![]() |
| Sawung Jabo (Foto: Alex Palit) |
Jula-Juli Sawung Jabo
Malam
itu (31/5), Sawung Jabo dan Sirkus Barock-nya kembali menggelar konser di Graha
Bhakti Budaya – Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, kali ini mengangkat tema
“Cerita Dari Jalanan”. Seperti biasa sebagai ciri khas penampilannya di
panggung, Jabo menggunakan ikat, blue jeans dan kaos berwarna merah menyala
bertuliskan warna putih, “lagu kita masih sama – Indonesia Raya.”
Pagelaran
“Cerita dari Jalanan” – Sawung Jabo dan Sirkus Barock-nya ini saya anggap lebih
menyerupai orasi kebudayaan sebagai yang juga sering digelar di TIM. Bedanya kali
ini orasi kebudayaannya dibalut dalam format pertujukkan musik. Dalam pagelaran
ini Jabo melakukan orasi lewat untaian lagu-lagu berepertoar politik yang
kemudian dibangun menjadi semacam narasi diberi tema “Cerita dari Jalanan”.
Jabo
mengawali pentasnya lewat suguhan Overture, sebuah permainan instrumentasi
bunyi para musisi pendukung Sirkus Barock; Toto Tewel (gitar), Endi Baroque
(dram), Joel Tampeng (gitar), Ucok Hutabarat (biola), Sinung (bas), Denny Dumbo
(perkusi) dan Bagus Mazasupa (kibor). Lewat artikulasi bunyi berupa
instrumentasi Overture, Jabo mencoba merepresentasikan penggambaran situasi
sosial politik saat ini lewat pemainan instrumentasi bunyi.
Dari
lagu pembuka berupa Overture, disusul...dan seterusnya, penonton sudah
dipukau oleh lagu-lagu beraroma politik yang sarat dengan kritik sosial. Lewat
senandung parikan ‘Jula-Juli Anak Negeri”, bagaimana Jabo mengkritisi
prilaku elit politik yang ribut tak kunjung henti saling memaki, banyak cincong didepan corong ternyata garong. Dan inilah Jula-Juli
Anak Negri; Kami sudah capek / Hidup kami bengek / Kami bukan bebek /
Bukan pula kambing congek.
Lewat
lagu Dongeng Politik, Jabo juga menyindir prilaku politisi yang mulur
mungkret seperti permen kaset dengan segala intrik dan penghalalan semua cara
berebutan kekuasaan, tak peduli abaikan nilai moral dan nilai kesantunan.
Jabo
memang bukanlah seorang pengamat atau ahli politik. Ia hanyalah seorang seniman
musik, seniman musin jalanan yang kurang mendapat tempat dalam ideologi budaya
popular. Sebagai seniman musik, tak bedanya pewarta yang mencoba mewartakan
kesaksiannya. Sebagai seniman musik jalanan, Jabo mencoba mewartakan kesaksian
apa yang ia lihat, hirup dan rasakan dari sepanjang jalanan lewat simbolisasi
bahasa musik berupa nyanyian. Dan seperti disebutkan Gud Dur, protesnya musik adalah
protes budaya, yaitu protes yang mengacu pada suatu keadaan atau kasus-kasus
yang ada tanpa harus menuding secara eksplisit kepada siapa pun.
Termasuk
bagaimana Jabo menyikapi kritiknya soal drama korupsi yang kini kian merajalela
dilakukan elit politik partai. Lewat lagu “Cerita dari Jalanan”, yang dibawakan
secara naratif, Jabo menyorot sebuah drama korupsi berlatar sebuah ironi
kemunafikan dilakukan oleh elit politik partai yang punya dasar agama mumpuni.
Tak
kurang dari 19 lagu ia nyanyikan. Klimaks dari pagelaran “Cerita dari Jalanan”,
Jabo membawakan ‘Hio’ yang serentak direspon penonton ikut bernyanyi bersama.
Lewat pesan lagu ini, Jabo mengajak penonton untuk tidak mengingkari hati
nurani, jujur-jujurlah saja, apa adanya, dan tidak kehilangan akal sehat.
Usai
lagu ini, Jabo dan Sirkus Barock-nya menyudahi pentasnya. Ternyata penonton
belum puas, berteriak bersahutan minta dinyanyikan lagu ‘Badut’. Penonton seakan
belum terpuaskan kalau Jabo menyudahi pentasnya sebelum menyanyikan lagu ‘Badut’.
Pentas
“Cerita dari Jalanan” berahir dengan lagu ‘Badut’. Di mana lagu yang pernah
populer lewat kelompok musik Swami, liriknya bercerita menyindir prilaku
badut-badut politik berakrobat
jumpalitan yang tiap hari kita tonton di televisi, dan kita baca di
koran-koran.
Musik (lagu) sebagai media komunikasi tak bedanya seperti
bahasa, suatu artikulasi bunyi yang bermakna lebih dari sekadar instrumentasi
bunyi yang didalamnya bisa mengungkapkan cerita-cerita, pesan-pesan, gagasan-gagasan, kritik, atau bahkan berupa pernyataan sikap, soal apapun itu.
Bahkan bahasa lagu jauh
lebih bisa berbicara, karena keberadaan sebuah lagu memiliki relevansi sosial
yang mampu mengatasi batasan ruang dan waktu. Sementara keindahan musik rock bukan sekadar terletak
tinggi rendahnya melodi nada, ingar bingarnya irama, raungan distorsi nada,
atau puitisnya lirik, melainkan pada dialektika bunyi. Pada dialektika bunyi inilah artikulatif sebuah lagu
memancarkan makna dan auranya.
Akhirnya
lewat pagelaran “Cerita dari Jalanan”, Jabo ini menyampaikan pesan bahwa musik
tidaklah sekadar genjrang-genjreng, tapi juga penyampaian pesan ‘Jula-Juli Anak
Negeri’, dan lewat tulisan di kaos yang dipakainya, Jabo juga mengingatkan
kepada kita; lagu kita masih sama – Indonesia Raya, bukan yang lain.
Lewat
pagelaran “Cerita dari Jalanan”, Jabo mengingat kepada kita sebagaimana
tersirat di pesan lagu “Hio’; Aku tak mau meningkari hati nurani, aku mau
jujur-jujur saja, aku mau bicara apa adanya, dan aku tak mau kehilangan akal
sehatku... hio hio hio hiooo! (alex palit)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar