porostoday.id,
Jakarta – Sebagai jurnalis musik, penulis
sangat interest, bahkan mengagumi karya musik Ian Antono, utamanya dengan
lirik lagu bertema humanisme. Mengingat sampai saat ini belum banyak –
atau belum ada – buku yang mengupas dan mengulas secara tematis dan mendalam lirik-lirik
lagu rock yang terhubung dengan tema humanisme, itu yang kemudian mendasari penulisan buku
“Rock Humanisme Ian Antono – Maestro Rock Indonesia”.
Di sini penulis diingatkan pada sebuah esai
“Seniman dan Zamannya” filsuf
eksistensialis Albert Camus, secara kritis dan tajam mengulas apa itu seni dan
peran seniman dalam kehidupan di zamannya dan di setiap zaman. Bahkan disebutkan
bahwa seni, seperti pemberontakan. Ia juga
mempertanyakan, sebagai seni-man apakah “Anda” telah memilih peran sebagai
“saksi”?
Dalam penulisan,
setiap penulis pasti punya perspektif tersendiri
dalam mengangkat judul, topik, bahasan maupun inter-pretasi, dan
menuliskannya berdasar amatan kaca mata penulis.
Sebagai jurnalis yang mengenal baik secara
personal sang musisi, di buku ini, penulis menempatkan perjalanan jurnalistik-nya,
jepretan kisah di balik berita apa dan siapa sosok Ian Antono, atau boleh
dibilang; Ian Antono di mata Alex Palit.
Bagi penulis, musisi atau pencipta lagu itu tak
bedanya dengan jurnalis, keduanya sama-sama pewarta. Kalau musisi atau pencipta
lagu mengekspresikan amatannya lewat bahasa musik, lagu atau nyanyian, sedang
jurnalis dengan bahasa jurnalistik da-lam mengemukakan kesaksiannya.
Begitupun, guna mendapatkan
pemahaman lebih utuh ten-tang apa itu musik tidak cukup hanya dinikmati sebagai
sekedar hiburan semata, sebab musik itu sendiri adalah bahasa ekspresi yang
memang harus diterjemahkan. Estetika saja tidak cukup un-tuk
menerangkan musik itu secara utuh perlu diberlakukan kai-dah-kaidah atau bingkai
metodologis untuk mendasarinya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar