![]() |
| Franky Sahilatua (Foto Alex Palit) |
Dalam kiprahnya di jagad hiburan blantika musik Indonesia sosok penyanyi
balada Franky Sahilatua ini memang punya daya tarik tersendiri untuk diikuti.
Pria bernama lengkap Franklin Hubert ini memang sudah terbilang melegenda di
panggung musik pop lewat sejumlah karya berirama balada country yang sudah
tidak asing lagi, seperti Bis
Kota, Musim Bunga, Perjalanan, Lelaki dan Rembulan, dan Kemesraan.
Justru yang tak kalah menariknya untuk disimak dari sosok Franky adalah
pengembaraannya yang memasuki segala sisi ruang kehidupan, semua ia dijelajahi. Mulai
musik, budaya sampai politik. "It's
the real ballad!" kata pria kelahiran Surabaya, 16 Agustus ini.
Semua ruang itu ia masuki untuk menjawab kegelisahannya sebagai seniman.
Album Perahu Retak, lagu Menangis, Di Bawah Tiang Bendera, dan Pancasila Rumah Kita, setidaknya
adalah bagian dari refleksi kegelisahan sosok penyanyi balada Franky Sahilatua
dalam menyikapi kondisi negeri ini.
Franky mengaku bahwa kariernya sebagai pemusik dimulai tahun 1973, berawal
dari hobbynya nonton film western yang diselingi musik ilustrsi lagu-lagu
cowboy, itulah yang menggugah hatinya untuk dapat memainkan musik yang berirama
country.
Corak musik country folk atau balada yang dibawakannya adalah sebagai ciri
musiknya. Karena, menurutnya, musik country mampu menyediakan keleluasaan untuk
menampung kegelisahan sosial si pemusik lewat tema-tema liriknya. "Buat
saya musik country tak lagi cuma warna atau jenis musik. Lebih dari itu: sudah
merupakan semangat," ungkapnya. Bagi Franky musik adalah medium bahasa
yang pada akhirnya menghasilan suatu kepribadian.
Sebagai penyanyi balada banyak mengangkat tema sosial dalam lirik lagunya.
Apa yang ia nyanyikan adalah potret sosial yang diungkapkannya dalam lagu.
Franky mengaku, bahwa ia bicara sebagai anak Indonesia hari ini. Ia bicara
sebagai anak zaman. Apa yang diungkapkan dalam lirik lagu disebagian di
albumnya adalah masalah yang paling dekat dalam realitas kehidupan kita.
Bahkan di album Perahu Retak, yang
liriknya ditulis oleh budayawan Emha Ainun Nadjib, dan musiknya digarap Toto
Tewel, sarat dengan muatan kritik sosial. Album ini menandai babak baru
perjalanan Franky sebagai penyanyi balada.
Di album ini Franky tidak sekadar menggubah syair-syair dari naskah drama
Perahu retak karya Cak Nun ini untuk dinyanyikan, tapi Franky mencoba
mengapresisiasi lagu tersebut sebagai sebuah realitas sosial, seperti saat
membikin video klip lagu Merah
Putih dan Reruntuhan, ia terjun langsung ke tema lagu di Kedungombo -
Boyolali, Jawa Tengah.
Franky, mengaku tidak ingin hanya sekadar menjadi penyanyi balada etalase.
Sebutan balada etalase itu ia gunakan untuk menyebut penyanyi yang hanya
sekadar menyanyi tanpa berbuat nyata bagi orang yang disebut-sebut dalam
nyanyian baladanya. "Saya harus turun ke lumpur. Kalau saya turun ke
jalan, itulah balada yang sesungguhnya, It's the real ballad. Saya tak ingin jadi penyanyi balada
etalase," ujar Franky yang kini mengaku lebih pas disebut sebagai penyanyi
kebangsaan. Di mana Franky sendiri saat ini lebih banyak aktif dalam kegiatan
gerakan kebangsaan, sampai-sampai ikutan turun ke jalanan jadi demonstran.
Bahkan dalam aktivitasnya belakangan ini, sebagai seniman, Franky sudah
memasuki ranah politik praktis. Salah satunya sebagai aktivis dari gerakan pro
demokrasi untuk kebebasan beragama bergabung bersama aktivis dan tokoh-tokoh
lintas agama.
Tak heran bila dalam berbagai kesempatan Franky tak selalu menyenandungkan
lagu Di Bawah Tiang Bendera yang
diciptakan bersama Iwan Fals, dan lagu Pancasila Rumah Kita, ciptaannya. "Di lagu ini, saya sangat
terinspirasi oleh WR Supratman dengan lagu Indonesia Raya-nya. Bagimana semangat kebangsaan dibangun
melalui lagu dengan memberi fantasi rakyat bahwa di depan ada bangsa, negara,
pemerintahan dan kedaulatan," katanya. Dan di sini Franky ingin menggugah
kembali rasa semangat kebangsaan kita semua lewat sentuhan musik bahwa `Pancasila Rumah Kita'.
Kemesraan ini jangan pernah berlalu... Selamat jalan mas
Franky, karyamu khan kukenang slalu! (alex palit)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar