musik, di dalamnya
sering diidentikkan dengan budaya pemberontakan yang dicirikan sebagai ungkapan
perlawanan terhadap ketidakpuasan akan kondisi yang ada. Rasa ketidak-puasan
itu salah satunya mereka ekspresikan lewat musik yaitu rock. Budaya pemberontakan
ini merupakan hal tak terpisahkan dari sejarah lahirnya rock. Itulah sejatinya
rock, itulah fitrah rock.
Adapun humanisme
yang asal katanya dari humanis adalah sebutan diperuntukkan bagi mereka yang
mendambakan dan memperjuangkan bagi terwujudnya pergaulan hidup berdasarkan nilai-nilai
perikemanusiaan.
Pemahaman “Rock
Humanisme” dalam bahasan ini mengacu pada sebuah paradigma pikiran atau pergumulan
bagai-mana memperjuangkan dengan menempatkan dihormatinya harkat dan martabat
manusia. Jadi istilah “Rock Humanisme” yaitu bagaimana menempatkan budaya rock
sebagai bagian pergumulan memperjuangkan dihormatinya nilai-nilai harkat dan
martabat manusia dalam pergaulan hidup.
Di tengah
terjadinya krisis humanisme yang melanda berbagai aspek kehidupan kemanusiaan,
menurut penulis, bahasan ini tetap relevan untuk diangkat dan diketengahkan.
Masih pentingkah
semua ini? Tinggal bagaimana kita me-maknai, menempatkan dan menterjemahkan teks
“Rock Huma-nisme” di tengah realitas
kehidupan yang ada saat ini.
Karena bukan tidak
mungkin di antara nada-nada lirik lagu itu sendiri sejatinya merupakan nyanyian
syair kehidupan sebagai ungkapan ekspresi yang didalamnya mengandung ragam kisah,
pesan, harapan, atau bahkan kritik sosial yang berkecamuk dalam diri sang
musisi atau pencipta lagu. Atau hal tersebut juga yang sedang kita rasakan
sendiri, atau bahkan realitas kehidupan itu sendiri yang ada di tengah
kehidupan masyarakat.













