Cari Blog Ini

Selasa, 27 Mei 2025

“Rock Humanisme Ian Antono – Maestro Rock Indoensia” : Apa Itu Rock Humanisme?


 

musik, di dalamnya sering diidentikkan dengan budaya pemberontakan yang dicirikan sebagai ungkapan perlawanan terhadap ketidakpuasan akan kondisi yang ada. Rasa ketidak-puasan itu salah satunya mereka ekspresikan lewat musik yaitu rock. Budaya pemberontakan ini merupakan hal tak terpisahkan dari sejarah lahirnya rock. Itulah sejatinya rock, itulah fitrah rock.

Adapun humanisme yang asal katanya dari humanis adalah sebutan diperuntukkan bagi mereka yang mendambakan dan memperjuangkan bagi terwujudnya pergaulan hidup berdasarkan nilai-nilai perikemanusiaan.

Pemahaman “Rock Humanisme” dalam bahasan ini mengacu pada sebuah paradigma pikiran atau pergumulan bagai-mana memperjuangkan dengan menempatkan dihormatinya harkat dan martabat manusia. Jadi istilah “Rock Humanisme” yaitu bagaimana menempatkan budaya rock sebagai bagian pergumulan memperjuangkan dihormatinya nilai-nilai harkat dan martabat manusia dalam pergaulan hidup. 

Di tengah terjadinya krisis humanisme yang melanda berbagai aspek kehidupan kemanusiaan, menurut penulis, bahasan ini tetap relevan untuk diangkat dan diketengahkan.

Masih pentingkah semua ini? Tinggal bagaimana kita me-maknai, menempatkan dan menterjemahkan teks “Rock Huma-nisme” di tengah realitas kehidupan yang ada saat ini.

Karena bukan tidak mungkin di antara nada-nada lirik lagu itu sendiri sejatinya merupakan nyanyian syair kehidupan sebagai ungkapan ekspresi yang didalamnya mengandung ragam kisah, pesan, harapan, atau bahkan kritik sosial yang berkecamuk dalam diri sang musisi atau pencipta lagu. Atau hal tersebut juga yang sedang kita rasakan sendiri, atau bahkan realitas kehidupan itu sendiri yang ada di tengah kehidupan masyarakat.  

“Rock Humanisme Ian Antono – Maestro Rock Indoensia” : Ian Antono di Mata Alex Palit


 

porostoday.id, Jakarta Sebagai jurnalis musik, penulis sangat interest, bahkan mengagumi karya musik Ian Antono, utamanya dengan lirik lagu bertema humanisme. Mengingat sampai saat ini belum banyak – atau belum ada – buku yang mengupas dan mengulas secara tematis dan mendalam lirik-lirik lagu rock yang terhubung dengan tema humanisme, itu yang kemudian mendasari penulisan buku “Rock Humanisme Ian Antono – Maestro Rock Indonesia”.

Di sini penulis diingatkan pada sebuah esai “Seniman dan Zamannya” filsuf eksistensialis Albert Camus, secara kritis dan tajam mengulas apa itu seni dan peran seniman dalam kehidupan di zamannya dan di setiap zaman. Bahkan disebutkan bahwa seni, seperti pemberontakan. Ia juga mempertanyakan, sebagai seni-man apakah “Anda” telah memilih peran sebagai “saksi”?

Dalam penulisan, setiap penulis pasti punya perspektif tersendiri dalam mengangkat judul, topik, bahasan maupun inter-pretasi, dan menuliskannya berdasar amatan kaca mata penulis.   

Sebagai jurnalis yang mengenal baik secara personal sang musisi, di buku ini, penulis menempatkan perjalanan jurnalistik-nya, jepretan kisah di balik berita apa dan siapa sosok Ian Antono, atau boleh dibilang; Ian Antono di mata Alex Palit.

Bagi penulis, musisi atau pencipta lagu itu tak bedanya dengan jurnalis, keduanya sama-sama pewarta. Kalau musisi atau pencipta lagu mengekspresikan amatannya lewat bahasa musik, lagu atau nyanyian, sedang jurnalis dengan bahasa jurnalistik da-lam mengemukakan kesaksiannya.

Begitupun, guna mendapatkan pemahaman lebih utuh ten-tang apa itu musik tidak cukup hanya dinikmati sebagai sekedar hiburan semata, sebab musik itu sendiri adalah bahasa ekspresi yang memang harus diterjemahkan. Estetika saja tidak cukup un-tuk menerangkan musik itu secara utuh perlu diberlakukan kai-dah-kaidah atau bingkai metodologis untuk mendasarinya.

“Rock Humanisme Ian Antono – Maestro Rock Indoensia” : Sebuah Catatan Jurnalistik


porostoday.id, Jakarta Sebagai jurnalis, saya tergolong suka menyimpan dan mendokumentasikan artikel yang pernah saya tulis kala jadi wartawan pe-liput musik era media cetak atau saat menulis di media online sebagai citizen jurnalis. Ter-nyata cukup banyak file tulisan musik, salah satunya artikel Ian Antono.

Sayang rasanya kalau tulisan tersebut tercecer berserakan. Dari situ kemudian ter-besit untuk mengumpulkan dan membukukan dalam bingkai sebuah catatan jurnalistik. Di mana semua itu dengan satu maksud dan tujuan yaitu sebagai dokumentasi pribadi, sebagai kenangan, sebagai koleksi, sebagai lembaran sejarah; aku menulis maka aku ada.

Kalau pendiri Harian Kompas Jakob Oetama mengata-kan; menulis buku adalah mahkota seorang wartawan, sedang sastrawan dan novelis Pramoedya Ananta Toer; menulis adalah bekerja untuk keabadian. Bagi penulis, menulis buku sebagai wu-jud aktualisasi diri; saya pernah jadi wartawan.

Itulah keutamaan yang terbesit dibenak saat hendak me-nulis buku. Tak terkecuali ketika terinspirasi hendak menulis buku sebuah catatatn jurnalistik seniman dan zamannya “Rock Humanisme Ian Antono – Maestro Rock Indoensia”. 

Selasa, 24 September 2024

Ini Dia Personil Asian Riff Grup Band Asal Belanda Berdarah Indonesia


Meski baru terbentuk Maret 2024, Asian Riff grup band asal Belanda yang para personilnya berdarah Indonesia langsung mengemuka di panggung musik di negeri berjuluk Kincir Angin.

Debut pertama Asian Riff, tampil di acara Pasar Indonesia 2024, yang diselenggarakan oleh KBRI Indonesia  di Den Haag. “Acara ini adalah acara tahunan yang selalu diselenggarakan oleh KBRI, untuk masyarakat Indonesia yang ada di Belanda,” jelasnya.

Ditambahkan oleh Hengky, ternyata sambutan terhadap Asian Riff cukup bagus. “Kita banyak mendapat tawaran manggung,” sambungnya sambil tertawa.

Seperti dituturkan oleh Novi Djik, vokalis utama merangkap manajer band, para personil Asian Riff terdiri dari musisi profesional dengan latar belakang musik yang beragam, dari mulai pop, rock, jazz dan reggae. “Mereka berkontribusi dengan keahlian dan pengalaman masing-masing untuk saling melengkapi agar nuansa musikal yang harmonis, berwarna dan dinamis  ada di setiap penampilannya” ujar Novi.

Inilah para personil Asian Riff;

Didik Sucahyo, adalah mantan anggota dari band rock legendaris Indonesia asal Pandaan - Pasuruan,  Elpamas, pernah menjuarai Festival Rock se-Indonesia II (1985) versi Log Zhelebour.

Kasyfi Kalyasyena (keyboard), pianis muda yang sangat berbakat, mendapat beasiswa di Codarts University of Arts Rotterdam untuk meraih gelar Sarjana Musik Jazz.  Saat ini, Kasyfi sering tampil bersama beberapa musisi jazz terkenal dari Belanda dan Eropa

Novi Dijk (vokalis utama), penyanyi asal Bandung, yang sudah 19 tahun tinggal di Belanda, dikenal dengan penampilannya yang energik dan memiliki pengalaman musik baik di dalam negeri maupun internasional. Di panggung internasional sempat gabung dengan dengan band asal luar negeri seperti band asal Philippine, Canada, Australia, dan Amerika, dan manggung di Hard Rock Café di beberapa negara di Asia.

Yosua Putra, seorang drummer muda berbakat, dan pernah tampil bersama grup band The Nameks, Steve Jam ,Steven & Coconut Treez, Ras Muhamad. Yosua juga pernah tampil dengan musisi Eropa di pangggung international seperti di St. Petersburg-Russia, Helsinki, Finland.

Hengky Supit (vokal & gitar), penyanyi rock kelahiran di Palu – Sulawesi Tengah, 28 Desember 1969, yang melejit lewat lagu Bila Engkau Izinkan, pernah mengukirkan namanya sebagai The Best Vocalist saat tampil bersama Whizzkid di Festival Rock se-Indonesia VI (1991).

Kiki Kavestyan (gitar), pemain gitar yang banyak menghadirkan sentuhan reggae yang khas pada Asian Riff  melalui permainan gitar riff-nya yang penuh warna. Sebelum pindah ke Belanda, Kiki sudah sering tampil di berbagai acara di Swedia, berkolaborasi dengan musisi lokal.

 


 

Sandhy Sondoro Penyanyi Asal Indonesia Raih Sukses di Eropa

Di jalanan kota Berlin – Jerman ini, Sandhy Sondoro penyanyi asal Indonesia, kelahiran 12 Desember 1973, meniti karir bermusiknya dari sebagai pengamen sampai tampil dari pub ke pub, sambil menempuh pendidikan di juruan arsitektur. 
 Di jalanan di kota Berlin ini pula ia mulai dikenal dan berkenalan dengan sejumlah musisi dan produser. Setelah mengeluarkan album bertitel Why Don't We (2008), dan mendapat apresiasi positif di Jerman dan negara-negara Eropa.
Kiprah bermusik Shandy di Eropa terus berkibar seiring rangkaian pertunjukkan yang sukses digelar di Eropa, diantaranya di Berliner Hoffest – Jerman pada 3 September 2024, di Bali Brunch 82 – Amsterdam, 11 September, disusul di acara resepsi diplomatik yang diselenggarakan oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia untuk Kerajaan Belanda di Wisma Duta Besar, Wassenaar, 12 September 2024. 
Kedatangan Sandhy Sondoro untuk tampil menyanyi ke Belanda memang bukan untuk yang pertama kali, tapi untuk yang kali ini di prakarsai oleh Novi Dijk, penyanyi asal Bandung yang sudah lama bermukim di Belanda dan sekarang adalah vokalis dari Asian Riff. 
Mengetahui rencana kedatangan Sandhy ke Jerman, Novi Dijk langsung menghubungi Sandhy dan merancang beberapa gigs yang menghadirkan Sandhy Sondoro sebagai bintang tamu. Salah satu penampilan yang paling bergengsi adalah di acara Resepsi Diplomatik Kedutaan Besar Indonesia di Duta Wisma Wassenaar pada 12 September 2024. Acara tersebut dihadiri lebih dari 900 tamu, termasuk pejabat pemerintahan, korps diplomatik, pengusaha, akademisi, media, dan seniman. Menteri Luar Negeri Belanda, Caspar Veldkamp, dan mantan Duta Besar Belanda untuk Indonesia, Lambert Grijns, turut hadir di acara ini. Pada tanggal 11 September 2024, Sandhy tampil di Bali Brunch 82 – Amsterdam salah satu restauran Indoneisa terfavorit di Belanda, pada acara Jam Night berkolaborasi dengan Asian Riff band. 
Penampilannya memikat para pengunjung, termasuk fans dan warga lokal Belanda yang sangat menikmati hiburan dari penyanyi bersuara emas ini. Sayangnya, dua gigs lainnya yang direncanakan di The Waterhole Live Music Bar dan Maloe Melo Blues Cafe – Amstedam tidak dapat terlaksana karena waktu yang terbatas, mengingat Sandhy harus kembali ke Berlin pada 13 September untuk kemudian terbang kembali ke Indonesia untuk memenuhi kontrak pertunjukan lainnya. Baik Novi Dijk maupun Sandhy Sondoro sangat antusias untuk bekerja sama di masa mendatang. 
Menurut Novi, membawa musisi berkualitas dan seperti Sandhy ke berbagai venue lokal di sini bukanlah kendala besar, terutama dengan pengalaman Sandhy di panggung internasional dan jam terbang yang tinggi. 
Dengan dukungan band Asian Riff yang terdiri dari musisi berbakat seperti Didik Sucahyo (bassist Elpamas), Kasyfi Kalyasyena, Yoshua Putra, Kiki Kavestyan dan Hengky Supit penyanyi rock Indonesia yang terkenal di tahun 90’an dan vokalis group band Whizzkid, Novi berharap berharap dapat melanjutkan kolaborasi dengan Shandy Sondoro tidak hanya di Belanda, tetapi juga di negara-negara Eropa lainnya.

Sabtu, 10 Februari 2024

Elpamas Masih Eksis


            Dalam sebuah obrolan singkat saat menghadiri prosesi pemakaman jurnalis Rosihan Kailinto, meninggung tentang nasib setelah ditinggal Edi Darome yang meninggal dunia pada 30 Desember 2020, akibat penyakit yang dideritanya, gitaris Elpamas Toto Tewel tak banyak menjawab, “Kita lagi cari pemain kibor pengganti Edi Darome,” jawabnya singkat.

            Makanya begitu gembira saat ada postingan Joko Dolok di fb, Elpamas tampil digelaran kampanye sebuah partai politik. Langsung minta fotonya Elpamas dan siapa saja personilnya saat ini, Baruna (vokal), Toto Tewel (gitar), Lieyandi (bas), Rush Tato (dram) dan Andi Gomez (kibor).

            Sejarah grup band rock yang yang berdiri tahun 1983 dan sering diplesetkan “Elek-elek Pandaan Mas”, diambil dari nama toko elektronik “Elektronik Payung Mas” milik Anthony sekaligus sebagai penyedia peralatan band Elpamas.

Bersamaan digelarnya Festival Rock se-Indonesia I (1984) yang digelar Log Zhelebour, Elpamas formasi Dullah Gowie (vokal), Didik Kompol (gitar), Didik Sucahyo (bas), Toni (dram) dan Isom (kibor), berhasil meraih juara ketiga.

Baru di festival rock tahun 1985, Elpamas dengan formasi Dullah Gowi (vokal), Toto Tewel (gitar), Didik Sucahyo (bas), Edi Darome (kibor) dan Rush Tato (dram) berhasil merebut juara pertama, dan untuk kedua-kalinya Toto Tewel kembali mendapatkan predikat sebagai the best guitarist.

Disusul tahun berikutnya, Elpamas kembali mengikuti festival rock yang digelar Log Zhelebour, dan harus puas menduduki peringkat dua dibawah Grass Rock (Surabaya) terpilih juara pertamanya. Lagi-lagi untuk ketiga-kalinya Toto Tewel terpilih  sebagai the best guitaris.

            Bersamaaan dengan terjunnya Log Zhelebour ke dunia rekaman di bawah bendera Logiss Record, kemudian ia menawari Elpamas masuk dapur rekaman. Berformasikan Baruna Priyotomo (vokal), Toto Tewel (gitar), Didik Sucahyo (bas), Rush Tato (dram) dan Edi Darome (kibor), lahirlah debut album perdana bertitel Untukmu Generasiku (1989), dengan hits-nya Dinding-Dinding Kota, Untukmu Generasiku dan Dunia. 

            Tahun 1991, Elpamas merilis album keduanya bertitel Tato. Di album ini posisi vokalis dijabat oleh Doddy Keswara. Album cukup meledak di pasaran dengan lagu hits komersilnya berjudul Pak Tua, ciptaan Pitat Haeng alias Iwan Fals.

            Di saat sedang mempersiapkan diri masuk studio untuk ketiganya, Doddy Keswara mengundurkan diri. Digaetlah Ecky Lamoh, mantan vokalis Edane yang sebelumnya pernah gabung di Elpamas saat mendampingi God Bless saat promo tur Semut Hitam (1988) di 35 kota Indonesia. Di album Bos (1993), Ecky menyumbang dua lagu Set Up dan Melancoly Blues.

            Tahun 1997, Elpamas merilis album keempat bertitel Negeriku. Di album ini posisi vokalis kembali dipegang Doddy Keswara yang sebelum juga mengisi vokal di Tato (1991). Berikutnya, tahun 2000, Elpamas kembali merilis album kelima berjudul Dongeng yang diambil dari salah satu lagu gacoannya ciptaan Edi Darome liriknya ditulis Alex Palit.

Usai merilis album kelimanya ini, Didik Sucahyo hijrah ke Belanda. April 2003, Elpamas merilis album 60Km/Jam dengan personel Toto Tewel, Tato, Edi Daromi, Harto, Decky Sompotan dan Amiroez (vokal).

Sudah tentu dengan tampilnya kembali di atas panggung, menunjukkan eksisitensinya  bahwa Elpamas masih eksis.

 

Alex Palit, jurnalis penulis buku Sejarah musik “Festival Rock se-Indonesia I – X Log Zhelebour”.

  

Jumat, 16 Desember 2022

Toto Tewel Miber Bareng

Setelah 45 tahun berkiprah di musik, mulai bermain musik di gereja, keroncong, jazz dan malang-melintang di panggung rock, akhirnya Toto Tewel berhasil mewujudkan obsesi dan impiannya punya album solois instrumental yang diberi titel Miberdhewen (2018). Sebagaimana judulnya, Miberdhewen diambil dari bahasa Jawa berarti terbang sendiri yang mengartikan bahwa proses penggarapan album yang makan waktu sekitar dua tahun ini semuanya pengisian musiknya ia kerjakan sendiri. Sebelum gabung di Elpamas, pria kelahiran Malang – Jawa Timur, 1 Januari 1958, bernama Emmanuel Herry Hertoto atau yang kemudian lebih dikenal dengan nama Toto Tewel, sempat bergabung sebagai gitaris di sejumlah grup band diantaranya Q-Red, Ogle Eyes dan LCC Band. Sebagai gitaris rock, nama Toto Tewel semakin berkibar seiring reputasinya dengan secara tiga kali berturut-turut menyabet predikat the best guitarist di ajang Festival Rock se-Indonesia pada gelaran tahun 1984, 1985 dan 1986 yang dipromotori Log Zhelebour. Atas raihan prestasinya ini semakin mengorbitkan namanya bertengger dideretan atas gitaris rock Indonesia. Tak heran bila namanya kemudian disebut-sebut sebagai salah satu gitaris rock terbaik Indonesia. Selain di Elpamas yang sudah merilis enam album; Untukmu Generasiku (1989), Tato (1991), Bos (Bukan Orang Sinting (1993), Negeriku (1997), Dongeng (2000) dan 60Km/Jam (2003). Ia juga bergabung memperkuat kelompok musik Swami, Dalbo, Sirkus Barock, Kantata Takwa dan Iwan Fals Band. Ia juga banyak membantu mengisi gitar dalam proyek album rekaman sejumlah artis, diantaranya Bangkit Sanjaya, Ikang Fawzi, Anggun C Sasmi, Yossie Lucky, Ita Purnamasari, Sawung Jabo, dan Mel Shandy & Metal Boyz yang terdiri dari Toto Tewel (gitar), Didieth Sakhsana (bas), Ian Hay (dram), Edi Darome (kibor), melahirkan album bertitel Ngeri. Dalam kiprah bermusiknya Toto Tewel juga membuktikan kemampuannya sebagai aranjer, diantaranya menggarap lagu Bila Engkau Izinkan (Hengky Supit) di proyek album keroyokan 10 Ten Rock Vocalist produksi Logiss Records (1995), Misteri Cinta dan Warning! Global Warning album solo Setiawan Djody. Ia dipercaya menggarap musik album Perahu Retak (1996) kolaborasi Franky Sahilatua dan budayawan Emha Ainun Nadjib sebagai penulis lirik lagu. Bahkan ketika dipercaya sebagai aranjer single lagu Menangis-nya Franky Sahilatua (1999), ia mendapat pujian yang menyebut bahwa lagu ini sebagai master piece Toto Tewel dalam menunjukkan kapasitasnya sebagai seorang aranjer dan gitaris berskill tinggi. Pada 10 & 11 Desember lalu, bertempat di Nard Rock Cafe di area Prambanan, Klaten – Jawa Tengah, kolaborasi Toto Tewel & Friends mengawali debutnya miber bareng. Bermarkas di jalan Daksinapati Raya No.6A (di belakang UNJ Jakarta), sekaligus lokasi warung Asem-Asem Koko Tewel, sebagai base camp bermusiknya, miber bareng Toto Tewel.

Kamis, 08 Desember 2022

Hengky Supit dan The Tunning Band Tampil di Indofest 2022 Amsterdam

The Tuning Band, dengan formasi personil Hengky Supit (vokal, gitar), Didiek Sucahyo (bas), Reza Rahman (gitar), Novi Dijk (vocal, kibor), dan Andra ( drum), akan tampil di ajang pesta rakyat Indofest 2022, Amsterdam – Belanda, 11 Desember 2022. Sebelumnya The Tunning Band juga sempat manggung di kafe “Maloe Melo” Amsterdan, 8 Juli lalu. “Di Indofest nanti kita akan membawakan kover lagu Indonesia, seperti lagunya Koes Plus dan kover lagu klasik rock n’ roll. Menyesuaikan selera musik orang Indonesia di Belanda,” ungkap the best vocalist – Festival Rock se-Indonesia VI (1991). Tentang grup band bentukannya, Hengky lebih memilih merekrut musisi berdarah “Indo – Belanda” yang berdomisili di negeri Kincir Angin. Awal terbentuk The Tuning Band berformasikan trio Hengky Supit (vokal & gitar), Prima Asmara (bas) dan Jaap Lubbers (vokal & dram). Trio ini sempat manggung di beberapa kafe di Amsterdam. Dalam perjalanannya grup band ini sempat mengalami perubahan formasi. Setelah cukup lama vakum, The Tuning Band kembali bangkit dengan formasi baru, antara lain dengan mengajak Didiek Sucahyo, pembetot bas Elpamas yang kini juga berdomisili Belanda. Ditambahkan oleh pelantun lagu Bila Engkau Izinka, saat ini The Tunning Band sedang menyiapkan penggarapan rekaman album. “Mohon doanya, semoga semuanya berjalan lancar,” ujarnya dalam sebuah obrolan di WA.

Senin, 05 Desember 2022

Toto Tewel Buka Warung Asem-Asem Koko Tewel

Sebelum gabung di Elpamas, pria kelahiran Malang – Jawa Timur, 1 Januari 1958, bernama Emmanuel Herry Hertoto atau yang kemudian lebih dikenal dengan nama Toto Tewel, sempat bergabung sebagai gitaris di sejumlah grup band diantaranya Q-Red, Ogle Eyes dan LCC Band. Sebagai gitaris rock, nama Toto Tewel semakin berkibar seiring reputasinya dengan secara tiga kali berturut-turut menyabet predikat the best guitarist di ajang Festival Rock se-Indonesia pada gelaran tahun 1984, 1985 dan 1986 yang dipromotori Log Zhelebour. Atas raihan prestasinya ini semakin mengorbitkan namanya bertengger dideretan atas gitaris rock Indonesia. Tak heran bila namanya kemudian disebut-sebut sebagai salah satu gitaris rock terbaik Indonesia. Selain tetap setia berada di Elpamas, ia juga bergabung memperkuat kelompok musik Swami, Dalbo, Sirkus Barock, dan Kantata Takwa yang didalamnya ada nama-nama besar seperti Setiawan Djody, Iwan Fals, Jockie Soeryoprayogo, Sawung Jabo dan WS Rendra. “Di situ (Kantata Takwa) aku khan cuma prajurit,” kata gitaris rock yang punya massa penggemar tersendiri, merendah. Ia juga banyak membantu mengisi gitar dalam proyek album rekaman sejumlah artis, diantaranya Bangkit Sanjaya, Ikang Fawzi, Anggun C Sasmi, Yossie Lucky, Ita Purnamasari, Sawung Jabo, dan Mel Shandy & Metal Boyz yang terdiri dari Toto Tewel (gitar), Didieth Sakhsana (bas), Ian Hay (dram), Edi Darome (kibor), melahirkan album bertitel Ngeri. Selain mengisi gitar di sejumlah proyek album rekaman, dalam kiprah bermusiknya Toto Tewel juga membuktikan kemampuannya sebagai aranjer, diantaranya menggarap lagu Bila Engkau Izinkan (Hengky Supit) di proyek album keroyokan 10 Ten Rock Vocalist produksi Logiss Records (1995), Misteri Cinta dan Warning! Global Warning album solo Setiawan Djody. Toto dipercaya menggarap musik album Perahu Retak (1996) kolaborasi Franky Sahilatua dan budayawan Emha Ainun Nadjib sebagai penulis lirik lagu. Bahkan ketika dipercaya sebagai aranjer single lagu Menangis-nya Franky Sahilatua (1999), ia mendapat pujian yang menyebut bahwa lagu ini sebagai master piece Toto Tewel dalam menunjukkan kapasitasnya sebagai seorang aranjer dan gitaris berskill tinggi. Sementara dengan Elpamas merilis enam album; Untukmu Generasiku (1989), Tato (1991), Bos (Bukan Orang Sinting (1993), Negeriku (1997), Dongeng (2000) dan 60Km/Jam (20030. Setelah 45 tahun menggeluti musik, mulai bermain musik di gereja, keroncong, jazz dan malang-melintang di panggung rock, akhirnya Toto Tewel berhasil mewujudkan obsesi dan impiannya punya album solois instrumental yang diberi titel Miberdhewen. Di pengujung tahun 2022, tepatnya 3 Desember kemarin, bersama rekannya, Fitriansyah Pipit membuka Warung Asem-Asem Koko Tewel, berlokasi di jalan Daksinapati Raya No.6A (di belakang UNJ Jakarta). Ketika disinggung soal warungnya, Toto melempar ke Pipit. “Aku hanya wayangnya, dia dalangnya,” ujarnya. “Kita menyiapkan warung ini sekitar 3 bulan, alhamdullilah akhirnya terwujud juga,” ungkap Pipit karyawan sebuah bank swasta yang juga dikenal sebagai vokalis rock. Menu utama warung ini yaitu asem-asem daging, ikan bandeng dan ikan patin, sambungnya. Ditambahkan, semua menu masakan ini dikelola oleh Helena, seorang pengusaha, pencinta klasik rock, yang kini juga merangkap sebagai manager Toto Tewel. Menurut Pipit, dengan dibukanya Warung Asem-Asem Koko Tewel ini tidak saja menjadi tempat kuliner, sekaligus menjadi ruang apresiasi bermusik bagi musisi untuk mengekspresikan karyanya. Selamat atas dibukanya “Warung Asem-Asem Koko Tewel”, miber bareng Toto Tewel.

Kamis, 04 Agustus 2022

Partha Putri Satu-Satunya Grup Band Cewek Berhasil Masuk Finalis Festival Rock se-Indonesia

Partha Putri satunya grup band cewek yang berhasil menembus sebagai finalis Festival Rock se-Indonesia yang digelar promotor Log Zhelebour. Grup band cewek asal Yogyakarta ini didirikan tahun 1984, dengan formasi awal Fenny, Yuki, Tutuq, Hilda, Fitri dan Dinda. Partha Putri pun sempat mengalami beberapa kali pergantian formasi pemain. Dengan formasi yang terdiri dari Dyah Kutut (vokal), Susi (gitar), Heni Kusumawati (bas), Yuki (dram), Setia Chandra & Diana Karnani (kibor), mereka mencoba menjajal kemampuan dengan mengikuti ajang festival rock yang digelar Log Zhelebour. Partha Putri pun berhasil menggondol Juara Favorit – Festival Rock se-Indonesia V (1989). Dari ajang ini pula sekaligus menempatkan Diana sebagai the best kibordist. Grup band cewek yang personilnya kala itu berstatus mahasiswi, di antara Universitas Gajahmada ini juga sempat mengikuti kontes band, antara lain menjadi salah salah satu juara di Light Music Contest (LMC) Jateng – Yogya 1986, juara III Festival se-Jateng dan DIY Yogyakarta 1989, dan disusul sebagai Juara Favorit di Festival Rock se-Indonesia V – Log Zhelebour. Prestasi lainnya yang sempat disan-dang, di mana Dyah Kutut dinobatkan sebagai vokalis terbaik saat tampil di Festival se-Jateng dan DIY Yogyakarta 1989. Sedang di Festival Rock se-Indonesia V (1989) menempatkan Diana Karnani sebagai the best kibordist.

Selasa, 02 Agustus 2022

Festival Rock se-Indonesia I - X (1984 - 2004) Log Zhelebour

#NewEdition2022 #NewCover #NewUpdate Satu-satunya buku yang mengulas sejarah musik FESTIVAL ROCK SE-INDONESIA I - X (1984 - 2004) - LOG ZHELEBOUR secara lengkap dari A sampai Z. Salam satu jiwa... Rock Never Die Baca bukunya... dengar lagunya... 70 K + ongkos kirim... stok terbatas...!!!

Festival Rock se-Indonesia I - X (1984 - 2004) Log Zhelebour Edisi 2022

Mengingat masih banyak yang berminat dengan buku “Festival Rock se-Indonesia I – X” yang saya rilis dua tahun lalu. Sementara buku rilisan tahun 2020 sudah sold out. Untuk memenuhi permintaan, saya pun kembali merilis ulang buku tersebut. Sudah tentu dalam rilisan edisi 2022 disertai update data, termasuk wajah kover baru. Dalam dua tahun terakhir ini banyak grup band atau penyanyi alumni yang merilis album yang belum dimuat di edisi 2020, dilengkapi ada di edisi rilisan 2022. Sebut saja, ROXX belum lama ini merilis ulang black album “Rock Bergema” dalam format CD, Power Metal dengan album XI, Eks Power Metal yang tergabung di XREAL merilis album Arogansi, gitaris John Paul Ivan merilis Touch The Sky, Take Over dengan Cuma Kamu dan Take Over V.2., Kobe dengan single Tangguh, Tunjukkan Jalan-Mu dan Putar Balik. Sedang Mel Shandy merilis single Nyanyian Laut, juga Whizzkid dengan mini album dengan best cut: Saling Menjaga, Baju dan Biar Kutemui. Begitupun dengan Hengky Supit, the best vocalist – Festival se-Indonesia VI (1991), yang kini berdomisili Amsterdam – Belanda, merilis album Nathalie (2021) dan album instrumentalia Where Are Now (2022). Pastinya dengan satu harapan, semoga buku “Festival Rock se-Indonesia I – X” yang dipromotori Log merupakan buku sejarah musik yang ditulis secara lengkap A sampai Z. Buku ini dirilis self publishing, tidak dijual toko buku atau lapak online. Bagi yang berminat dengan buku ini, silahkan inbox, DM atau Wa saya. Stok terbatas. Terimakasih!