Cari Blog Ini

Senin, 27 Juni 2016

Franky Sahilatua dari “Perahu Retak” sampai “Pancasila Rumah Kita” (2)

Pada suatu hari mengatakan kepada saya bahwa saat itu ia bicara sebagai anak Indonesia hari ini. Ia bicara sebagai anak zaman. Apa yang diungkapkan dalam lirik lagu disebagian di albumnya adalah masalah yang paling dekat dalam realitas kehidupan kita.
Sebagai penyanyi yang lagu-lagunya banyak menyuarakan kritik sosial, Franky mengaku tidak ingin hanya sekadar menjadi penyanyi balada etalase. Sebutan balada etalase itu ia gunakan untuk menyebut penyanyi yang hanya sekadar menyanyi tanpa berbuat nyata bagi orang yang disebut-sebut dalam nyanyian baladanya. "Saya harus turun ke lumpur. Kalau saya turun ke jalan, itulah balada yang sesungguhnya, It's the real ballad. Saya tak ingin jadi penyanyi balada etalase," ujar Franky yang mengaku lebih pas disebut sebagai penyanyi kebangsaan.

"Perahu Retak" Franky Sahilatua (1)


Pertemuan Franky Sahilatua dengan budayawan Emha Ainun Nadjib yang akrab dipanggil Cak Nun, bukanlah perjumpaan biasa, di mana keduanya dipertemukan sebagai anak bangsa dalam suasana kebathinan yang sama, sama-sama dalam suasana keprihatinan yang sama menyikapi kondisi bangsanya saat itu.

Bercermin Pada “Cermin” God Bless (3)

Sebagai penganut agama wahyu, kita mempercayai bahwa Nabi Adam adalah manusia pertama ciptaan Tuhan. Lalu diciptakan Hawa sebagai pasangan hidup yang kemudian beranak-cucu hingga generasi kita. Kita adalah satu dari keturunan anak Adam.
Jangan sampai agama sebagai sumber pembawa pesan damai dan cinta kasih dipelintir dan dimanupulasi untuk tujuan kepentingan politik. Justru bagaimana mengedepankan agama pada pendekatan religiositas humanistik, ketimbang formalitas dogmatis. Di sini peran musisi tak lebih dari sekadar pewarta yang mencoba mengekspresikan tanda-tanda zaman dalam ungkapan bahasa lagu. Seperti terungkap pada lagu rock religius bertajuk Anak Adam, ciptaan Donny Fattah, berkisah tentang konflik kemanusiaan dilatarbelakangi oleh kepentingan ideologis,

Bercermin Pada “Cermin” God Bless (2)

Adalah “Cermin”. Di antara enam album God Bless, banyak penikmat rock menempatkan album Cermin (1980) yang saat itu digawangi Achmad Albar (vocal), Ian Antono (gitar), Donny Fattah (bas), Teddy Sujaya (dram) dan Abadi Soesman (kibor), produksi Jakarta Center (JC) Record,  sebagai mahakarya grup rock legendaris ini, baik secara musikalitas baik dari sisi aransemen musik, komposisi maupun lirik. Sekaligus menempatkan sebagai salah satu rekaman album rock Indonesia terbaik.

Bercermin Pada "Cermin" God Bless (1)

Adalah God Bless. Sebagai grup band beraliran rock, God Bless adalah satu-satunya grup musik yang punya komitmen dan konsistensi dalam mengangkat tema kemausiaan yang menghias di setiap albumnya. Spirit ini yang kemudian menjadi bagian tak terpisahkan dalam komitmen bermusik God Bless, yaitu keberpihakannya terhadap persoalan humanisme (kemanusiaan) sebagaimana banyak diangkat dalam tema sentral lirik lagu-lagunya. 
Komitmen dan konsistensi mengangkat topik humanisme, mulai dari isu kemanusiaan pada umum sampai ke ragam kritik sosialnya menjadi tema sentral lagu-lagu God Bless. Bahkan kalau kita simak dan dicermati banyak di antara tema humanisme lirik lagu-lagu yang disuarakan God Bless masih faktual dan kontekstual merepresentasikan realitas sosial yang sedang kita hadapi saat ini.

Dari “Cermin”, “Perahu Retak” dan “Manusia ½ Dewa” (2)

Sebagaimana dikatakan komponis Richard Wagner, guna mendapatkan pemahaman tentang apa itu musik (lagu) tidak cukup hanya dinikmati sebagai sekadar hiburan semata, sebab musik itu sendiri adalah bahasa ekspresi yang memang harus diterjemahkan.
Adalah wajar bila kemudian musik protes ini memiliki spesifikasi tersendiri bukan saja di tengah pergumulan industri musik, tapi juga menjadi bagian tak terpisahkan dari dinamika kehidupan politik yang ada, atau yang sedang berlangsung.
Bahkan tak jarang pula kehadiran musik protes apa itu dalam bentuk album atau single terlahir sebagai bentuk keprihatinan atau reaksi atas apa yang terjadi saat itu. 
Di mana ketidakpuasan ini kemudian  mereka tuangkan dalam bahasa musik sebagai ekspresi kritik sosialnya. Gerak perlawanan ini disimbolisasikan dalam bungkus musik, rock. Di mana mereka tampil dengan membawa spirit rock dengan karakter dan cirinya sendiri. 

Dari “Cermin”, “Perahu Retak” dan “Manusia ½ Dewa” (1)

Dalam kehidupan politik, musik bisa berfungsi sebagai kontrol sosial, dan menempatkan dirinya sebagai kritik sosial dalam mengungkap beragam persoalan yang terjadi di masyarakat, seperti kesewenang-wenangan, ketidakadilan, pelanggaran hak asasi, atau kepincangan sosial lainnya yang terjadi di tengah masyarakat. 
Yang mana semua ini bisa diangkat menjadi narasi, tema lagu atau nyanyian sebagai bentuk kepekaan, kepedulian dan tanggungjawab sosial seniman. 
Pada tataran inilah lewat peran kritisnya musik juga bisa berfungsi memainkan kontrol sosial.

Minggu, 26 Juni 2016

Musik dan Kesadaran Kritis

WR Supratman (foto Ist.)
                Sebagaimana dikatakan filsuf Herbert Marcuse, musik memang tidak dapat mengubah dunia, tetapi musik mampu menyumbangkan satu perubahan kesadaran manusia. Dan pada gilirannya, manusia inilah yang mampu mengubah dunia. Membangun kesadaran kritis inilah menjadi landasan tanggungjawab moral seniman dalam proses berkarya, disamping kejujuran. Jujur dalam berkarya.

Gus Dur: Protesnya musik adalah protes budaya

Gus Dur:
Protesnya musik adalah protes budaya, yaitu protes yang mengacu pada suatu keadaan atau kasus-kasus yang ada tanpa harus menuding secara eksplisit kepada siapa pun. Ini pelajaran dari musik protes, tidak menuding siapa pun.

Richard Wagner: Musik adalah bahasa ekspresi yang harus diterjemahkan

Guna mendapatkan pemahaman tentang apa itu musik (lagu)
tidak cukup hanya dinikmati sebagai sekadar hiburan semata,
sebab musik itu sendiri adalah bahasa ekspresi
yang memang harus diterjemahkan.


(Richard Wagner, komponis asal Jerman)

Seniman Itu Saksi Kebenaran (2)

Orang-orang harus dibangunkan
Aku bernyanyi menjadi saksi
Kenyataan harus dikabarkan
Aku bernyanyi menjadi saksi...
Seperti banyak disebutkan filsuf, keindahan sebuah lagu bukan hanya terletak pada harmonisasi nada, melodi halnya ketika kita dengarkan lagu “Kesaksian”-nya kelompok musik Kantata Takwa, ciptaan Iwan Fals, Jockie Soeryoprayogo dan Sawung Jabo, liriknya ditulis budayawan WS Rendra.

Seniman Itu Saksi Kebenaran (1)

Semua bisa menulis lagu. Tapi bagaimana menghasilkan karya cipta sebuah lagu yang secara musikalitas maupun estetik, mengandung keindahan, menyentuh perasaan, menambah pengkayaan batin, memberi pencerahan budi, mengandung pesan moralitas, memiliki keberpihakan terhadap nilai kemanusiaan, bukanlah perkara gampang. Di sini perlu adanya totalitas, kesadaran dan komitmen yang merujuk pada kepribadian, tanggungjawab nilai moral, nilai sosial, dan sikap hidup yang harus dipertaruhkan sebagai saksi kebenaran.
Sebagai saksi kebenaran, seniman haruslah jujur dalam menyatakan kebenaran yang dilihatnya.

Aristoteles dan Musik

Aristoteles (Foto Ist.)
Menurut Aristoteles (384 – 322 SM) yang juga murid Plato, melihat bahwa fungsi musik bagi kehidupan manusia mempunyai peran ganda. Selain dapat mempengaruhi kejiwaan (psikologis) seseorang misalnya membangkitkan semangat atau emosi, musik juga berfungsi sebagai alat pendidikan yang berguna bagi pengembangan karakter manusia.
                Aristoteles juga menyebut bahwa tujuan dari manusia menikmati musik adalah untuk memperoleh kebahagiaan. Di sini filsuf yang banyak memberikan sumbangan pemikiran tentang logika, etika dan estetika, membagi tingkatan tujuan manusia menikmati musik dalam tiga fase kepuasan;

Muhammad Iqbal dan Musik (2)

Muhammad Iqbal (Foto Ist.)
Dikatakan oleh Iqbal, bahwa kehadiran musik memberi peran dan pengaruh cukup kuat dalam kehidupan manusia, masyarakat dan bangsa. 
Musik yang didalamnya mengandung bait-bait keindahan dan keselarasan harmoni haruslah mengutamakan pesan kebajikan dan mengajarkan kearifan-kearifan pada hidup manusia.

Muhammad Iqbal dan Musik (1)

Muhammad Iqbal (Foto Ist.)
                Pentingnya musik bagi nilai kehidupan ini juga tak luput dari perhatian Muhammad Iqbal, filsuf dan sastrawan asal Pakistan, yang banyak memberi sumbangan pemikiran dalam dunia Islam. Munurut Iqbal, musik bagian dari karya seni tidak mempunyai arti tanpa pertaliannya dengan hidup, manusia dan masyarakat. Tujuan seni adalah hidup itu sendiri.
Oleh karena itu seni harus menciptakan kerinduan kepada hidup yang sublim. Bait-bait yang ada di lagu harus membawakan pesan tentang kehidupan abadi meneruskan tujuan Tuhan.

Sabtu, 25 Juni 2016

Plato dan Musik (2)

Plato (Foto Ist.)

Dikatakan, masyarakat yang memandang musik hanya sebagai hiburan melulu, musik hanya sebagai alat bersenang-senang, serta musik hanya sebagai media umtuk mabuk-mabukan, masyarakat tersebut pastilah masyarakat bermoral rendah.

Plato dan Musik (1)

Plato (Foto Ist.)
Sebagaimana dikemukakan oleh banyak tokoh pemikir kebudayaan, termasuk filsuf, bahwa musik merupakan bagian dari kebudayaan yang tak terpisahkan dari peradaban manusia, masyarakat atau suatu bangsa. 
Bahkan indikasi tinggi-rendahnya peradaban suatu masyarakat atau sebuah bangsa dapat ditelusuri dari nilai-nilai yang terkandung didalamnya, termasuk karya keseniannya yaitu musik. Karena pada dasarnya karya seni (musik) merupakan refleksi perasaan, pikiran, atau cerminan realitas sosial dari nilai-nilai kehidupan yang ada dalam masyarakat tersebut. 
Melalui musik ini pula kita dapat belajar tata nilai baik sosial-budaya, moralitas, spiritual, religius, maupun interaksi antarmanusia dalam kehidupan suatu masyarakat, bangsa atau negara.

Seperti dikemukakan oleh filsuf Plato asal Athena – Yunani (427 – 347 SM),

Kamis, 23 Juni 2016

Lagu Kita Masih Sama: Indonesia Raya (2)

Mari kita nyatakan dengan kejernihan pikiran dan kecerdasan akal sehat bahwa lagu kita masih sama: Indonesia Raya. Mari kembali kita semangati kehidupan berbangsa dan bernegara ini sebagaimana yang nilai-nilai histori yang terkandung dalam spirit Sumpah Pemuda. Mari kita kembali belajar Justru untuk merenungkan, menimbah dan menemukan kembali nilai-nilai tentang sejatinya diri kita dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dari spirit Sumpah Pemuda.

Lagu Kita Masih Sama: Indonesia Raya (1)

Mari kita semangati bahwa kita adalah satu, kita adalah satu saudara yang terlahir dari rahim Ibu Pertiwi. Sehingga tidak alasan bagi kita untuk meretakkan dan mempolarisasikan  bangunan persaudaraan kita hanya lantaran dipicu oleh beda pendapat dan beda pilihan. Tak ada alasan pembenar bagi kita untuk saling mencemooh, menghujat dan memfitnah lantaran beda pendapat pilihan, karena kita adalah satu, satu saudara yang terlahir dari rahim Ibu Pertiwi. 

WR Supratman, Sumpah Pemuda, dan Indonesia Raya (2)

WR Supratman

Siapa sangka Indonesia Raya yang saat itu dimainkan hanya dengan instrumentalis gesekan biola tanpa disertai lirik dan vokal, resonansi nada-nada lagu tersebut mampu menggetar jiwa dan membangkitkan semangat rasa kebangsaan. Bahkan bisa jadi saat itu sang komponis tidak membayangkan bahwa lagu ciptaannya, Indonesia Raya di kemudian hari menjadi lagu kebangsaan, lagu pemersatu bangsa Indonesia.

WR Supratman, Sumpah Pemuda, dan Indonesia Raya (1)

WR Supratman
Sejarah mencatat, bahwa sejarah perjuangan bangsa Indonesia tidak lepas dari peran seniman ikut andil di dalamnya. Salah satunya adalah komponis Wage Rudolf Supratman, pencipta lagu Indonesia Raya. Lewat bahasa musik yang ia tuangkan dalam lagu Indonesia Raya, WR Supratman menunjukkan kepada kita semua akan arti kemerdekaan, akan arti kecintaan dan pengorbanan kepada tanah air, serta akan arti persatuan dan kesatuan.

"Zaman Edan" Franky Sahilatua

Franky Sahilatua (Foto Alex Palit)
Masih dari "Gus Dur dan Budaya Musik Protes", saya diingatkan kembali dengan lagu "Zaman Edan" karya penyanyi balada Franky Sahilatua. Di sini saya tidak ingin mengomentari apakah ini sudah zamannya yaitu zaman edan, di mana orang untuk memenuhi hasrat duniawinya sudah pada main sikut-sikutan atau penghalalan cara-cara sejenis lainnya demi mengejar ambisi kedudukan, kuasa, dan jabatan, untuk mendapatkan pesugihan.
Di mana praktik untuk mendapatkan pesugihan tidak lagi dilakukan di tempat-tempat yang dianggap keramat, kini beralih ke gedung-gedung elitis yang megah, seperti di gedung DPR, birokrasi pemerintahan.

"Manusia 1/2 Dewa" Iwan Fals

Iwan Fals (Foto Alex Palit)
Masih dari tulisan “Gus Dur dan Budaya Musik Protes”, saya diingatkan kembali dengan lagu “Manusia ½ Dewa” – Iwan Fals. Meski lagu ini dirilis tahun 2004, tapi setidaknya lagu ini masih kontekstual dengan realita yang ada di hari ini sebagaimana yang tersirat di lagu tersebut;

Wahai presiden kami yang baru
Kamu harus dengar suara ini

“Rayap-Rayap” Mogi Darusman

Masih dari tulisan “Gus Dur dan Budaya Musik Protes”, saya diingatkan kembali pada lagu yang liriknya sarat sosial  berjudul “Rayap-rayap, (Mogi Darusman – Aje Gile, 1978). Lagu yang liriknya ditulis penulis novel Ali Topan Anak Jalanan - Teguh Esha. Simak saja liriknya;

Rabu, 22 Juni 2016

"Lagu Capek" Franky Sahilatua


Masih dari tulisan “Gus Dur dan Budaya Musik Protes”, saya diingatkan kembali dengan lagu “Lagu Capek” nyanyian Franky Sahilatua, liriknya ditulis budayawan Emha Ainun Nadjib.

Leo Kristi: Di mana Diri Seorang Kesatria? (2)

Leo Kristi (Foto Endah Sulwesi)
Benarkah saat ini kita sedang mengalami krisis kepemimpinan? Lihat saja bagaimana mereka berakrobat jumpalitan sambil melempar bola kesalahan pada orang lain untuk dijadikan kambing hitam, maling teriak maling, lempar batu sembunyi tangan.
Tak ada lagi keindahan, tak ada ada lagi etika dan estetika berpolitik yang dipertontonkan mereka. Semuanya semu dan penuh basa-basi topeng-topeng kemunafikan politik.

Leo Kristi: Di Mana Diri Seorang Pemimpin? (1)

Leo Kristi

Dari tulisan “Gus Dur dan Budaya Musik Protes”, tiba-tiba saya diingatkan kembali dengan lagu “Nyanyian Tambur Jalan Komedi Badut Pasar”, ciptaan Leo Kristi; Jerat menjerat dalam lingkaran komedi badut badut / Di mana diri seorang pemimpin?/ Di mana diri seorang pemimpin?/ Todong menodong dalam lingkaran komedi badut-badut / Di mana diri seorang kesatria? / Di mana diri seorang kesatria?

Sawung Jabo: Sudah Merenungkah Kau Tuan? (2)

Sawung Jabo (Foto Alex Palit)
Dari tulisan “Gus Dur dan Budaya Musik Protes”, saya kembali teringat saat nonton Sawung Jabo & Sirkus Barock saat gelar “Anak Wayang – Belajar Memaknai Hidup” di Graha Bhakti Budaya – Taman Imail Marzuki (TIM ) - Jakarta, beberapa waktu lalu, tetap sarat pesan, perenungan dan kritik sosial. Sebagaimana Jabo katakan, kami punya cara dan bahasa sendiri untuk menyampaikan pendapat yang terlahir dari hasil perenungan kami bersama.
“Kami menyadari hidup semakin kering, asing dan bising, dan kami menolak jadi sinting,” ujarnya.

Masih "Jula-Juli Anak Negeri" Sawung Jabo (1)

Sawung Jabo (Foto Alex Palit)
Dari tulisan “Gus Dur dan Budaya Musik Protes”, tiba-tiba saya diingatkan kembali dengan lagu “Jula-Juli Anak Negeri” – Sawung Jabo; Kami sudah capek / Hidup kami bengek / Kami bukan bebek / Bukan pula kambing congek.

Selasa, 21 Juni 2016

Gus Dur dan Budaya Musik Protes (3)

Gus Dur
Dari apa yang dikemukakan Gus Dur, keberadaan musik protes ini menunjukkan pada kita bahwa juga bisa berfungsi memainkan fungsi kontrol sosial. Bahkan musik bisa ditempatkan lebih terhormat tak sekadar hiburan yaitu sebagai pilar kelima demokrasi yang juga ikut andil berfungsi kontrol sosial. Tak hanya peran pers yang bisa berfungsi sebagai kontrol sosial.

Gus Dur dan Budaya Musik Protes (2)

Menurut Gus Dur, meski dimensi estetika kesenian dalam kehidupan manusia sifatnya universal, tapi tetap memiliki spesifikasi corak dan gaya tersendiri dan khusus, yang menunjukkan watak tertentu dari kebudayaan dan kepribadiannya.

Gus Dur dan Budaya Musik Protes (1)

Gus Dur
Meski kini telah tiada, tapi setidaknya banyak pemikiran-pemikiran KH Abdurrahman Wahid yang akrab dipanggil Gus Dur, masih relevan dan kontekstual dengan kondisi saat ini. Termasuk ketika amatannya menyoal musik. Sebagai budayawan, Gus Dur bukan saja memiliki wawasan musik yang sangat luas, tapi juga punya amatan kritis terhadap perkembangan musik pop Indonesia.

Kesaksian...!!!

Orang-orang harus dibangunkan
Aku bernyanyi menjadi saksi
Kenyataan harus dikabarkan
Aku bernyanyi menjadi saksi...
Seperti banyak disebutkan filsuf, keindahan sebuah lagu bukan hanya terletak pada harmonisasi nada, melodi halnya ketika kita dengarkan lagu “Kesaksian”-nya kelompok musik Kantata Takwa, ciptaan Iwan Fals, Jockie Soeryoprayogo dan Sawung Jabo, liriknya ditulis budayawan WS Rendra.

Franky Sahilatua: It's The Real Ballad (2)

Franky Sahilatua
Sebagai penyanyi, Franky Sahilatua mengaku tidak ingin hanya sekadar menjadi penyanyi balada etalase. Sebutan balada etalase itu ia gunakan untuk menyebut penyanyi yang hanya sekadar menyanyi tanpa berbuat nyata bagi orang yang disebut-sebut dalam nyanyian baladanya. "Saya harus turun ke lumpur. Kalau saya turun ke jalan, itulah balada yang sesungguhnya, it's the real ballad. Saya tak ingin jadi penyanyi balada etalase," ujar Franky yang kini mengaku lebih pas disebut sebagai penyanyi kebangsaan.

Franky Sahilatua Seniman Pejuang Kemanusiaan (1)

Franky Sahilatua
Kepergian penyanyi dan pencipta lagu Franky Sahilatua bukan hanya menjadi duka mendalam bagi insan musik Indonesia, tapi juga menjadi duka bagi negeri ini. Karena kita sebagai bangsa telah kehilangan Seniman Pejuang Kemanusiaan.

Musik dan Strategi Kebudayaan (3)

WR Supratman (Foto Ist.)
Di tengah globalisasi penempatan konsep strategi kebudayaan tidak semata-mata bagaimana kita membuka diri dan bersikap menerima terhadap masuknya unsur-unsur budaya luar, tapi juga harus kuat membentengi diri masuknya elemen-elemen budaya yang bersifat destruktif. Termasuk di dalamnya menangkal nilai-nilai dari luar yang seringkali tidak sesuai dengan norma-norma dan nilai-nilai luhur budaya bangsa. Oleh karena itu dibutuhkan adanya strategi kebudayaan yang jelas arahnya sesuai kepribadian bangsa.

Musik dan Strategi Kebudayaan (2)

WR Supratman (Foto Ist)
Dalam sarasehan budaya bertajuk "Dinamika Kebudayaan dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara", diantaranya menghadirkan pembicara sosiolog Ignas Kleden dan Pemimpin Umum Harian Kompas Jakob Oetama. Dikatakan oleh Ignas Kleden bahwa selama ini kebudayaan masih kerap dipahami secara ontologis.

Musik dan Strategi Kebudayaan (1)

WR Supratman (Foto Ist.)
Dalam perspektif kebudayaan, musik sebagai bagian unsur kesenian dari kebudayaan tidak bisa lepas dari realitas sosial dinamika kehidupan yang berkembang di masyarakat bersangkutan. Sebagai seni, musik tidak lepas dari kehidupan. Bahkan nilai-nilai intrinsik dari sebuah karya musik (lagu) pada skala tertentu merupakan pencerminan yang merepresentasikan gambaran kondisi sosio-kultural yang terkait dengan bidang-bidang kehidupan lainnya, termasuk ketahanan budaya suatu bangsa.

Senin, 20 Juni 2016

Musik dan Realitas Sosial

WR Supratman (Foto Ist)

Menurut komponis Richard Wagner, musik adalah puisi bunyi, dan bukannya nada berpuisi. Untuk mendapatkan pengertian tentang musik masih diperlukan pemahaman yang tidak cukup dinikmati dan dialami saja, sebab musik adalah bahasa ekspresi yang memang harus diterjemahkan. Salah satunya, musik sebagai bagian dari kebudayaan keberadaannya tidak bisa dilepaskan dari nilai-nilai yang hidup di masyarakat bersangkutan. Dari watak musiknya suatu masyarakat atau bangsa dapat dipelajari.

Musik dan Jati Diri Bangsa

WR Supratman (Foto Ist)
Sejarah mencatat bahwa sejarah perjuangan bangsa Indonesia tidak lepas dari peran seniman. Seniman dengan sentuhan kekuatan karya-karyanya telah ikut serta berjuang mengukir lahirnya Indonesia sebagai suatu negara-bangsa. Adalah seniman besar WR Supratman pencipta lagu Indonesia Raya telah mewujudkan semangat arti kemerdekaan, jauh sebelum Indonesia dapat kita wujudkan sebagai suatu negara-bangsa yang merdeka dan berdaulat.

Potret Zaman - Zaman Edan

Suket (Foto Alex Palit)

Kalau kekuasaan dianggap jalan keluar
Akan semakin banyak kejanggalan
Wajah-wajah letih hanya memandang
Namun mata hatinya
Mata hatinya bergejolak
Aku tak mengerti apa yang dicari
Aku tetap tak mengerti
Apa yang diingini
O o... O o...

Sejuta Wajah Panggung God Bless

"Sejuta Wajah Panggung God Bless"
Karya fotografer Evan Antono

Pelajaran Politik Iwan Fals (2)

Dunia politik memang asyik nggak asyik, kadang asyik kadang nggak, di situ yang asyik. Meski didalamnya dipenuhi intrik dan kecurangan. Seperti kata Iwan; Colong sana colong sini atau colong-colongan / Seperti orang nyolong mangga kalau gak nyolong gak asyik.

Pelajaran Politik Iwan Fals (1)

Saya bukan Fals Mania, tapi saya termasuk salah satu penggemar dari jutaan penggemar penyanyi balada Iwan Fals. Dan, salah satu lagunya bertemakan politik yang saya sukai adalah Asik Nggak Asik, di samping lagu Sumbang. Dari lirik lagu ini, saya atau kita banyak mendapat pelajaran politik dari sahabat saya, Iwan Fals. Apa yang diungkap Iwan lewat lagu ini adalah pelajaran politik berharga yang bisa dipakai sebagai bahan perenungan kita semua untuk introspeksi menuju pendewasaan berpolitik yang beretika dan bermartabat.

Sawung Jabo: Jujur dalam Berkarya

Sawung Jabo (Foto Alex Palit)
Seperti biasa setiapkali Sawung Jabo manggung di Taman Ismail Marzuki (TIM) – Jakarta, saya tidak pernah absen nonton. Insyah Allah di pagelaran “Perjalanan Waktu – Sawung Jabo” pada 23 Mei 2015, nanti juga harus hadir, sekalian saya manfaatkan reunian dengan teman lama.
Karena acaranya beberapa hari lagi, dalam kesempatan ini saya hanya sedikit mereview sosok apa dan siapa Sawung Jabo yang saya kenal dalam amatan sedikit filosofis.
Bagi saya, seniman atau musisi itu tak bedanya dengan ulama, cendikiawan atau wartawan yaitu mewartakan kebenaran dan kebajikan.

In Memoriam Franky Sahilatua

Franky Sahilatua
(Foto Alex Palit)
Dalam kiprahnya di jagad hiburan blantika musik Indonesia sosok penyanyi balada Franky Sahilatua ini memang punya daya tarik tersendiri untuk diikuti. Pria bernama lengkap Franklin Hubert ini memang sudah terbilang melegenda di panggung musik pop lewat sejumlah karya berirama balada country yang sudah tidak asing lagi, seperti Bis Kota, Musim Bunga, Perjalanan, Lelaki dan Rembulan, dan Kemesraan.
Justru yang tak kalah menariknya untuk disimak dari sosok Franky adalah pengembaraannya yang memasuki segala sisi ruang kehidupan, semua ia dijelajahi. Mulai musik, budaya sampai politik. "It's the real ballad!" kata pria kelahiran Surabaya, 16 Agustus ini.

Budaya Popular dan Pergeseran Nilai

WR Supratman (Foto Ist.)
Harus kita akui bahwa budaya popular telah merubah sikap, komitmen, dan orientasi kepentingan seniman dalam mengapresiasi seni. Seperti kita saksikan di tengah maraknya konser, pertunjukan, tontonan musik baik yang digelar secara out door, in door, maupun tayangan di layar kaca televisi, perfoma para artis ini sudah dimanipulir untuk kepentingan dan persaingan dagang, ketimbang apresiasi seninya. Di sini artis sudah menjadi merek dagang dari barang dagangan yang mensponsori, ketimbang penonjolan unsur estetika atau apresiasi seninya. Ruang apresiasi mereka sudah dibatasi oleh image atau propaganda pencitraan komoditas dari pihak sponsor atau production house.
Bukan tidak mungkin di balik kedok-kedok kepentingan bisnis terselip pula propaganda atau penyusupan ideologi. Dalam konteks kepentingan bisnis, keberadaan para artis ini diperlakukan tak lebih dari sekadar instrumen komoditas.

Musik Pop dan Budaya Popular

WR Supratman (Foto Ist.)
Setiapkali memperbincangkan budaya popular (popular culture) hampir dipastikan perhatian kita tidak lepas dari kajian teori kritisnya Mazhab Frankfrut yang digulirkan oleh Max Horkheimer, Theodor W. Adorno atau Herbert Marcuse. Dalam analisis teori kritisnya, menyebutkan kebudayaan masyarakat zaman ini sebagai kebudayaan industri, di mana teknologi telah menjadi ideologi.

Musik dan Kehidupan

WR Supratman (Foto Ist.)
Pada hakikatnya musik tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Adalah hal yang sangat keliru bila keberadaan musik hendak dipisahkan dari bidang-bidang kehidupan manusia lainnya. Bahkan diyakini bahwa musik memiliki kekuatan yang dapat berpengaruh terhadap sendi-sendi kehidupan manusia. Begitu pula musik sebagai bagian dari kebudayaan keberadaannya tidak bisa dilepaskan dari nilai-nilai yang hidup di masyarakat bersangkutan.
Sebagaimana dikemukakan oleh banyak tokoh pemikir kebudayaan, bahwa seni – temasuk seni musik di dalamnya – merupakan bagian dari kebudayaan yang tak terpisahkan dari peradaban manusia, masyarakat atau suatu bangsa. Bahkan indikasi tinggi-rendahnya peradaban suatu masyarakat atau sebuah bangsa dapat ditelusuri dari nilai-nilai terkandung didalamnya, termasuk dari watak-watak karya keseniannya.

Akhirnya Log Zhelebour Luncurkan Album “Cermin” God Bless

Kover album "Cermin" God Bless (Foto dok. Log Z)
Adalah “Cermin”. Di antara enam album God Bless, banyak penikmat rock menempatkan album Cermin (1980) yang saat itu digawangi Achmad Albar (vocal), Ian Antono (gitar), Donny Fattah (bas), Teddy Sujaya (dram) dan Abadi Soesman (kibor), produksi Jakarta Center (JC) Record, sebagai mahakarya grup rock legendaris ini, baik secara musikalitas baik dari sisi aransemen musik, komposisi maupun lirik.
Sekaligus menempatkan sebagai salah satu rekaman album rock Indonesia terbaik.