porostoday.id,
Jakarta – Sebagai jurnalis, saya tergolong suka menyimpan
dan mendokumentasikan artikel yang pernah saya tulis kala jadi wartawan pe-liput
musik era media cetak atau saat menulis di media online sebagai citizen
jurnalis. Ter-nyata cukup banyak file tulisan musik, salah satunya
artikel Ian Antono.
Sayang rasanya kalau tulisan tersebut
tercecer berserakan. Dari situ kemudian ter-besit untuk mengumpulkan dan membukukan
dalam bingkai sebuah catatan jurnalistik. Di mana semua itu dengan satu maksud dan
tujuan yaitu sebagai dokumentasi pribadi, sebagai kenangan, sebagai koleksi,
sebagai lembaran sejarah; aku menulis maka aku ada.
Kalau pendiri Harian Kompas Jakob
Oetama mengata-kan; menulis buku adalah mahkota seorang wartawan, sedang
sastrawan dan novelis Pramoedya Ananta Toer; menulis adalah bekerja untuk
keabadian. Bagi penulis, menulis buku sebagai wu-jud aktualisasi diri; saya
pernah
jadi wartawan.
Itulah keutamaan yang terbesit dibenak saat hendak me-nulis buku. Tak terkecuali ketika terinspirasi hendak menulis buku sebuah catatatn jurnalistik seniman dan zamannya “Rock Humanisme Ian Antono – Maestro Rock Indoensia”.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar