Cari Blog Ini

Selasa, 21 November 2017

Judhi Kristianto Dari Berkebun Artis Penyanyi Kini Berkebun Buah Naga


“Lex, Sabtu dan Minggu ada acara gak, kita diajak jalan sama Judi Kristianto lihat kebunnya di Subang,” telpon seorang teman bernama Agus “Blues” Asianto eks wartawan Taman Buaya – TVRI, Jumat sore, yang mengontak saya lewat WA. Ia secara khusus mengajak “wartawan tua” untuk temu kangen setelah di antara kita lama tak saling jumpa, sambungnya. Saya pun menyambut ajak ini dengan antusias acara temu kangen ini.  
Bagi wartawan musik era ‘80an dan 90’an yang ngepos di Taman Buaya – TVRI, pastinya nama Judhi Kristianto sudah tidak asing lagi. Pria kelahiran Cirebon, 15 Desember 1946, selain dikenal sebagai produser JK Records juga membidangi koordinator “Musik Kita” sebuah acara paket musik di TVRI.
Kala itu, saat menjadi wartawan hiburan di Harian Surya (Surabaya) yang bernaung di Persda Kompas-Gramedia juga ngepos di Taman Buaya – TVRI. Para wartawan yang sering nongkrong cari berita musik dan hiburan di TVRI inipun dapat julukan wartawan taman buaya.
Menyoal apa dan siapa Judhi Kristanto serta kiprahnya di jagad musik pop Indonesia, pemilik JK Records yang awalnya menggeluti dunia fotografi dan percetakan kalender artis ini berhasil membuahkan deretan artis penyanyi tenar yang ikut mewarnai jagad musik pop Indonesia.

Selasa, 10 Oktober 2017

Membaca "God Bless and You: Rock Humanisme" Membaca Realitas Hari Ini

God Bless (Foto Alex Palit)
Dalam sebuah obrolan di kantin Kompas – Gramedia, Palmerah Jakarta, Rabu (4/10), dengan Pemimpin Harian Warta Kota Achmad Subechi yang juga pernah menjadi Pemimpin Redaksi Kompas.com dan redaktur foto Tribunnews.com FX Ismanto, yang kebetulan sama-sama menyukai musik, saya pun bilang bahwa God Bless adalah satu-satunya grup band rock yang punya komitmen dan konsistensi mengangkat lagu-lagu bertemakan humanisme.
Bahkan kalau simak banyak di antara tema humanisme lirik lagu-lagu God Bless masih faktual dan kontekstual merepresentasikan realitas sosial yang sedang kita hadapi saat ini.
Seperti pada lagu “Anak Adam”, ciptaan Donny Fattah. Sebagaimana pada cuplikan lirik lagu tersebut; Kau dan aku, kita semua anak Adam / Datang dari satu rahim / Namun kini kita saling mendendam / Ini semua karena faham. Dan itupun kini beraksi.

Sabtu, 07 Oktober 2017

God Bless Pengibar Rock Humanisme

Foto: FX Ismanto / Tribunnews.com

Dalam sebuah obrolan di kantin Kompas – Gramedia, Palmerah Jakarta (4/10) dengan Pemimpin Harian Warta Kota Achmad Subechi yang juga pernah menjadi Pemimpin Redaksi Kompas.com, yang kebetulan sama menyukai musik, saya pun bilang bahwa God Bless adalah satu-satunya grup band rock yang punya komitmen dan konsistensi mengangkat lagu-lagu bertemakan humanisme. Bahkan bila simak banyak di antara tema humanisme lirik lagu-lagu God Bless masih faktual dan kontekstual merepresentasikan realitas sosial yang sedang kita hadapi saat ini.
Dari obrolan itu akhirnya saya pun mengulas buku “God Bless and You: Rock Humanisme” terbitan Elex Media Komputindo, yang saya tulis. Bahwa keindahan musik bukan hanya terletak pada permainan harmonisasi nada, melodi, dan lirik, melainkan pada dialektika bunyi. Pada dialektika bunyi inilah artikulasi sebuah lagu memancarkan makna dan auranya.

Sabtu, 09 September 2017

God Bless and You: Sebuah Tinjauan Filosofis Dialektika Dalam Lagu

Keindahan musik bukan hanya terletak pada permainan harmonisasi nada, melodi, dan lirik, melainkan pada dialektika bunyi. Pada dialektika bunyi inilah artikulasi sebuah lagu memancarkan makna dan auranya.
Dalam wacana seni realisme, keindahan bunyi pada bahasa musik tidak sekadar bermakna ungkapan simbolik, tetapi juga merepresentasikan sebuah narasi atas realitas sosial yang biasanya selalu dikaitkan dengan pokok-pokok persoalan humanisme (kemanusiaan).
Musik sebagai media komunikasi tidak ada bedanya dengan bahasa, yaitu suatu artikulasi bunyi yang bermakna lebih dari sekadar instrumentasi bunyi yang di dalamnya dapat mengungkapkan pesan-pesan, gagasan-gagasan, atau bahkan berupa pernyataan sikap yang di dalamnya dapat bersifat kemanusiaan, sosial, politik, dan budaya.

Jumat, 01 September 2017

God Bless and You - Rock Humanisme: Dialektika Sebuah Lagu

God Bless and You - Rock Humanisme (Foto Alex Palit)
Keindahan musik bukan hanya terletak pada permainan harmonisasi nada, melodi, dan lirik, melainkan juga pada dialektika bunyi. Dalam dialektika bunyi inilah artikulasi sebuah lagu memancarkan makna dan auranya.
Dalam wacana seni realisme, keindahan bunyi pada bahasa musik tidak sekadar bermakna simbolik, namun mempresentasikan narasi atas realitas sosial yang biasanya selalu dikaitkan dengan persoalan kemanusiaan (humanisme).

Rabu, 30 Agustus 2017

Gus Dur: Protesnya Musik Protes Budaya

Saat tampil sebagai pembicara di jumpa pers peluncuran album “Perahu Retak” – Franky Sahilatua (1996), KH Abdurrahman Wahid yang akrab disapa Gus Dur menegaskan bahwa musik bisa ditempatkan lebih terhormat dari sekadar sebagai hiburan. Melainkan juga bisa ditempatkan sebagai pilar kelima demokrasi yaitu sebagai kontrol sosial.
“Melalui peran kritisnya, musik juga dapat berfungsi berperan sebagai kontrol sosial,” ungkap Gus Dur. Fungsi kontrol ini sekaligus menjadi kritik seni untuk mengungkap beragam persoalan yang terjadi di masyarakat, seperti pelanggaran hak asasi, kepincangan sosial, ketidakadilan, kesewenang-wenangan atau penyalahgunaan kekuasaan. Semua ini bisa diangkat menjadi narasi, tema lagu atau nyanyian sebagai bentuk kepekaan, kepedulian dan tanggung jawab sosial sang seniman.

Kamis, 24 Agustus 2017

God Bless and You – Rock Humanisme: Sebuah Tinjauan Filosofis

Dalam kata pengantar buku, saya mengibaratkan grup rock legendaris God Bless sebagai sosok gajah, binatang berbadan dan berkaki besar, berkuping lebar bak kipas, berbelalai menjuntai, berekor mungil, bermata kecil sipit atau malah tertarik dengan gadingnya, tergantung kita merabanya. Dalam mengamati sesuatu masing-masing orang punya perspektif sudut padang dan sudut rasa.
Begitupun ketika ada yang ingin menuliskan sosok God Bless, bisa dari sisi biografisnya, diskografis album, biografis personil musisi, atau dalam perspektif lainnya sesuai selera sudut pandang dan rasa.
Berangkat dari pemikiran tersebut, penulis berkesimpulan banyak sisi- sisi menarik dari sejarah God Bless yang bisa diangkat, tidak lagi harus terjebak pada sisi biografi. Karena bagaimanapun juga sebuah penulisan buku apakah itu sejarah, biografi atau lainnya pastilah penulisnya punya sudut pandang dan cara pandang masing-masing baik dalam memahami bahasan, penggambaran dan interpretasi, meski yang disorot sama.

Kamis, 10 Agustus 2017

Elex Media Terbitkan Buku God Bless

            Setelah melewati penantian antrian sangat panjang dengan tertib sesuai nomor urut, akhirnya penerbit PT Elex Media Komputindo menerbitkan buku “Rock Humanisme – God Bless and You”, yang dijadwalkan pada akhir Agustus sudah ada dirak-rak toko buku kesayangan Anda, salah satunya yang pasti di TB Gramedia.
            Ini hanya sekedar woro-woro buat teman-teman yang masih sering menanyakan soal buku God Bless. Semoga dengan terbitnya buku ini juga sebagai jawaban atas cukup banyaknya inbox atau komentar di fesbuk saya menanyakan buku ini. Plong!
            Buku ini merupakan bentuk apresiasi saya kepada grup band bernama God Bless. Di tengah gelombang pasang surut perkembangan khususnya musik rock di tanah air, pencapaian usia 44 tahun bukanlah waktu pendek yang harus dilalui bagi sebuah grup band untuk tetap eksis dan tetap berkharisma.