Cari Blog Ini

Selasa, 27 Mei 2025

“Rock Humanisme Ian Antono – Maestro Rock Indoensia” : Apa Itu Rock Humanisme?


 

musik, di dalamnya sering diidentikkan dengan budaya pemberontakan yang dicirikan sebagai ungkapan perlawanan terhadap ketidakpuasan akan kondisi yang ada. Rasa ketidak-puasan itu salah satunya mereka ekspresikan lewat musik yaitu rock. Budaya pemberontakan ini merupakan hal tak terpisahkan dari sejarah lahirnya rock. Itulah sejatinya rock, itulah fitrah rock.

Adapun humanisme yang asal katanya dari humanis adalah sebutan diperuntukkan bagi mereka yang mendambakan dan memperjuangkan bagi terwujudnya pergaulan hidup berdasarkan nilai-nilai perikemanusiaan.

Pemahaman “Rock Humanisme” dalam bahasan ini mengacu pada sebuah paradigma pikiran atau pergumulan bagai-mana memperjuangkan dengan menempatkan dihormatinya harkat dan martabat manusia. Jadi istilah “Rock Humanisme” yaitu bagaimana menempatkan budaya rock sebagai bagian pergumulan memperjuangkan dihormatinya nilai-nilai harkat dan martabat manusia dalam pergaulan hidup. 

Di tengah terjadinya krisis humanisme yang melanda berbagai aspek kehidupan kemanusiaan, menurut penulis, bahasan ini tetap relevan untuk diangkat dan diketengahkan.

Masih pentingkah semua ini? Tinggal bagaimana kita me-maknai, menempatkan dan menterjemahkan teks “Rock Huma-nisme” di tengah realitas kehidupan yang ada saat ini.

Karena bukan tidak mungkin di antara nada-nada lirik lagu itu sendiri sejatinya merupakan nyanyian syair kehidupan sebagai ungkapan ekspresi yang didalamnya mengandung ragam kisah, pesan, harapan, atau bahkan kritik sosial yang berkecamuk dalam diri sang musisi atau pencipta lagu. Atau hal tersebut juga yang sedang kita rasakan sendiri, atau bahkan realitas kehidupan itu sendiri yang ada di tengah kehidupan masyarakat.  

“Rock Humanisme Ian Antono – Maestro Rock Indoensia” : Ian Antono di Mata Alex Palit


 

porostoday.id, Jakarta Sebagai jurnalis musik, penulis sangat interest, bahkan mengagumi karya musik Ian Antono, utamanya dengan lirik lagu bertema humanisme. Mengingat sampai saat ini belum banyak – atau belum ada – buku yang mengupas dan mengulas secara tematis dan mendalam lirik-lirik lagu rock yang terhubung dengan tema humanisme, itu yang kemudian mendasari penulisan buku “Rock Humanisme Ian Antono – Maestro Rock Indonesia”.

Di sini penulis diingatkan pada sebuah esai “Seniman dan Zamannya” filsuf eksistensialis Albert Camus, secara kritis dan tajam mengulas apa itu seni dan peran seniman dalam kehidupan di zamannya dan di setiap zaman. Bahkan disebutkan bahwa seni, seperti pemberontakan. Ia juga mempertanyakan, sebagai seni-man apakah “Anda” telah memilih peran sebagai “saksi”?

Dalam penulisan, setiap penulis pasti punya perspektif tersendiri dalam mengangkat judul, topik, bahasan maupun inter-pretasi, dan menuliskannya berdasar amatan kaca mata penulis.   

Sebagai jurnalis yang mengenal baik secara personal sang musisi, di buku ini, penulis menempatkan perjalanan jurnalistik-nya, jepretan kisah di balik berita apa dan siapa sosok Ian Antono, atau boleh dibilang; Ian Antono di mata Alex Palit.

Bagi penulis, musisi atau pencipta lagu itu tak bedanya dengan jurnalis, keduanya sama-sama pewarta. Kalau musisi atau pencipta lagu mengekspresikan amatannya lewat bahasa musik, lagu atau nyanyian, sedang jurnalis dengan bahasa jurnalistik da-lam mengemukakan kesaksiannya.

Begitupun, guna mendapatkan pemahaman lebih utuh ten-tang apa itu musik tidak cukup hanya dinikmati sebagai sekedar hiburan semata, sebab musik itu sendiri adalah bahasa ekspresi yang memang harus diterjemahkan. Estetika saja tidak cukup un-tuk menerangkan musik itu secara utuh perlu diberlakukan kai-dah-kaidah atau bingkai metodologis untuk mendasarinya.

“Rock Humanisme Ian Antono – Maestro Rock Indoensia” : Sebuah Catatan Jurnalistik


porostoday.id, Jakarta Sebagai jurnalis, saya tergolong suka menyimpan dan mendokumentasikan artikel yang pernah saya tulis kala jadi wartawan pe-liput musik era media cetak atau saat menulis di media online sebagai citizen jurnalis. Ter-nyata cukup banyak file tulisan musik, salah satunya artikel Ian Antono.

Sayang rasanya kalau tulisan tersebut tercecer berserakan. Dari situ kemudian ter-besit untuk mengumpulkan dan membukukan dalam bingkai sebuah catatan jurnalistik. Di mana semua itu dengan satu maksud dan tujuan yaitu sebagai dokumentasi pribadi, sebagai kenangan, sebagai koleksi, sebagai lembaran sejarah; aku menulis maka aku ada.

Kalau pendiri Harian Kompas Jakob Oetama mengata-kan; menulis buku adalah mahkota seorang wartawan, sedang sastrawan dan novelis Pramoedya Ananta Toer; menulis adalah bekerja untuk keabadian. Bagi penulis, menulis buku sebagai wu-jud aktualisasi diri; saya pernah jadi wartawan.

Itulah keutamaan yang terbesit dibenak saat hendak me-nulis buku. Tak terkecuali ketika terinspirasi hendak menulis buku sebuah catatatn jurnalistik seniman dan zamannya “Rock Humanisme Ian Antono – Maestro Rock Indoensia”.