Cari Blog Ini

Selasa, 21 Juni 2016

Franky Sahilatua Seniman Pejuang Kemanusiaan (1)

Franky Sahilatua
Kepergian penyanyi dan pencipta lagu Franky Sahilatua bukan hanya menjadi duka mendalam bagi insan musik Indonesia, tapi juga menjadi duka bagi negeri ini. Karena kita sebagai bangsa telah kehilangan Seniman Pejuang Kemanusiaan.

Hal ini dinyatakan oleh budayawan Romo Mudji Sutrisno, saat memberi sambutan doa mewakili kerabat dari lintas agama, yang menyebutkan sahabatnya – Franky Sahilatua –bukan sekadar penyanyi yang lagu-lagunya sarat dengan kritik sosial, tapi juga sebagai Seniman Pejuangan Kemanusiaan.

Dalam kiprahnya di jagad hiburan blantika musik Indonesia sosok penyanyi balada Franky Sahilatua ini memang punya daya tarik tersendiri untuk diikuti. Pria bernama lengkap Franklin Hubert ini memang sudah terbilang melegenda di panggung musik pop lewat sejumlah karya berirama balada country yang sudah tidak asing lagi, seperti Bis Kota, Musim Bunga, Perjalanan, Lelaki dan Rembulan, dan Kemesraan.
Justru yang tak kalah menariknya untuk disimak dari sosok Franky adalah pengembaraannya yang memasuki segala sisi ruang kehidupan, semua ia dijelajahi. Mulai musik, budaya sampai politik. "It's the real ballad!" kata pria kelahiran Surabaya, 16 Agustus ini.
Semua ruang itu ia masuki untuk menjawab kegelisahannya sebagai seniman. Album Perahu Retak, lagu Menangis, Di Bawah Tiang Bendera, dan Pancasila Rumah Kita, setidaknya adalah bagian dari refleksi kegelisahan sosok penyanyi balada Franky Sahilatua dalam menyikapi kondisi negeri ini.
Franky mengaku bahwa kariernya sebagai pemusik dimulai tahun 1973, berawal dari hobbynya nonton film western yang diselingi musik ilustrsi lagu-lagu cowboy, itulah yang menggugah hatinya untuk dapat memainkan musik yang berirama country.
Corak musik country folk atau balada yang dibawakannya adalah sebagai ciri musiknya. Karena, menurutnya, musik country mampu menyediakan keleluasaan untuk menampung kegelisahan sosial si pemusik lewat tema-tema liriknya. "Buat saya musik country tak lagi cuma warna atau jenis musik. Lebih dari itu: sudah merupakan semangat," ungkapnya. Bagi Franky musik adalah medium bahasa yang pada akhirnya menghasilan suatu kepribadian.
Sebagai penyanyi balada banyak mengangkat tema sosial dalam lirik lagunya. Apa yang ia nyanyikan adalah potret sosial yang diungkapkannya dalam lagu. Franky mengaku, bahwa ia bicara sebagai anak Indonesia hari ini. Ia bicara sebagai anak zaman. Apa yang diungkapkan dalam lirik lagu disebagian di albumnya adalah masalah yang paling dekat dalam realitas kehidupan kita.
Bahkan di album Perahu Retak, yang liriknya ditulis oleh budayawan Emha Ainun Nadjib, dan musiknya digarap Toto Tewel, sarat dengan muatan kritik sosial. Album ini menandai babak baru perjalanan Franky sebagai penyanyi balada.

Di album ini Franky tidak sekadar menggubah syair-syair dari naskah drama Perahu retak karya Cak Nun ini untuk dinyanyikan, tapi Franky mencoba mengapresisiasi lagu tersebut sebagai sebuah realitas sosial, seperti saat membikin video klip lagu Merah Putih dan Reruntuhan, ia terjun langsung ke tema lagu di Kedungombo - Boyolali, Jawa Tengah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar