Apakah
hanya dengan sinyalemen yang antara lain didasarkan indikasi
persentase angka penjualan kaset Indonesia dan Barat berbanding
80:20. Atau hanya didasarkan hitungan
larisnya sebuah album terjual mencapai ratusan ribu sampai di atas
jutaan copies, disertai gencarnya konser musik berkat dukungan
sponsor yang menyuarakan produk merek dagang. Atau dari
maraknya tayangan acara musik di TV; penggunaan ring back tone (RBT)
yang mampu mengeruk miliaran rupiah?
Adakah
dari sinyalemen tersebut sudah mencerminkan wajah atau citra musik
pop Indonesia sesungguhnya yang kemudian dijadikan indikasi musik pop
Indonesia sudah menjadi tuan rumah di negeri sendiri? Sementara dalam
hal ini kita tidak boleh mengabaikan keberadaan peran musik itu
sendiri dalam perspektif kebudayaan.
Karena
bagaimanapun juga sebuah karya musik tidak lepas dari cerminan nilai
kultural suatu masyarakat. Selain pertimbangan kultural, sebagai
karya seni sudah sepatutnya pula kita menempatkan musik sebagai
bagian proses kebudayaan yang menjadi bagian dari jati diri budaya
bangsa. Sementara kalau kita perhatikan bahwa saat ini determinasi
bangunan musik pop Indonesia telah mengalami reduksiasi sedemikian
rupa menjadi subkultur dari trend desain global budaya popular
(popular culture). Lalu, apakah determinasi bangunan musik popular
yang ada saat ini sudah merepresentasikan citra musik pop Indonesia
sesungguhnya?
Menurut
amatan musikolog Suka Hardjana, bahwa perkembangan musik modern (pop)
Indonesia belum menunjukkan atau menjadi bagian dari strategi
pembinaan budaya bangsa (dibandingkan dengan pembinaan olahraga
misalnya). Di mana kehadiran musik saat ini masih sebatas hanya
menjadi bagian dari dinamika masyarakat pendukungnya yang arahnya
belum jelas dan sangat tergantung dari pengaruh kekuatan pasar selera
musik yang sedang in untuk ditawarkan.
Oleh
karena itu, tidak mengherankan bila perkembangan musik pop di
Indonesia masih bersifat sangat fragmental. Hal ini tidak akan pernah
berubah, selama musik pop Indonesia belum menemukan jati dirinya dan
masih saja menjadi bayang-bayang pengaruh kekuatan budaya lain yang
masih saja selalu dianggap lebih unggul.
Fenomena
ini menjadi semacam indikasi menguatnya pengaruh peran budaya popular
dalam kehidupan kesenian, di mana wujud dari suatu karya seni sudah
tidak berorientasi pada pemenuhan rasa estetika. Eksplorasi yang
berlebihan terhadap karya seni menjadikan industri dan bisnis musik
di Indonesia telah merubah seluruh peta permasalahan musik di negeri
ini. Saat ini selera dan pandangan masyarakat
terhadap musik pun sudah terjungkil-balik. Justru yang terjadi di
Indonesia dewasa ini, musik semakin cenderung menjadi masalah bisnis
daripada masalah budaya atau kesenian.
Indikasi
lain yang menarik dari perkembangan musik pop Indonesia dewasa ini
tidak hanya terbatas pada masalah-masalah tentang jenis, gaya, isme,
mutu, selera dan lain-lain, akan tetapi juga menyangkut
masalah-masalah yang jauh lebih penting dari itu. Misalnya tentang
gejala perubahan estetika musik, baik secara evolusif maupun secara
revolusioner, yang menyangkut dan berpengaruh pada perubahan
persepsi, sikap, maupun selera masyarakat luas, sebagai akibat
daripada perubahan tata nilai dan sikap dengar yang sangat
dipengaruhi dan dikuasai oleh kemajuan teknologi dan peradaban dunia
modern, yang kemudian dikenal dengan budaya popular.
Kini
di bawah kendali ideologi industri kapitalisme, musik sebagai karya
seni mulai kehilangan greget dan daya kritisnya. Seniman tak lebih
menjadi komoditas seni untuk memenuhi standar nilai produk yang
ditentukan oleh sang kapitalis. Seniman sudah tidak punya nilai
tawar, semuanya ditentukan oleh kehendak mekanisme pasar. Industri
musik mendikte pola musik yang dihasilkan. Sementara khalayak secara
pasif mengkonsumsi apa yang ditawarkan industri musik. Tanpa
sadar masyarakat menjadi korban budaya komoditas kapitalisme yang
secara ideologis dirancang dalam formula musik budaya popular.
Lalu
ke depannya, adakah atau sejauhmanakah komitmen seniman musiknya itu
sendiri dan juga pers musik maupun pengamat musiknya menyikapi
persoalan ini di tengah lilitan budaya popular yang disebutkan di
atas, masih mampukah menyikapi secara kritis atau malah pilih pasrah
hanyut terbuai oleh ekstasi budaya popular? Dan, inilah potret ironis
musik pop Indonesia yang katanya dibilang sudah menjadi tuan rumah di
rumah di negeri sendiri! (alex palit)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar