![]() |
| God Bless (Foto Alex Palit) |
Dalam sebuah
obrolan di kantin Kompas – Gramedia,
Palmerah Jakarta, Rabu (4/10), dengan Pemimpin Harian Warta Kota Achmad Subechi
yang juga pernah menjadi Pemimpin Redaksi Kompas.com
dan redaktur foto Tribunnews.com FX Ismanto, yang kebetulan sama-sama
menyukai musik, saya pun bilang bahwa God
Bless adalah satu-satunya grup band rock yang punya komitmen dan konsistensi
mengangkat lagu-lagu bertemakan humanisme.
Bahkan kalau simak
banyak di antara tema humanisme lirik lagu-lagu God Bless masih faktual dan kontekstual merepresentasikan realitas sosial yang sedang kita hadapi saat
ini.
Seperti pada lagu “Anak
Adam”, ciptaan Donny Fattah. Sebagaimana pada cuplikan lirik lagu tersebut;
Kau dan aku, kita semua anak Adam / Datang dari satu rahim / Namun
kini kita saling mendendam / Ini semua karena faham. Dan itupun kini beraksi.
Bagaimana kita saksikan hanya lantaran beda pendapat, beda paham dan
beda pilihan politik, kita akhirnya saling hujat, saling fitnah, bahkan sampai
menjurus ke arah persekusi. Dan kita pun terpolarisasi olehnya.
Kita pun dibuat tersentak oleh terbongkarnya jaringan
sindikat penebar ujaran kebencian (hate speech) dan berita bohong (hoax)
di media sosial dengan menempatkan isu atau sentimen bernada dan
berbau SARA. Di mana jaringan sindikat penebar ujaran kebencian (hate speech) dan berita bohong yang
bekerja secara terorganisir ini sudah melakukan aksinya sejak November 2015.
Mirisnya lagi,
jaringan sindikat ini melakukan aksinya dengan mengunggah dan menebarkan
ujaran-ujaran kebencian dan berita bohong bernada SARA ini disinyalir bergerak
atas dasar order (pesanan).
Sementara pada lagu “Raksasa” ciptaan
Teddy S, Rudy Gagola dan Jockie Soeryoprayogo, mencoba mengkritisi pada elite
penguasa yang menghalalkan segala cara demi kepentingan keserakahan ambisinya
yang dipersonifikasikan sebagai sosok raksasa.
Setidaknya dari
apa yang tersirat di lagu “Raksasa” masih begitu kontekstual dengan
realitas apa yang terjadi kalau kita melongok panggung politik kita saat ini
yang dipenuhi personifikasi raksasa.
Di
mana saat ini publik disuguhi tontonan panggung politik dipenuhi raut wajah dan
kata dusta di antara senyum manis dan janji-janji bohong, tipu sana tipu sini,
sebar fitnah, dan tak peduli singkirkan semua orang yang menghalang dan jadi
korban.
Protesnya
musik adalah protes budaya. Di sini God Bless tidak bermaksud menuding atas
nama seseorang yang ia simbolisasikan dan dipersonifikasikan sebagai Raksasa,
tapi setidaknya lewat nyanyian ini God Bless ingin mengingatkan kepada kita
untuk menimbang di balik apa yang tersirat dari lagu “Raksasa”. Melalui
bahasa musik, God Bless menyuarakan kritik sosial atas prilaku politikus
Raksasa yang kian menggejala saat ini.
Dari obrolan itu akhirnya saya pun mengulas buku “God Bless and You: Rock Humanisme”
terbitan Elex Media Komputindo, yang
saya tulis. Bahwa keindahan
musik bukan hanya terletak pada permainan harmonisasi nada, melodi, dan lirik,
melainkan pada dialektika bunyi. Pada dialektika bunyi inilah artikulasi sebuah
lagu memancarkan makna dan auranya.
Dalam wacana
seni realisme, keindahan bunyi pada bahasa musik
tidak sekadar bermakna ungkapan simbolik, tetapi juga merepresentasikan sebuah
narasi atas realitas sosial yang biasanya selalu dikaitkan dengan pokok-pokok
persoalan humanisme (kemanusiaan).
Musik sebagai
media komunikasi tidak ada bedanya dengan bahasa, yaitu suatu artikulasi bunyi
yang bermakna lebih dari sekadar instrumentasi bunyi yang di dalamnya dapat
mengungkapkan pesan-pesan, gagasan-gagasan, atau bahkan berupa pernyataan sikap
yang di dalamnya dapat bersifat kemanusiaan, sosial, politik, dan budaya.
Untuk memahami sebuah karya musik secara total memang diperlukan
sebuah wacana apresiatif, karena musik itu sendiri merupakan sebuah ungkapan
ekspresi dari perasaan atau pikiran seniman yang di dalamnya mengandung nilai
estetika, spiritual, etika, moralitas, atas penggambaran sendi-sendi bangunan
realitas sosial atau nilai-nilai sosial yang hidup di tengah masyarakat.
Melalui ungkapan
simbolisasi lirik, syair atau bait-bait yang terkandung di dalam lagu – atau
bahkan nada-nada itu sendiri – pencipta lagu mengutarakan ragam pesan yang pada
akhirnya akan diterima, dinikmati, dipahami, dihayati, dan dimaknai oleh
penikmat atau pendengarnya.
Guna mendapatkan pemahaman tentang apa itu musik (lagu) tidak
cukup hanya dinikmati sebagai sekadar hiburan semata, sebab musik itu sendiri
adalah bahasa ekspresi yang memang harus diterjemahkan.
Tinggal
bagaimana mengintegrasikan musik sebagai sebuah karya seni dalam kegiatan besar
manusia yang bernama kebudayaan dan bidang kehidupan lainnya.
Buku “God Bless and You: Rock Humanisme” ini
menyajikan tinjauan filosofis keberpihakan bermusik grup band rock legendaris God
Bless ini pada persoalan kemanusiaan sebagai bagian tak terpisahkan dari
komitmen bermusik grup band rock yang sudah malang melintang lebih dari 40
tahun di jagad rock Indonesia yang hingga kini masih eksis.
Komitmen dan konsistensi mengangkat topik humanisme, mulai dari
isu kemanusiaan pada umumnya sampai ke ragam kritik sosialnya menjadi tema
sentral lagu-lagu God Bless di tiap album yang dirilisnya. Dan kalau kita
cermati lagu-lagu
yang disuarakan God Bless masih faktual
dan
kontekstual merepresentasikan realitas sosial yang
sedang kita hadapi saat ini.
Alex Palit,
pernah bekerja sebagai wartawan di Persda Kompas – Gramedia, sekarang aktif
sebagai citizen jurnalis di komunitas“Ngopi Dulu Biar Tidak Salah Paham”, penulis buku “God Bless and You: Rock
Humanisme”.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar