![]() |
| Iwan Fals (Foto: Alex Palit) |
Pelajaran Politik Iwan Fals (1)
Saya bukan Fals
Mania, tapi saya termasuk salah satu
penggemar dari jutaan penggemar penyanyi
balada Iwan Fals. Dan, salah satu lagunya bertemakan
politik yang saya sukai adalah Asik
Nggak Asik, di samping lagu Sumbang.
Dari lirik lagu ini,
saya atau kita banyak mendapat pelajaran
politik dari sahabat saya, Iwan Fals. Apa yang diungkap Iwan lewat
lagu ini adalah pelajaran politik berharga yang bisa dipakai sebagai
bahan perenungan kita semua untuk introspeksi menuju pendewasaan
berpolitik yang beretika dan bermartabat.
Karena apa yang diungkapkan lewat lagu ini sebenarnya luapan kritik
tajam Iwan terhadap prilaku elit politik yang hanya asyik dengan
dirinya sendiri, lebih mementingkan meraup kekuasaan dan harta,
ketimbang mengemban amanat rakyat.
Sebagaimana
dikatakan bahwa dunia politik memang asik
nggak asik.
Bahkan diibaratkan bahwa dunia politik itu
dunia bintang – dunia pesta pora binatang, penuh dengan intrik,
seperti orang adu jangkrik kalau nggak
ngilik nggak asyik. Dunia politik
seperti orang main catur, kalau nggak
ngatur nggak asyik. Rakyat nonton jadi
supporter kasih semangat jagoannya, walau tahu jagoannya ngibul.
Seperti itukah
wajah dunia politik kita? Tapi setidaknya apa yang diungkapkan
penyanyi dengan jutaan massa penggemar lewat lagu Asik
Nggak Asik adalah metafora politik
sebagai gambaran realitas dunia perpolitikan kita
saat ini. Dunia politik dunia bintang –
dunia pesta pora binatang, di sini Iwan bukan bermaksud menuding
bahwa dunia politik dengan aktor politikus
adalah mirip dunia
binatang. Menurut Iwan Fals, bahwa gambaran
dunia politik tak ubahnya seperti panggung
dunia binatang, mirip adu jangkrik, atau seperti orang main catur,
semua itu adalah metafora politik.
Diibaratkan catur,
karena permainan asah otak ini sudah begitu memasyarakat, bisa
dimainkan siapa saja dari rakyat biasa sampai elit politik. Memang,
dunia politik ibarat seperti orang main catur. Dalam bermain catur
lebih mengutamakan kerja otak, bukan mengandalkan otot atau okol
seperti panco, di mana setiap gerak langkah perlu perhitungan matang,
taktik dan strategi untuk membuat lawan mati langkah, tak berdaya
oleh jurus skakmat.
Tak beda di
politik; Seperti orang main catur /
Kalau nggak ngatur nggak asyik / Pion bingung nggak bisa mundur /
Pion-pion nggak mungkin kabur / Raja tenang gerak selangkah sambil
mnyematkan hadiah. Di percaturan
politik nasib pion selalu disodok dikorbankan jadi umpan. Kalau di
catur pion tidak bisa disogok. Sedang di percaturan politik, pion
baru bergerak melangkah kalau sudah disogok. Sementara raja gerak
selangkah sambil menyematkan hadiah (money
politics).
Penyalagunaan
kekuasaan bukan hal baru dalam praktik politik. Kalau dibilang dunia
politik punya hukum sendiri, salah satu hal paling nyata yaitu
kecenderungan penyalahgunaan kekuasaan (abuse
of powers). Seperti kata Lord Acton,
Powers tend to corrupt, and absolute
powers corrupts. Kekuasaan cenderung
berprilaku korup. Dan permainan uang adalah salah satu senjata yang
paling sering digunakan dalam praktik politik.
Kita semua
berharap bahwa dalam setiap
event
politik, baik itu di Pemilu, Pilpres,
maupun Pilkada termasuk haruslah
ditandai sebagai proses pembelajaran dan pendewasaan kehidupan
demokrasi. Termasuk bagaimana menjadikan momentum politik
lainnya yang punya muatan politis sebagai
menjadi proses
pembelajaran pendewasaan
berpolitik, sekaligus menempatkan sebagai barometer tahapan
pendewasaan dalam kehidupan
demokrasi. Hendaknya proses pembelajaran berdemokrasi ini tidak
diwarnai tontonan intrik adu jangkrik, menghalalkan segala cara
untuk menjegal lawan politiknya, termasuk penggunaan money
politics untuk
memenangkan pertarungan. Penghalalan segala cara adalah naluri
animals political.
Berpolitik tanpa moral. Seperti kata Machiavelli, politics
has no relations to moral. Pengabaian
atas nilai moralitas ini yang kemudian banyak orang mengasumsikan
bahwa politik itu kotor, politik itu kejam. Tapi sebenarnya yang
kotor atau kejam itu bukan politiknya, tapi prilaku aktor politiknya
yang mengabaikan nilai moralitas, juga akal sehat, etika, dan etika.
(alex palit)

Semoga Idialismenya didukung oleh kerabat dekatnya, karena saya lebih suka kalau Pak Iwan itu sebagai penyanyi saja bukan yang lain
BalasHapus