“Lex, kamu, aku masukkan ke WAG Vokalis Rock Indonesia” kata Ecky Lamoh,
mantan vokalis grup rock Elpamas dan Edane. Siap, jawabku singkat, mantap. Dan
saya pun senantiasa monitor, sekali-kali ikut komentar di WAG tersebut. Sebagai
jurnalis penyuka musik, asyik juga VRI.
Tapi buat aku intinya bukan persoalan
gabung di WAG VRI. Sebagai penyuka musik, khususnya rock, terus terang saya
apresiatif dengan tiga untaian kata; vokalis, rock dan Indonesia. Karena tiga
untaian kata ini secara termonologis punya muatan makna kata yang begitu gahar
dan filosofis.
Kita sering dengar ucapan yang ditujukan
kepada anggota DPR, bahwa sebagai wakil rakyat adalah vokalis, yaitu harus
vokal menyuarakan kepentingan rakyat. Setidaknya begitu pula halnya dengan VRI,
sebagai vokalis rock juga harus vokal menyuarakan kebenaran.
Kalau dalam dunia jurnalistik, ada
istilah bahwa takdir seorang jurnalis harus berani menjadi wacthdog yaitu sebagai anjing penjaga yang bersikap kritis terhadap
kekuasaan, atau siap menggonggong terhadap kepincangan sosial atau atas
terjadinya dehumanisasi. Itu inti filosofi vokalis rock.
Dalam perspektif kebudayaan, citra rock
itu sendiri pada intinya diidentikkan dengan spirit perubahan, pendobrakan atau
perlawanan terhadap segala bentuk dehumanisasi. Lewat nyanyian kritisnya, rock
akan selalu tampil memainkan peran perlawanan budaya mengungkap beragam persoalan yang terjadi di
masyarakat, seperti pelanggaran hak asasi, ketidakadilan, kesewenang-wenangan,
penyalahgunaan kekuasaan, atau kepincangan-kepincangan sosial lainnya. Dan itu
sejatinya rock.
Dan sebagai pengibar rock, apakah itu “Vokalis
Rock Indonesia” atau grup band yang mengaku beraliran rock atau pengibar rock
tidak mengingkari apa itu sejatinya spirit dan filosofi rock itu sendiri.
Kalaupun rock
itu sendiri selalu disimbolisasikan dengan semangat kebebasan. Kebebasan inilah
yang selalu tetap berkobar menggerakkan dan menghidupkan daya hidup rockers. Termasuk kebebasan memerdekakan
diri dari segala bentuk jebakan ideologi kepentingan politik pragmatis yang
berseberangan spirit rock itu sendiri.
Soal apakah
pada hari ini rock n’ roll is dead, sudah dijebak dalam kepentingan politik pragmatis kekuasaan yang
berseberangan dengan spirit rock itu sendiri, pada akhirnya semua
itu berpulang kembali pada diri masing-masing rockers-nya sebagai
pengibar rock.
Saya yakin
bahwa rock not dead, rock never die, rock tetap hidup. Kalaupun kemudian
dibilang rock n’ roll is dead jangan-jangan justru malah rockers-nya
itu yang telah “bunuh diri”?
Pastinya dengan
satu harapan, kita berharap semoga spirit radikalisme rock itu tidak mati,
dibunuh atau dibungkam oleh kekuasaan politik. Dan tetap hidup menghidupi para
jiwa-jiwa berjiwa rock. Ia akan tetap kritis menjadi budaya tanding, budaya
perlawanan terhadap segala bentuk dehumanisasi. Itu sejatinya fitrah rock!
Dan saya yakin
seyakinnya bahwa citra, fitrah dan spirit rock akan tetap hidup di setiap jiwa
sanubari teman-teman vokalis rock di VRI.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar