Cari Blog Ini

Selasa, 24 September 2024

Ini Dia Personil Asian Riff Grup Band Asal Belanda Berdarah Indonesia


Meski baru terbentuk Maret 2024, Asian Riff grup band asal Belanda yang para personilnya berdarah Indonesia langsung mengemuka di panggung musik di negeri berjuluk Kincir Angin.

Debut pertama Asian Riff, tampil di acara Pasar Indonesia 2024, yang diselenggarakan oleh KBRI Indonesia  di Den Haag. “Acara ini adalah acara tahunan yang selalu diselenggarakan oleh KBRI, untuk masyarakat Indonesia yang ada di Belanda,” jelasnya.

Ditambahkan oleh Hengky, ternyata sambutan terhadap Asian Riff cukup bagus. “Kita banyak mendapat tawaran manggung,” sambungnya sambil tertawa.

Seperti dituturkan oleh Novi Djik, vokalis utama merangkap manajer band, para personil Asian Riff terdiri dari musisi profesional dengan latar belakang musik yang beragam, dari mulai pop, rock, jazz dan reggae. “Mereka berkontribusi dengan keahlian dan pengalaman masing-masing untuk saling melengkapi agar nuansa musikal yang harmonis, berwarna dan dinamis  ada di setiap penampilannya” ujar Novi.

Inilah para personil Asian Riff;

Didik Sucahyo, adalah mantan anggota dari band rock legendaris Indonesia asal Pandaan - Pasuruan,  Elpamas, pernah menjuarai Festival Rock se-Indonesia II (1985) versi Log Zhelebour.

Kasyfi Kalyasyena (keyboard), pianis muda yang sangat berbakat, mendapat beasiswa di Codarts University of Arts Rotterdam untuk meraih gelar Sarjana Musik Jazz.  Saat ini, Kasyfi sering tampil bersama beberapa musisi jazz terkenal dari Belanda dan Eropa

Novi Dijk (vokalis utama), penyanyi asal Bandung, yang sudah 19 tahun tinggal di Belanda, dikenal dengan penampilannya yang energik dan memiliki pengalaman musik baik di dalam negeri maupun internasional. Di panggung internasional sempat gabung dengan dengan band asal luar negeri seperti band asal Philippine, Canada, Australia, dan Amerika, dan manggung di Hard Rock Café di beberapa negara di Asia.

Yosua Putra, seorang drummer muda berbakat, dan pernah tampil bersama grup band The Nameks, Steve Jam ,Steven & Coconut Treez, Ras Muhamad. Yosua juga pernah tampil dengan musisi Eropa di pangggung international seperti di St. Petersburg-Russia, Helsinki, Finland.

Hengky Supit (vokal & gitar), penyanyi rock kelahiran di Palu – Sulawesi Tengah, 28 Desember 1969, yang melejit lewat lagu Bila Engkau Izinkan, pernah mengukirkan namanya sebagai The Best Vocalist saat tampil bersama Whizzkid di Festival Rock se-Indonesia VI (1991).

Kiki Kavestyan (gitar), pemain gitar yang banyak menghadirkan sentuhan reggae yang khas pada Asian Riff  melalui permainan gitar riff-nya yang penuh warna. Sebelum pindah ke Belanda, Kiki sudah sering tampil di berbagai acara di Swedia, berkolaborasi dengan musisi lokal.

 


 

Sandhy Sondoro Penyanyi Asal Indonesia Raih Sukses di Eropa

Di jalanan kota Berlin – Jerman ini, Sandhy Sondoro penyanyi asal Indonesia, kelahiran 12 Desember 1973, meniti karir bermusiknya dari sebagai pengamen sampai tampil dari pub ke pub, sambil menempuh pendidikan di juruan arsitektur. 
 Di jalanan di kota Berlin ini pula ia mulai dikenal dan berkenalan dengan sejumlah musisi dan produser. Setelah mengeluarkan album bertitel Why Don't We (2008), dan mendapat apresiasi positif di Jerman dan negara-negara Eropa.
Kiprah bermusik Shandy di Eropa terus berkibar seiring rangkaian pertunjukkan yang sukses digelar di Eropa, diantaranya di Berliner Hoffest – Jerman pada 3 September 2024, di Bali Brunch 82 – Amsterdam, 11 September, disusul di acara resepsi diplomatik yang diselenggarakan oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia untuk Kerajaan Belanda di Wisma Duta Besar, Wassenaar, 12 September 2024. 
Kedatangan Sandhy Sondoro untuk tampil menyanyi ke Belanda memang bukan untuk yang pertama kali, tapi untuk yang kali ini di prakarsai oleh Novi Dijk, penyanyi asal Bandung yang sudah lama bermukim di Belanda dan sekarang adalah vokalis dari Asian Riff. 
Mengetahui rencana kedatangan Sandhy ke Jerman, Novi Dijk langsung menghubungi Sandhy dan merancang beberapa gigs yang menghadirkan Sandhy Sondoro sebagai bintang tamu. Salah satu penampilan yang paling bergengsi adalah di acara Resepsi Diplomatik Kedutaan Besar Indonesia di Duta Wisma Wassenaar pada 12 September 2024. Acara tersebut dihadiri lebih dari 900 tamu, termasuk pejabat pemerintahan, korps diplomatik, pengusaha, akademisi, media, dan seniman. Menteri Luar Negeri Belanda, Caspar Veldkamp, dan mantan Duta Besar Belanda untuk Indonesia, Lambert Grijns, turut hadir di acara ini. Pada tanggal 11 September 2024, Sandhy tampil di Bali Brunch 82 – Amsterdam salah satu restauran Indoneisa terfavorit di Belanda, pada acara Jam Night berkolaborasi dengan Asian Riff band. 
Penampilannya memikat para pengunjung, termasuk fans dan warga lokal Belanda yang sangat menikmati hiburan dari penyanyi bersuara emas ini. Sayangnya, dua gigs lainnya yang direncanakan di The Waterhole Live Music Bar dan Maloe Melo Blues Cafe – Amstedam tidak dapat terlaksana karena waktu yang terbatas, mengingat Sandhy harus kembali ke Berlin pada 13 September untuk kemudian terbang kembali ke Indonesia untuk memenuhi kontrak pertunjukan lainnya. Baik Novi Dijk maupun Sandhy Sondoro sangat antusias untuk bekerja sama di masa mendatang. 
Menurut Novi, membawa musisi berkualitas dan seperti Sandhy ke berbagai venue lokal di sini bukanlah kendala besar, terutama dengan pengalaman Sandhy di panggung internasional dan jam terbang yang tinggi. 
Dengan dukungan band Asian Riff yang terdiri dari musisi berbakat seperti Didik Sucahyo (bassist Elpamas), Kasyfi Kalyasyena, Yoshua Putra, Kiki Kavestyan dan Hengky Supit penyanyi rock Indonesia yang terkenal di tahun 90’an dan vokalis group band Whizzkid, Novi berharap berharap dapat melanjutkan kolaborasi dengan Shandy Sondoro tidak hanya di Belanda, tetapi juga di negara-negara Eropa lainnya.

Sabtu, 10 Februari 2024

Elpamas Masih Eksis


            Dalam sebuah obrolan singkat saat menghadiri prosesi pemakaman jurnalis Rosihan Kailinto, meninggung tentang nasib setelah ditinggal Edi Darome yang meninggal dunia pada 30 Desember 2020, akibat penyakit yang dideritanya, gitaris Elpamas Toto Tewel tak banyak menjawab, “Kita lagi cari pemain kibor pengganti Edi Darome,” jawabnya singkat.

            Makanya begitu gembira saat ada postingan Joko Dolok di fb, Elpamas tampil digelaran kampanye sebuah partai politik. Langsung minta fotonya Elpamas dan siapa saja personilnya saat ini, Baruna (vokal), Toto Tewel (gitar), Lieyandi (bas), Rush Tato (dram) dan Andi Gomez (kibor).

            Sejarah grup band rock yang yang berdiri tahun 1983 dan sering diplesetkan “Elek-elek Pandaan Mas”, diambil dari nama toko elektronik “Elektronik Payung Mas” milik Anthony sekaligus sebagai penyedia peralatan band Elpamas.

Bersamaan digelarnya Festival Rock se-Indonesia I (1984) yang digelar Log Zhelebour, Elpamas formasi Dullah Gowie (vokal), Didik Kompol (gitar), Didik Sucahyo (bas), Toni (dram) dan Isom (kibor), berhasil meraih juara ketiga.

Baru di festival rock tahun 1985, Elpamas dengan formasi Dullah Gowi (vokal), Toto Tewel (gitar), Didik Sucahyo (bas), Edi Darome (kibor) dan Rush Tato (dram) berhasil merebut juara pertama, dan untuk kedua-kalinya Toto Tewel kembali mendapatkan predikat sebagai the best guitarist.

Disusul tahun berikutnya, Elpamas kembali mengikuti festival rock yang digelar Log Zhelebour, dan harus puas menduduki peringkat dua dibawah Grass Rock (Surabaya) terpilih juara pertamanya. Lagi-lagi untuk ketiga-kalinya Toto Tewel terpilih  sebagai the best guitaris.

            Bersamaaan dengan terjunnya Log Zhelebour ke dunia rekaman di bawah bendera Logiss Record, kemudian ia menawari Elpamas masuk dapur rekaman. Berformasikan Baruna Priyotomo (vokal), Toto Tewel (gitar), Didik Sucahyo (bas), Rush Tato (dram) dan Edi Darome (kibor), lahirlah debut album perdana bertitel Untukmu Generasiku (1989), dengan hits-nya Dinding-Dinding Kota, Untukmu Generasiku dan Dunia. 

            Tahun 1991, Elpamas merilis album keduanya bertitel Tato. Di album ini posisi vokalis dijabat oleh Doddy Keswara. Album cukup meledak di pasaran dengan lagu hits komersilnya berjudul Pak Tua, ciptaan Pitat Haeng alias Iwan Fals.

            Di saat sedang mempersiapkan diri masuk studio untuk ketiganya, Doddy Keswara mengundurkan diri. Digaetlah Ecky Lamoh, mantan vokalis Edane yang sebelumnya pernah gabung di Elpamas saat mendampingi God Bless saat promo tur Semut Hitam (1988) di 35 kota Indonesia. Di album Bos (1993), Ecky menyumbang dua lagu Set Up dan Melancoly Blues.

            Tahun 1997, Elpamas merilis album keempat bertitel Negeriku. Di album ini posisi vokalis kembali dipegang Doddy Keswara yang sebelum juga mengisi vokal di Tato (1991). Berikutnya, tahun 2000, Elpamas kembali merilis album kelima berjudul Dongeng yang diambil dari salah satu lagu gacoannya ciptaan Edi Darome liriknya ditulis Alex Palit.

Usai merilis album kelimanya ini, Didik Sucahyo hijrah ke Belanda. April 2003, Elpamas merilis album 60Km/Jam dengan personel Toto Tewel, Tato, Edi Daromi, Harto, Decky Sompotan dan Amiroez (vokal).

Sudah tentu dengan tampilnya kembali di atas panggung, menunjukkan eksisitensinya  bahwa Elpamas masih eksis.

 

Alex Palit, jurnalis penulis buku Sejarah musik “Festival Rock se-Indonesia I – X Log Zhelebour”.