ruang kehidupan, semua ia dijelajahi. Mulai musik, budaya sampai politik. "It's the real ballad!" kata pria kelahiran Surabaya, 16 Agustus ini.

Semua ruang itu ia masuki untuk menjawab kegelisahannya sebagai seniman. Album Perahu Retak, lagu Menangis, Di Bawah Tiang Bendera, dan Pancasila Rumah Kita, setidaknya adalah bagian dari refleksi kegelisahan sosok penyanyi balada Franky Sahilatua dalam menyikapi kondisi negeri ini.
Franky mengaku bahwa kariernya sebagai pemusik dimulai tahun 1973, berawal dari hobbynya nonton film western yang diselingi musik ilustrsi lagu-lagu cowboy, itulah yang menggugah hatinya untuk dapat memainkan musik yang berirama country.
Corak musik country folk atau balada yang dibawakannya adalah sebagai ciri musiknya. Karena, menurutnya, musik country mampu menyediakan keleluasaan untuk menampung kegelisahan sosial si pemusik lewat tema-tema liriknya. "Buat saya musik country tak lagi cuma warna atau jenis musik. Lebih dari itu: sudah merupakan semangat," ungkapnya. Bagi Franky musik adalah medium bahasa yang pada akhirnya menghasilan suatu kepribadian.
Sebagai penyanyi balada banyak mengangkat tema sosial dalam lirik lagunya. Apa yang ia nyanyikan adalah potret sosial yang diungkapkannya dalam lagu. Franky mengaku, bahwa ia bicara sebagai anak Indonesia hari ini. Ia bicara sebagai anak zaman. Apa yang diungkapkan dalam lirik lagu disebagian di albumnya adalah masalah yang paling dekat dalam realitas kehidupan kita.
Bahkan di album Perahu Retak, yang liriknya ditulis oleh budayawan Emha Ainun Nadjib, dan musiknya digarap Toto Tewel, sarat dengan muatan kritik sosial. Album ini menandai babak baru perjalanan Franky sebagai penyanyi balada.
Di album ini Franky tidak sekadar menggubah syair-syair dari naskah drama Perahu retak karya Cak Nun ini untuk dinyanyikan, tapi Franky mencoba mengapresisiasi lagu tersebut sebagai sebuah realitas sosial, seperti saat membikin video klip lagu Merah Putih dan Reruntuhan, ia terjun langsung ke tema lagu di Kedungombo - Boyolali, Jawa Tengah.
Franky, mengaku tidak ingin hanya sekadar menjadi penyanyi balada etalase. Sebutan balada etalase itu ia gunakan untuk menyebut penyanyi yang hanya sekadar menyanyi tanpa berbuat nyata bagi orang yang disebut-sebut dalam nyanyian baladanya. "Saya harus turun ke lumpur. Kalau saya turun ke jalan, itulah balada yang sesungguhnya, It's the real ballad. Saya tak ingin jadi penyanyi balada etalase," ujar Franky yang kini mengaku lebih pas disebut sebagai penyanyi kebangsaan. Di mana Franky sendiri saat ini lebih banyak aktif dalam kegiatan gerakan kebangsaan, sampai-sampai ikutan turun ke jalanan jadi demonstran. Bahkan dalam aktivitasnya belakangan ini, sebagai seniman, Franky sudah memasuki ranah politik praktis. Salah satunya sebagai aktivis dari gerakan pro demokrasi untuk kebebasan beragama bergabung bersama aktivis dan tokoh-tokoh lintas agama.
Tak heran bila dalam berbagai kesempatan Franky tak selalu menyenandungkan lagu Di Bawah Tiang Bendera yang diciptakan bersama Iwan Fals, dan lagu Pancasila Rumah Kita, ciptaannya. "Di lagu ini, saya sangat terinspirasi oleh WR Supratman dengan lagu Indonesia Raya-nya. Bagimana semangat kebangsaan dibangun melalui lagu dengan memberi fantasi rakyat bahwa di depan ada bangsa, negara, pemerintahan dan kedaulatan," katanya. Dan di sini Franky ingin menggugah kembali rasa semangat kebangsaan kita semua lewat sentuhan musik bahwa `Pancasila Rumah Kita'.

Kemesraan  ini jangan pernah berlalu... Selamat  jalan  mas Franky, karyamu khan kukenang slalu! (alex palit)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar