Cari Blog Ini

Sabtu, 17 November 2012

Musik Pop Indonesia: Tuan Rumah di Negeri Sendiri?


 Apakah hanya dengan sinyalemen yang antara lain didasarkan indikasi persentase angka penjualan kaset Indonesia dan Barat berbanding 80:20. Atau hanya didasarkan hitungan larisnya sebuah album terjual mencapai ratusan ribu sampai di atas jutaan copies, disertai gencarnya konser musik berkat dukungan sponsor yang menyuarakan produk merek dagang. Atau dari maraknya tayangan acara musik di TV; penggunaan ring back tone (RBT) yang mampu mengeruk miliaran rupiah?

Adakah dari sinyalemen tersebut sudah mencerminkan wajah atau citra musik pop Indonesia sesungguhnya yang kemudian dijadikan indikasi musik pop Indonesia sudah menjadi tuan rumah di negeri sendiri? Sementara dalam hal ini kita tidak boleh mengabaikan keberadaan peran musik itu sendiri dalam perspektif kebudayaan.

Karena bagaimanapun juga sebuah karya musik tidak lepas dari cerminan nilai kultural suatu masyarakat. Selain pertimbangan kultural, sebagai karya seni sudah sepatutnya pula kita menempatkan musik sebagai bagian proses kebudayaan yang menjadi bagian dari jati diri budaya bangsa. Sementara kalau kita perhatikan bahwa saat ini determinasi bangunan musik pop Indonesia telah mengalami reduksiasi sedemikian rupa menjadi subkultur dari trend desain global budaya popular (popular culture). Lalu, apakah determinasi bangunan musik popular yang ada saat ini sudah merepresentasikan citra musik pop Indonesia sesungguhnya?

Menurut amatan musikolog Suka Hardjana, bahwa perkembangan musik modern (pop) Indonesia belum menunjukkan atau menjadi bagian dari strategi pembinaan budaya bangsa (dibandingkan dengan pembinaan olahraga misalnya). Di mana kehadiran musik saat ini masih sebatas hanya menjadi bagian dari dinamika masyarakat pendukungnya yang arahnya belum jelas dan sangat tergantung dari pengaruh kekuatan pasar selera musik yang sedang in untuk ditawarkan.

Oleh karena itu, tidak mengherankan bila perkembangan musik pop di Indonesia masih bersifat sangat fragmental. Hal ini tidak akan pernah berubah, selama musik pop Indonesia belum menemukan jati dirinya dan masih saja menjadi bayang-bayang pengaruh kekuatan budaya lain yang masih saja selalu dianggap lebih unggul.

Fenomena ini menjadi semacam indikasi menguatnya pengaruh peran budaya popular dalam kehidupan kesenian, di mana wujud dari suatu karya seni sudah tidak berorientasi pada pemenuhan rasa estetika. Eksplorasi yang berlebihan terhadap karya seni menjadikan industri dan bisnis musik di Indonesia telah merubah seluruh peta permasalahan musik di negeri ini. Saat ini selera dan pandangan masyarakat terhadap musik pun sudah terjungkil-balik. Justru yang terjadi di Indonesia dewasa ini, musik semakin cenderung menjadi masalah bisnis daripada masalah budaya atau kesenian.

Indikasi lain yang menarik dari perkembangan musik pop Indonesia dewasa ini tidak hanya terbatas pada masalah-masalah tentang jenis, gaya, isme, mutu, selera dan lain-lain, akan tetapi juga menyangkut masalah-masalah yang jauh lebih penting dari itu. Misalnya tentang gejala perubahan estetika musik, baik secara evolusif maupun secara revolusioner, yang menyangkut dan berpengaruh pada perubahan persepsi, sikap, maupun selera masyarakat luas, sebagai akibat daripada perubahan tata nilai dan sikap dengar yang sangat dipengaruhi dan dikuasai oleh kemajuan teknologi dan peradaban dunia modern, yang kemudian dikenal dengan budaya popular.

Kini di bawah kendali ideologi industri kapitalisme, musik sebagai karya seni mulai kehilangan greget dan daya kritisnya. Seniman tak lebih menjadi komoditas seni untuk memenuhi standar nilai produk yang ditentukan oleh sang kapitalis. Seniman sudah tidak punya nilai tawar, semuanya ditentukan oleh kehendak mekanisme pasar. Industri musik mendikte pola musik yang dihasilkan. Sementara khalayak secara pasif mengkonsumsi apa yang ditawarkan industri musik. Tanpa sadar masyarakat menjadi korban budaya komoditas kapitalisme yang secara ideologis dirancang dalam formula musik budaya popular.

Lalu ke depannya, adakah atau sejauhmanakah komitmen seniman musiknya itu sendiri dan juga pers musik maupun pengamat musiknya menyikapi persoalan ini di tengah lilitan budaya popular yang disebutkan di atas, masih mampukah menyikapi secara kritis atau malah pilih pasrah hanyut terbuai oleh ekstasi budaya popular? Dan, inilah potret ironis musik pop Indonesia yang katanya dibilang sudah menjadi tuan rumah di rumah di negeri sendiri! (alex palit)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar