Saat tampil sebagai pembicara di jumpa
pers peluncuran album “Perahu Retak”
– Franky Sahilatua (1996), KH Abdurrahman Wahid yang akrab disapa Gus Dur
menegaskan bahwa musik bisa ditempatkan lebih terhormat dari sekadar sebagai
hiburan. Melainkan juga bisa ditempatkan sebagai pilar kelima demokrasi yaitu
sebagai kontrol sosial.
“Melalui peran kritisnya, musik juga
dapat berfungsi berperan sebagai kontrol sosial,” ungkap Gus Dur. Fungsi
kontrol ini sekaligus menjadi kritik seni untuk mengungkap beragam persoalan
yang terjadi di masyarakat, seperti pelanggaran hak asasi, kepincangan sosial,
ketidakadilan, kesewenang-wenangan atau penyalahgunaan kekuasaan. Semua ini
bisa diangkat menjadi narasi, tema lagu atau nyanyian sebagai bentuk kepekaan,
kepedulian dan tanggung jawab sosial sang seniman.


