Dalam kata pengantar buku, saya
mengibaratkan grup rock legendaris God Bless sebagai sosok gajah, binatang berbadan
dan berkaki besar, berkuping lebar bak kipas, berbelalai menjuntai, berekor
mungil, bermata kecil sipit atau malah tertarik dengan gadingnya, tergantung
kita merabanya. Dalam mengamati sesuatu masing-masing orang punya perspektif sudut
padang dan sudut rasa.
Begitupun ketika ada yang ingin
menuliskan sosok God Bless, bisa dari sisi biografisnya, diskografis album,
biografis personil musisi, atau dalam perspektif lainnya sesuai selera sudut
pandang dan rasa.
Berangkat
dari pemikiran tersebut, penulis berkesimpulan banyak sisi- sisi menarik dari
sejarah God Bless yang bisa diangkat, tidak lagi harus terjebak pada sisi
biografi. Karena bagaimanapun juga sebuah penulisan buku apakah itu sejarah,
biografi atau lainnya pastilah penulisnya punya sudut pandang dan cara pandang
masing-masing baik dalam memahami bahasan, penggambaran dan interpretasi, meski
yang disorot sama.
Dari
sudut pandang ini penulis mencoba mengutarakan sisi lain dari God Bless yaitu
sebagai grup band rock yang memiliki komitmen, konsistensi, dan keberpihakkan
pada pokok persoalan humanisme yang menjadi bagian tak terpisahkan dalam
bermusiknya.
Bisa
dibilang God Bless adalah satu-satunya grup band rock yang punya komitmen dan
konsistensi mengangkat tema pokok terkait humanisme di tiap album yang
dirilisnya. Komitmen dan konsistensi mengangkat topik humanisme, mulai dari isu
kemanusiaan pada umum sampai ke ragam kritik sosialnya menjadi tema sentral
lagu-lagu God Bless.
Bahkan kalau kita simak dan dicermati banyak di antara tema humanisme lirik lagu-lagu yang disuarakan God Bless masih faktual dan kontekstual merepresentasikan realitas sosial yang sedang kita hadapi saat
ini.
Berangkat
dari sudut pandang ini penulis mencoba mengangkat sisi lain dari God Bless
yaitu menuliskannya dalam perspektif amatan lirik lagu, rock humanisme.
Sebagaimana
dikatakan komponis Richard
Wagner, guna mendapatkan pemahaman tentang apa
itu musik (lagu) tidak cukup hanya dinikmati sebagai sekadar hiburan semata,
sebab musik itu sendiri adalah bahasa ekspresi yang memang harus diterjemahkan.
Saya
pun tidak menampik ketika di promo buku “God
Bless and You – Rock Humanisme” oleh
PT Elex Media Komputindo selaku
penerbit juga di lapak Gramedia.com menuliskan
deskripsi buku yang mulai edar 28 Agustus ini sebagai tinjauan filosofis.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar