Saat ini cukup
banyak kemunculan album baru yang dirilis dari sejumlah artis musik
kita baik itu yang pendatang baru maupun yang sudah cukup lama
bercokol di blantika musik Indonesia yang sengaja lagu unggulan atau
gacoan mengandalkan mendaur ulang lagu-lagu pop(ular) yang pernah
ngetop. Kenapa kecenderungan atau trend mendaur ulang ini juga
diberlakukan pada lagu-lagu tradisi / daerah Nusantara dalam balutan
aransemen musik masa kini.
Dan
perbincangan seputar penyertaan atau menyelipkan lagu daerah
Nusantara di Forum Apresiasi Musik Indonesia (Formasi) ini mendapat
respon positif. Sebagaimana kalau kita mengikuti diskusi musik yang
dilontarkan oleh Ote Abadi "Saran 2011" di Formasi, yang
banyak mendapat komentar/tanggapan positif ini responnya mengkristal
pada satu inti kenapa tidak dicoba di mana disetiap album baru baik
itu artis penyanyi atau grup band untuk menyertakan (kalau perlu
sebagai sebuah kewajiban, menyelipkan) “Satu Lagu Daerah Nusantara”
di album tersebut.
Kami
kira apa yang dilontarkan oleh Ote Abadi ini adalah suatu gagasan
bernas yang layak untuk diapresiasi oleh musisi kita. Di tengah
semakin banyaknya mengangkat kembali lagu daur ulang, sudah
selayaknya kesadaran semacam ini harus dibangkitkan dan ditumbuhkan
pula khususnya dalam jiwa penyanyi dan musisi muda kita.
Kala
itu banyak artis penyanyi jadul kita tak segan-segan menyelipkan lagu
daerah dalam rekaman album musik popnya, seperti; Dondong Opo Salak
(Pattie bersaudara), Anging Mamiri (Lilis Suryani), Sansaro (Bing
Slamet), Inang (Emillia Contessa), dan masih banyak lagi yang
lainnya. Atau bagaimana seorang maestro Elfa Secioria bikin album
Indonesian With Love. Di mana kesadaran itu timbul karena rasa bangga
dengan karya-karya lagu tradisionil/daerah Nusantara. Apalagi
sekarang lagi musim lagu daur ulang, kenapa tidak lagu daerah didaur
ulang dengan sentuhan musik era kini. Ambil contoh bahwa popularitas
lagu Garuda di Dadaku (Netral) tidak lepas dari notasi nada lagu
daerah asal Papua, Apuse, yang memang sudah akrab di telinga
masyarakat Indonesia.
Sebagaimana
komentar Baim Gondrong, marilah, kesadaran ini kita bangkitkan dan
ditumbuhkan pada musisi muda kita. Disamping tujuannya untuk
memperkenalkan dan memasyarakatkan kembali lagu-lagu daerah.
Bagaimanapun juga lagul-lagu daerah Nusantara ini adalah kekayaan,
warisan dan harta karun karya budaya seni musik Nusantara yang harus
tetap diapresiasi, dilestarikan dan dijaga sebagai kekayaan dan
kebanggaan warisan budaya bangsa Indonesia. Sangat disayangkan kalau
sampai hilang ditelan zaman.
Menurut musisi jadul Johny Rodith, tahun 70-an ada suatu trend musik di kalangan anak-anak sekolah SMP/SMU dan remaja yang disebut 'folk song' berupa festival vocal group yang 99,9% membawakan lagu2 daerah. Kalau menyimak kecenderungan materi musik pop masa kini perlu adanya imbangan-imbangan dibangkitkan dan ditumbuhkannya musik-musik macam folk song atau festival vocal group. Johny Rodith juga mencontohkan, pada tahun 1970-an lahir nama-nama seperti Pahama, Bourest atau Country Jack yang mana mereka ini adalah kelompok musik vocal grup mampu berkiprah di pentas musik nasional.
Menurut musisi jadul Johny Rodith, tahun 70-an ada suatu trend musik di kalangan anak-anak sekolah SMP/SMU dan remaja yang disebut 'folk song' berupa festival vocal group yang 99,9% membawakan lagu2 daerah. Kalau menyimak kecenderungan materi musik pop masa kini perlu adanya imbangan-imbangan dibangkitkan dan ditumbuhkannya musik-musik macam folk song atau festival vocal group. Johny Rodith juga mencontohkan, pada tahun 1970-an lahir nama-nama seperti Pahama, Bourest atau Country Jack yang mana mereka ini adalah kelompok musik vocal grup mampu berkiprah di pentas musik nasional.
Eri
Anugerah menambahkan bahwa lagu-lagu daerah memang perlu
diperkenalkan lagi, terutama untuk anak-anak agar mereka bisa lebih
banyak mengenal lagi dan menyanyikannya di saat minimnya rekaman lagu
anak-anak. Langkah ini dianggap sebagai salah satu alternatif
memperkenalkan kembali lagu-lagu daerah Nusantara, ketimbang mereka
harus mendengarkan lagu orang dewasa yang syairnya sebenarnya tidak
cocok untuk seusia mereka. Departemen Pendidikan
dan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata seharusnya mempunyai
tanggungjawab untuk ini, tegasnya. Langkah penyertaan lagu-lagu
daerah di album rekaman musik pop ini pula yang disebut Memet
Budiarto sebagai Kebangkitan Bangsa. Karena munurut Memet, musik
(lagu) daerah ini bukan cuma kekayaan budaya bangsa tapi juga menjadi
bagian dari world music yang harus mendunia. Apalagi saat ini sudah
banyak musisi kaliber dunia melirik dan mengeksplorisasi musik etnik
dalam karya musik mereka.
Begitu kaya negeri
kita Nusantara ini dengan budaya musik dan lagu-lagu daerahnya yang
indah, seperti; Apuse (Papua), Bubuy Bulan (Jawa Barat), Ayam Den
Lapeh (Sumatera Barat), Barek Solok (Sumatera Barat), Butet (Sumatera
Utara), Burung Tantina (Maluku), Cing Cangkeling (Jawa Barat), Es
Lilin (Jawa Barat), Gambang Suling (Jawa Tengah), Gundul Pacul (Jawa
Tengah), Ilir-Ilir (Jawa Tengah), Jali-Jali (Jakarta), Kambanglah
Bungo (Sumatera Barat), Kampuang Nan Jauh Di Mato (Sumatera Barat),
Injit-Injit Semut (Jambi), Selendang Mayang (Jambi), Kicir-Kicir
(Jakarta), Manuk Dadali (Jawa Barat), O Ina Ni Keke (Sulawesi Utara),
Sinanggar Tulo (Sumatera Utara), Sing Sing So (Sumatera Utara), Si
Patokaan (Sulawesi Utara), Soleram (Riau), Potong Bebek Angsa (Nusa
Tenggara Timur), Rasa Sayang Sayange (Maluku), Sarinande (Maluku),
Surilang (Jakarta), Suwe Ora Jamu (Jogyakarta), Tanase (Maluku),
Tokecang (Jawa Barat). Terang Bulan (Jakarta), Yamko Rambe Yamko
(Papua), dan masih banyak lagi.
Untuk
mengembalikan rasa bangga akan kekayaan budaya musik daerah sebagai
warisan dan harta karun bangsa, sudah selayaknya spirit ini
diapresiasi oleh penyanyi dan musisi muda kita. Yaitu dengan
mempopularkan kembali lagu-lagu daerah Nusantara, antara lain dengan
menyertakan setidaknya satu lagu daerah Nusantara di dalam album
rekaman. Smoga! (alex palit)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar