Cari Blog Ini

Rabu, 05 Juni 2013

Jula-Juli Sawung Jabo

Sawung Jabo (Foto: Alex Palit)

Jula-Juli Sawung Jabo

            Malam itu (31/5), Sawung Jabo dan Sirkus Barock-nya kembali menggelar konser di Graha Bhakti Budaya – Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, kali ini mengangkat tema “Cerita Dari Jalanan”. Seperti biasa sebagai ciri khas penampilannya di panggung, Jabo menggunakan ikat, blue jeans dan kaos berwarna merah menyala bertuliskan warna putih, “lagu kita masih sama – Indonesia Raya.”  
            Pagelaran “Cerita dari Jalanan” – Sawung Jabo dan Sirkus Barock-nya ini saya anggap lebih menyerupai orasi kebudayaan sebagai yang juga sering digelar di TIM. Bedanya kali ini orasi kebudayaannya dibalut dalam format pertujukkan musik. Dalam pagelaran ini Jabo melakukan orasi lewat untaian lagu-lagu berepertoar politik yang kemudian dibangun menjadi semacam narasi diberi tema “Cerita dari Jalanan”.
            Jabo mengawali pentasnya lewat suguhan Overture, sebuah permainan instrumentasi bunyi para musisi pendukung Sirkus Barock; Toto Tewel (gitar), Endi Baroque (dram), Joel Tampeng (gitar), Ucok Hutabarat (biola), Sinung (bas), Denny Dumbo (perkusi) dan Bagus Mazasupa (kibor). Lewat artikulasi bunyi berupa instrumentasi Overture, Jabo mencoba merepresentasikan penggambaran situasi sosial politik saat ini lewat pemainan instrumentasi bunyi. 
            Dari lagu pembuka berupa Overture, disusul...dan seterusnya, penonton sudah dipukau oleh lagu-lagu beraroma politik yang sarat dengan kritik sosial. Lewat senandung parikan ‘Jula-Juli Anak Negeri”, bagaimana Jabo mengkritisi prilaku elit politik yang ribut tak kunjung henti saling memaki, banyak cincong didepan corong ternyata garong. Dan inilah Jula-Juli Anak Negri; Kami sudah capek / Hidup kami bengek / Kami bukan bebek / Bukan pula kambing congek.
            Lewat lagu Dongeng Politik, Jabo juga menyindir prilaku politisi yang mulur mungkret seperti permen kaset dengan segala intrik dan penghalalan semua cara berebutan kekuasaan, tak peduli abaikan nilai moral dan nilai kesantunan.
            Jabo memang bukanlah seorang pengamat atau ahli politik. Ia hanyalah seorang seniman musik, seniman musin jalanan yang kurang mendapat tempat dalam ideologi budaya popular. Sebagai seniman musik, tak bedanya pewarta yang mencoba mewartakan kesaksiannya. Sebagai seniman musik jalanan, Jabo mencoba mewartakan kesaksian apa yang ia lihat, hirup dan rasakan dari sepanjang jalanan lewat simbolisasi bahasa musik berupa nyanyian. Dan seperti disebutkan Gud Dur, protesnya musik adalah protes budaya, yaitu protes yang mengacu pada suatu keadaan atau kasus-kasus yang ada tanpa harus menuding secara eksplisit kepada siapa pun.
            Termasuk bagaimana Jabo menyikapi kritiknya soal drama korupsi yang kini kian merajalela dilakukan elit politik partai. Lewat lagu “Cerita dari Jalanan”, yang dibawakan secara naratif, Jabo menyorot sebuah drama korupsi berlatar sebuah ironi kemunafikan dilakukan oleh elit politik partai yang punya dasar agama mumpuni.      
            Tak kurang dari 19 lagu ia nyanyikan. Klimaks dari pagelaran “Cerita dari Jalanan”, Jabo membawakan ‘Hio’ yang serentak direspon penonton ikut bernyanyi bersama. Lewat pesan lagu ini, Jabo mengajak penonton untuk tidak mengingkari hati nurani, jujur-jujurlah saja, apa adanya, dan tidak kehilangan akal sehat. 
            Usai lagu ini, Jabo dan Sirkus Barock-nya menyudahi pentasnya. Ternyata penonton belum puas, berteriak bersahutan minta dinyanyikan lagu ‘Badut’. Penonton seakan belum terpuaskan kalau Jabo menyudahi pentasnya sebelum menyanyikan lagu ‘Badut’.
            Pentas “Cerita dari Jalanan” berahir dengan lagu ‘Badut’. Di mana lagu yang pernah populer lewat kelompok musik Swami, liriknya bercerita menyindir prilaku badut-badut politik  berakrobat jumpalitan yang tiap hari kita tonton di televisi, dan kita baca di koran-koran.
            Musik (lagu) sebagai media komunikasi tak bedanya seperti bahasa, suatu artikulasi bunyi yang bermakna lebih dari sekadar instrumentasi bunyi yang didalamnya bisa mengungkapkan cerita-cerita, pesan-pesan, gagasan-gagasan, kritik, atau bahkan berupa pernyataan sikap, soal apapun itu.        
            Bahkan bahasa lagu jauh lebih bisa berbicara, karena keberadaan sebuah lagu memiliki relevansi sosial yang mampu mengatasi batasan ruang dan waktu. Sementara keindahan musik rock bukan sekadar terletak tinggi rendahnya melodi nada, ingar bingarnya irama, raungan distorsi nada, atau puitisnya lirik, melainkan pada dialektika bunyi. Pada dialektika bunyi inilah artikulatif sebuah lagu memancarkan makna dan auranya.
            Akhirnya lewat pagelaran “Cerita dari Jalanan”, Jabo ini menyampaikan pesan bahwa musik tidaklah sekadar genjrang-genjreng, tapi juga penyampaian pesan ‘Jula-Juli Anak Negeri’, dan lewat tulisan di kaos yang dipakainya, Jabo juga mengingatkan kepada kita; lagu kita masih sama – Indonesia Raya, bukan yang lain.

            Lewat pagelaran “Cerita dari Jalanan”, Jabo mengingat kepada kita sebagaimana tersirat di pesan lagu “Hio’; Aku tak mau meningkari hati nurani, aku mau jujur-jujur saja, aku mau bicara apa adanya, dan aku tak mau kehilangan akal sehatku... hio hio hio hiooo! (alex palit)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar