![]() |
| Foto: FX Ismanto / Tribunnews.com |
Dalam sebuah
obrolan di kantin Kompas – Gramedia, Palmerah
Jakarta (4/10) dengan Pemimpin Harian Warta
Kota Achmad Subechi yang juga pernah menjadi Pemimpin Redaksi Kompas.com, yang kebetulan sama menyukai
musik, saya pun bilang bahwa God Bless adalah
satu-satunya grup band rock yang punya komitmen dan konsistensi mengangkat lagu-lagu
bertemakan humanisme.
Bahkan bila simak banyak di antara tema humanisme lirik lagu-lagu God Bless masih faktual dan kontekstual merepresentasikan realitas sosial yang sedang kita hadapi saat
ini.
Dari obrolan itu akhirnya saya pun mengulas buku “God Bless and
You: Rock Humanisme” terbitan Elex Media Komputindo, yang saya tulis. Bahwa keindahan musik
bukan hanya terletak pada permainan harmonisasi nada, melodi, dan lirik,
melainkan pada dialektika bunyi. Pada dialektika bunyi inilah artikulasi sebuah
lagu memancarkan makna dan auranya.
Dalam wacana
seni realisme, keindahan bunyi pada bahasa musik
tidak sekadar bermakna ungkapan simbolik, tetapi juga merepresentasikan sebuah
narasi atas realitas sosial yang biasanya selalu dikaitkan dengan pokok-pokok
persoalan humanisme (kemanusiaan).
Musik sebagai
media komunikasi tidak ada bedanya dengan bahasa, yaitu suatu artikulasi bunyi
yang bermakna lebih dari sekadar instrumentasi bunyi yang di dalamnya dapat
mengungkapkan pesan-pesan, gagasan-gagasan, atau bahkan berupa pernyataan sikap
yang di dalamnya dapat bersifat kemanusiaan, sosial, politik, dan budaya.
Untuk memahami sebuah karya musik secara total memang diperlukan
sebuah wacana apresiatif, karena musik itu sendiri merupakan sebuah ungkapan
ekspresi dari perasaan atau pikiran seniman yang di dalamnya mengandung nilai
estetika, spiritual, etika, moralitas, atas penggambaran sendi-sendi bangunan
realitas sosial atau nilai-nilai sosial yang hidup di tengah masyarakat.
Melalui ungkapan
simbolisasi lirik, syair atau bait-bait yang terkandung di dalam lagu – atau
bahkan nada-nada itu sendiri – pencipta lagu mengutarakan ragam pesan yang pada
akhirnya akan diterima, dinikmati, dipahami, dihayati, dan dimaknai oleh
penikmat atau pendengarnya.
Guna mendapatkan pemahaman tentang apa itu musik (lagu) tidak
cukup hanya dinikmati sebagai sekadar hiburan semata, sebab musik itu sendiri
adalah bahasa ekspresi yang memang harus diterjemahkan.
Tinggal bagaimana
mengintegrasikan musik sebagai sebuah karya seni dalam kegiatan besar manusia
yang bernama kebudayaan dan bidang kehidupan lainnya.
Buku “God Bless and You: Rock Humanisme” ini
menyajikan tinjauan filosofis keberpihakan bermusik grup band rock legendaris God
Bless ini pada persoalan kemanusiaan, sebagian tak terpisahkan dari komitmen
bermusik grup band rock yang sudah malang melintang lebih dari 40 tahun di
jagad rock Indonesia, yang hingga kini masih eksis.
Bisa dibilang God Bless adalah satu-satunya grup band rock yang
punya komitmen dan konsistensi mengangkat lagu-lagu bertemakan humanisme di
tiap album yang dirilisnya.
Komitmen dan konsistensi mengangkat topik humanisme, mulai dari
isu kemanusiaan pada umumnya sampai ke ragam kritik sosialnya menjadi tema
sentral lagu-lagu God Bless.
Bahkan kalau
kita simak dan dicermati banyak di antara tema
humanisme lirik lagu-lagu
yang disuarakan God Bless masih faktual
dan
kontekstual merepresentasikan realitas sosial yang
sedang kita hadapi saat ini.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar